Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 03 Agustus 2022

BMKG: Waspada Gempa dan Tsunami Selatan Jawa

Skenario terburuk: tsunami berketinggian lebih dari 10 meter. Apa mitigasinya?

INDONESIA berada di jalur gempa paling aktif di dunia. Dikelilingi gunung api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, lempeng Indo-Asia dari selatan, lempeng Eurasia dari utara dan lempeng Pasifik dari timur, kondisi ini menjadikan Indonesia wilayah yang subur. Di saat yang sama Indonesia rawan bencana letusan gunung api, gempa bumi dan tsunami. Tak terkecuali wilayah selatan Jawa.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati menjelaskan masyarakat yang tinggal di selatan pulau Jawa wajib mengetahui bahwa daerah yang mereka tinggali rawan bencana gempa dan tsunami. “Masyarakat wajib memiliki keterampilan menyelamatkan diri dan mengetahui kapan dan ke mana harus menyelamatkan diri secara mandiri dan berkelompok jika bencana terjadi,” kata Dwikorita di Cilacap, 27 Juli 2022.

Cilacap berada di garis pantai selatan Jawa yang menghadap langsung zona tumbukan lempeng Samudra Hindia dengan lempeng Eurasia. Dwikorita mengatakan hasil permodelan tsunami dengan skenario terburuk mengungkap potensi tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter di pantai Cilacap.

Potensi tsunami ini akan terjadi jika gempa berkekuatan 8,7 magnitudo terjadi pada zona megathrust dalam lempengan tersebut. “Perkiraan skenario terburuk ini bukan ramalan tapi kajian ahli dan pakar gempa,” katanya. Namun, perkiraan terjadinya bencana ini belum diketahui. “Belum ada satu pun teknologi yang mampu memprediksi terjadinya gempa,” kata Dwikorita. Sehingga, penting bagi masyarakat untuk memahami sistem peringatan dini.

Sarana dan prasarana seperti jalur evakuasi dan tempat aman harus tersedia. Terutama di kawasan padat penduduk. "Tanpa sistem mitigasi dan peringatan dini yang andal, dampak ikutan dari gempa dan tsunami di kawasan industri berpotensi memperparah intensitas kerusakan yang diakibatkan," katanya.

BMKG, kata dia, mensosialisasikan potensi bencana dan tahapan sistem peringatan dini dengan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pihak terkait dengan menggelar sekolah lapang gempa (SLG). SLG rutin digelar di titik-titik rawan gempa bumi dan tsunami untuk melatih pihak terkait  mengelola risiko dan bencana.

Sebanyak 80% kejadian tsunami terjadi di area cincin api yang merupakan zona subduksi, sehingga Indonesia sangat rentan mengalami gempa bumi dan tsunami. Ketika dua lempeng bertubrukan secara vertikal, air di lautan akan bergerak membentuk gelombang ke segala arah untuk mendapatkan posisi seimbang pasca tubrukan dua lempeng itu.

Kata "tsunami" berasal dari bahasa Jepang. Yaitu dari kata "tsu” yang berarti pelabuhan dan "nami" yang bermakna ombak atau gelombang. Tsunami bisa diterjemahkan sebagai rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 kilometer per jam, terutama diakibatkan oleh gempa yang terjadi di dasar laut.

Bencana tsunami bisa sangat mematikan. Pada 26 Desember 2004, gempa bumi dengan kekuatan 9 magnitudo di kedalaman 30 kilometer sebelah barat daya Aceh membangkitkan gelombang tsunami.

Gelombang ini menjalar ke segala arah dari pusat tsunami dan menyapu Aceh dan Sumatera Utara dengan kecepatan antara 15-40 kilometer per jam. Tinggi gelombang dari 2-48 meter. Dalam tiga jam setelah gempa, negara-negara di kawasan Samudera Hindia juga terhempas tsunami. Dari Thailand hingga Sri Lanka. Korban jiwa dari Indonesia mencapai 250.000 orang.

Tanda-tanda terjadinya tsunami yang diawali dengan gempa bumi, diawali dengan surutnya laut secara tiba-tiba, hingga dasar laut terlihat. Jika ini terjadi, segera berlari menuju tempat yang tinggi sembari memberitahukan kepada semua yang ada di jalan.

Sementara jika berada di dalam perahu atau kapal, peringatan tsunami harus dilanjutkan dengan mengarahkan perahu ke laut, bukan ke pantai. Gelombang kedua dan seterusnya bisa lebih besar dari gelombang pertama. Pertolongan pertama hanya bisa dilakukan ketika gelombang benar-benar reda.

BMKG memiliki sistem peringatan dini berupa buoy (alat untuk mengamati ketinggian tsunami di laut) dan tide gauge (alat untuk mengamati pasang surut di pantai).

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain