Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|16 Juni 2022

Asal-Usul Black Death Terkuak

Pandemi paling mematikan dalam sejarah. Virus sampar membunuh 60% penduduk bumi.

SEBAGAI mahluk hidup, virus punya nenek moyang dan keturunan. Hipotesis ini telah menjadi dasar para ilmuwan melacak pandemi-pandemi paling mematikan dalam sejarah umat manusia, seperti Black Death—yang membunuh 70-200 juta jiwa atau hampir 60% penduduk bumi pada 1346-1353.

Pandemi Black Death terjadi akibat infeksi virus Yersinia pestis. Nama virus ini diambil nama penemunya, Alexandre Yersin, peneliti bakteri berkebangsaan Swiss/Prancis yang bekerja untuk Pasteur Institute. Yersin menemukan virus ini pada 1894 ketika meneliti wabah sampar di Hong Kong. Sejak itu, penelusuran asal-usul Y. pestis sebagai penyebab Black Death menjadi proyek penelitian besar-besaran.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Nature pada 15 Juni 2022 coba melacak asal-usul Black Death. Para peneliti menyimpulkan, wabah ini meluas di mulai dari Asia Tengah, Asia Barat, lalu merambah Afrika Utara, kemudian ke Eropa. Penyebaran virus yang dibawa tikus ini seiring okupasi pasukan Mongol menaklukkan kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut. 

Virus Y. pestis menular lewat gigitan kutu tikus atau kontak dengan cairan yang mengandung mahluk mikro ini. Selain tikus, hewan pengerat seperti tupai, kelinci, bajing, dan kucing bisa menjadi hewan perantara penularan flu berat ini.

Sampar pernah melanda Indonesia di Kepanjen, Jawa Timur, pada 1910. Dokter Tjipto Mangunkusumo menjadi salah satu dokter yang berjasa menyetop penyebarannya. Wabah sampar di Jawa Timur menular setelah jalur kereta Malang-Surabaya dibuka.

Jalur-jalur perdagangan dan lalu lintas manusia menjadi perantara paling manjur dalam penyebaran wabah. Ini pula kesimpulan para peneliti asal-usul Black Death. Maria A. Spyrou, dari University of Tübingen, Jerman, yang memimpin studi ini, mengatakan pusat sampar Black Death adalah wilayah Kyrgyzstan, negara yang berbatasan dengan Kazakhstan di utara, Uzbekistan di barat, Tajikistan di selatan, dan Cina di timur.

Di sini para peneliti menemukan tiga makam yang diduga korban sampar Black Death. Tujuh jenazah itu mengkonfirmasi DNA Y. pestis. Makam tersebut digali pada 1880-an dan tulang belulangnya dipindahkan ke St. Petersburg di Moskow, Rusia.

Spyrou memastikan bahwa DNA Y. pestis dari jenazah tersebut memiliki garis keturunan hingga virus Y. pestis di jasad pasien yang meninggal oleh sampar pada 2011 di London, Inggris. Para peneliti menyebut ada ledakan besar virus Y. pestis di Kyrgyzstan, seperti ledakan pelbagai varian Covid-19 yang bermula di Wuhan, Tiongkok, yang menyebar dengan pelbagai varian ke seluruh dunia.

Bukti lain virus Y. pestis penyebab Black Death dari Asia Tengah adalah strain virus ini pada sampel marmut dan hewan pengerat lainnya di Kyrgyzstan, Kazakhstan, dan Xinjiang di barat laut Cina, tepatnya di sekitar pegunungan Tian Shan. Pegunungan ini paling dekat dengan Kara-Djigach, lokasi makam korban sampar yang diteliti.

Para peneliti menduga virus sampar awalnya ditularkan oleh marmut. Virus ini lalu menyebar menjadi wabah di Kyrgyzstan. Tubuh manusia kemudian mengembangkan wabah melalui kutu sebelum menginfeksi manusia lain. Ketika manusia bepergian, virus menyebar dan menginfeksi tikus yang menjadi sumber penularan sampar di Eropa.

Tian Shan berada di jalur perdagangan Jalur Sutra kuno, jalur perdagangan yang menjadi pertemuan Asia, Eropa, dan Afrika. Di kuburan-kuburan Kyrgyzstan, para peneliti menemukan pelbagai barang perdagangan seperti mutiara Samudera Hindia, karang Mediterania, dan koin mata uang asing. “Perdagangan, baik jarak jauh maupun regional, memainkan peran penting dalam menyebarkan patogen,” kata Philip Slavin, sejarawan ekonomi dan lingkungan di Universitas Stirling, Inggris, yang menjadi penulis studi tersebut kepada Nature.

Penelitian virus penyebab pandemi tak selalu berhasil melacak asal-usulnya. Banyak hipotesis tentang sumber virus Flu Spanyol pada 1910 yang menewaskan 50 juta orang. Ada ahli yang menghubungkannya dengan kematian massal hewan laut yang menjadi makanan burung akibat kenaikan suhu bumi.

Jalur perdagangan darat (garis putus) dan jalur perdagangan laut pada abad 14 (peta oleh O.J. Benedictow vis Wikipedia)

Seratus tahun sebelum Flu Spanyol, Eropa memulai Revolusi Industri. Emisi pembakaran batu bara untuk menghidupkan mesin-mesin pabrik telah menaikkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sehingga suhu bumi naik. Kenaikan suhu bumi membuat hewan laut di Cina sakit lalu dimakan burung yang bermigrasi ke laut Spanyol yang teduh. Burung lalu menginfeksi para prajurit dalam Perang Dunia I.

Obat flu baru ditemukan sepuluh tahun kemudian. Tapi flu menjadi pandemi yang kian sering setelah itu. Jika kepastian asal-usul Black Death baru ditemukan tujuh abad kemudian, tak mengherankan jika para ahli kesehatan masih belum mengetahui secara pasti asal-usul Covid-19 di Wuhan pada akhir 2019. 

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain