Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|25 Mei 2022

Baja Hijau yang Ramah Lingkungan

Di era krisis iklim, produksi baja harus nol emisi. Kini sedang berkembang baja hijau.

GEDUNG pencakar langit, mobil, sepeda motor, jembatan, hingga mesin cuci mengandung baja. Sejak produksi besi murah dikembangkan di Inggris tahun 1850 oleh inventor Henry Bassemer, baja telah menjadi ciri dunia modern. Karena itu membuat krisis iklim. Karena itu kita perlu baja hijau atau green steel.

Apa itu baja hijau? Pada dasarnya baja hijau adalah baja yang diproduksi menghasilkan emisi rendah. Selama ini, menurut World Economic Forum, industri baja dunia menyumbang 7-8% emisi global dari produksi tahunan 51 miliar ton setara CO2. Itu karena bahan bakar pembuatannya, listrik yang menjadi energinya, bersumber dari energi fosil. Cina, misalnya, menghasilkan 2 ton emisi CO2 dari tiap ton baja yang mereka produksi.

Ketika dunia berpaling pada mitigasi krisis iklim, yakni mencegah suhu bumi naik 20 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850, sesuai Perjanjian Paris pada 2030, jumlah emisi harus diturunkan minimal separuhnya. Sama dengan target global ini, menurut International Energy Agency, industri baja juga harus menurunkan produksi emisi hingga setengahnya jika ingin berkontribusi pada mitigasi krisis iklim.

Tahun lalu, produsen baja di Swedia utara, Hybrit, memulai proyek pionir memproduksi baja hijau untuk memasoknya ke Volvo. Jika berhasil, Volvo akan memproduksi mobil secara komersial memakai baja hijau pada 2026.

Herbert Lubis, anggota Dewan Ahli Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, sudah lama mengamati perkembangan baja hijau yang sedang tren di dunia. Menurut dia, baja hijau atau green steel merupakan konsep produksi baja dengan mengganti batu bara sebagai sumber energi dengan energi terbarukan. “Sehingga emisinya bisa rendah atau minim,” kata dia pada 24 Mei 2022.

Secara tradisional sejak 1850, proses pengelolaan baja membutuhkan proses yang panjang, mulai dari pemilahan bijih besi hingga menjadi baja. Sepanjang proses itu, peleburan membutuhkan energi panas dari batu bara yang cukup besar.

Kini ada beberapa cara baru memproduksi baja hijau yang rendah emisi. Salah satunya teknologi yang memakai proses kimia yang disebut Molten Oxidate Electrolysis (MoE) atau elektrolisis oksida cair 

Pembuatan baja memakai MoE menggunakan energi listrik atau elektron untuk memecah bijih besi menjadi besi dan oksida cair. Teknologi ini ditemukan oleh Donald Sadoway, ahli material kimia dari Massachusetts Institute of Technology, universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Donald Sadoway (kiri) dan Herbert Lubis selepas berdiskusi mengenai baja hijau (Foto: Dok. Herbert Lubis)

Sebenarnya MoE adalah proses kimia sederhana. Sadoway menggerus karbon dalam reaksi bijih besi di skala laboratorium. Ia mengklaim proses produksi bijih besi menjadi baja itu tak menghasilkan karbon sama sekali. Karena itu bajanya disebut baja hijau.

Dengan tak menghasilkan karbon, produksi baja juga tak menyumbang gas rumah kaca ke atmosfer. “Teknologi ini memotong banyak dalam proses pembuatan besi tradisional,” kata dia.

Pertanyaannya adalah apakah baja hijau menjadi mahal karena produksinya memakai energi terbarukan yang belum massal? Hybrit, misalnya, memperkirakan harga baja yang memakai hidrogen akan 20-30% lebih mahal dibanding memakai batu bara.

Menurut Herbert, dengan memakai MoE, justru biaya produksi akan lebih murah karena memangkas banyak tahap produksi dalam pembuatannya. Ia membandingkan produksi baja secara tradisional yang membutuhkan investasi miliaran dolar Amerika, sementara MoE hanya jutaan dolar.

Bagaimana dengan kualitasnya? “Tidak jauh beda dibanding metode pembuatan baja secara tradisional,” katanya.

Saat ini perusahaan yang menerapkan teknologi MoE untuk memproduksi baja hijau adalah Boston Steel. Bill Gates, dalam Gates Notes, menulis usaha Boston Steel melakukan dekarbonisasi industri baja dengan mengubah teknologi mereka. “Sama kuat dan lebih murah,” tulis Gates.

Di Indonesia, produksi baja hijau masih tahap pembahasan, masih jadi isu, bahan omong-omong. Energi terbarukan Indonesia masih tersisih dalam program dan kebijakan energi nasional. Akibatnya, industri berat belum terpikir mengubah teknologi mereka menjadi lebih ramah lingkungan.

Indonesia menargetkan bisa menurunkan emisi 29% dengan usaha sendiri pada 2030. Target yang disebut Climate Tracker “tak memadai” ini mendapat rongrongan dari UU Cipta Kerja yang mendorong investasi energi fosil. Walhasil, Indonesia belum akan memiliki baja hijau dalam waktu dekat. “Ini memang butuh kemauan politik,” kata Herbert.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain