Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|24 Mei 2022

Gajah Sumatera di Aceh Kian Menipis

Lima individu gajah Sumatera mati di Aceh sejak awal tahun. Perburuan dan konflik gajah-manusia terus meningkat. 

GAJAH mati meninggalkan gading. Tapi, di Desa Bunbun Indah, Aceh Tenggara, gajah Sumatera mati kehilangan gading.

Seekor gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan berusia 10 tahun ditemukan mati oleh anggota Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, di desa itu, pada 10 Mei 2022. Sebagian tubuhnya yang berbobot 2-3 ton itu terkubur, sebagian lagi ditutupi terpal. Tanpa gading.

Rongga gading menganga. Seseorang telah mengamputasinya. Bagian peritonium (isi perut) dan rongga dada gajah itu juga sudah terburai keluar. “Ini dugaan agar proses pembusukan lebih cepat," demikian catatan nekropsi petugas BKSDA. Gajah tersebut diperkirakan sudah mati pada 4 Mei 2022.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto menyebutkan Desa Bunbun Indah berada di luar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan lokasinya sangat terpencil. Tim medis BKSDA Aceh berangkat pada tanggal 10 Mei sore, tetapi baru bisa melakukan proses nekropsi pada 12 Mei 2022.

“Jaraknya jauh, akses jalan dan medannya sulit, mobil terhambat untuk menuju lokasi tersebut," kata Agus pada 20 Mei 2022. Saat itu, juga hujan. Tim medis sempat menginap semalam sebelum sampai di sana."

Gajah jantan itu diduga mati tersengat listrik jika merujuk hasil nekropsi secara makroskopis. Sekitar dua meter dari mayat gajah liar itu ditemukan kabel listrik yang berada dekat ladang jagung.

Dwi Adhiasto, ahli perdagangan gelap satwa liar, menyebutkan bahwa pembunuh gajah bisa jadi pemburu yang mengincar gading, bisa juga penyebabnya konflik dengan manusia. “Masyarakat yang oportunis bisa saja menjual gading itu. Sebab, pasar gading gajah masih tinggi peminatnya,” kata Dwi saat dihubungi pada 21 Mei lalu.

Menurut Dwi, temuan kondisi gajah mati yang ditutupi terpal ini merupakan pola yang baru. “Biasanya untuk kasus gajah, kematian itu sering kali tidak ketahuan,” katanya. Area kematian gajah biasanya terpencil, sehingga jarang terekspos. “Ketika diketahui ada gajah mati, biasanya tinggal tulang belulang, jadi sulit menghitung kematian gajah,” katanya.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia, Donny Gunaryadi membenarkan modus membunuh gajah. “Lokasi kematian seringkali remote, dan potensi konflik manusia-gajah sangat tinggi,” katanya. Donny menjelaskan banyak kawasan ekonomi essensial (KEE) yang merupakan rute koridor gajah beralih menjadi perkebunan dan perkebunan.

Gajah akan selalu berjalan di teritorialnya sendiri. Dia membuka jalan di hutan. Ingatannya juga kuat sehingga dia akan kembali melalui jalan itu. "Sementara, banyak penduduk kini membangun rumah, kebun dan sawah di area perlintasan gajah," kata Donny. Akibatnya konflik gajah dan manusia tak terhindarkan.

Seekor gajah Sumatera dewasa perlu makan setidaknya 200 kilogram atau 5-10% dari berat badannya setiap hari. Kalau gajah sampai masuk ke sawah, dia tak akan berhenti makan sampai dia kenyang. Pemilik sawah dipastikan merugi dan memicu konflik dengan gajah.

Donny berharap penegak hukum lebih serius menangani kasus kematian gajah Sumatera di Aceh Tenggara. “Jangan karena ada kabel disimpulkan bahwa penyebabnya pasti listrik,” katanya. Sebab, bisa jadi penyebab kematian gajah adalah racun. Soalnya, ada usaha pembunuhnya membuka rongga dada dan perut. Uji toksikologi bisa membuktikan dugaan ini.

Aceh seharusnya menjadi salah satu lokasi paling aman bagi gajah Sumatera. Di Provinsi ini ada hutan Leuser yang kerap disebut sebagai hutan terakhir dan terbaik di pulau Sumatera.

Gajah membutuhkan minimal 250 kilometer persegi hamparan hutan yang tidak terputus dan memiliki preferensi rute sendiri sebagai habitat mereka. Jadi, meskipun Taman Nasional Gunung Leuser memiliki luas7.927 kilometer persegi, gajah memiliki rute tersendiri yang bisa jadi keluar masuk taman nasional.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan FKGI, kawasan Aceh Tenggara merupakan hutan yang terfragmentasi akibat alih fungsi lahan dan perambahan hutan. “Persoalan lainnya, KEE gajah bisa jadi memiliki fungsi berbeda dalam rencana tata ruang,” kata Donny.

Sejak awal tahun, setidaknya ada lima ekor gajah yang mati di Aceh.

 
No Individu Gajah Tanggal Lokasi Dugaan penyebab Gading/Caling
1 Gajah Jantan (10-12 tahun) 20/02/2022 Hutan Produksi Kecamatan Nisam, Aceh Utara Bekas tusukan ditemukan pada bagian dada, perut, pangkal paha dan dekat mata. (Dugaan pasca nekropsi: bertarung sesama gajah) Gading ada
2 Bayi gajah betina 21/02/2022 Sungai Cot Seutui, Kecamatan Mila, Pidie Diduga mati saat lahir Caling belum tumbuh
3 Gajah betina (30 tahun) 27/02/2022 Desa Lamtamot, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Infeksi bagian perut akibat tonggak kayu Caling ada
4 Anak gajah jantan 30/04/2022 Desa Peunaron Lama, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur Kaki terjerat Gading belum tumbuh
5 Gajah jantan (10 tahun) 04/05/2022 Desa Bunbun Indah, Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara Tersetrum listrik tegangan tinggi  Gading hilang

 Sumber: Berbagai sumber (diolah)

Angka kematian gajah Sumatera di Aceh mengkhawatirkan. Saat ini, Aceh merupakan rumah bagi 500 populasi gajah dari 1.000-1.300 individu gajah liar yang diperkirakan ada di Sumatera (data 2019). Angka ini turun drastis bila dibandingkan dengan populasi gajah pada 2007 yaitu sebanyak 2.400-2.800 individu gajah liar di Sumatera.

Di Aceh, usaha memantau kawanan gajah dilakukan dengan pamasangan GPS Collar. Terutama pada tujuh kelompok besar. LSM bersama BKSDA juga mengawasi tempat-tempat perlintasan gajah yang berpotensi mendorong konflik. "Forum Konservasi Leuser (FKL) sudah jalan memantau area konflik, tapi ya kadang-kadang lolos juga," kata Donny.

Menurut Agus, cara terbaik mencegah konflik gajah-manusia adalah mencegah gajah sebelum masuk ke persawahan. “Bisa dengan kawat kejut (power fencing), membangun parit (barrier),” katanya. Agus mengatakan BKSDA bersama LSM menggelar sosialisasi KEE gajah di kawasan rawan konflik gajah-manusia.

Gajah Sumatera merupakan subspesies gajah yang berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN, satu langkah lagi menuju punah di alam liar. Gajah membutuhkan ruang gerak besar dan makanan yang banyak. Habitatnya makin menipis akibat diokupasi oleh manusia menjadi perkebunan, persawahan, permukiman. Manusia tak bisa berbagi ruang dengan satwa liar.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain