Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|23 April 2022

Taylor Swift Jadi Nama Spesies Baru Kaki Seribu

Spesies ini ditemukan dan dideskripsikan bersama 16 spesies baru lainnya. Berasal dari Tennesse—negara bagian tempat kelahiran Taylor Swift.

PEMBERIAN nama aktor dan orang terkenal untuk satwa atau tumbuhan baru semakin menjadi tren. Setelah Shakira, Lady Gaga, dan Leonardo DiCaprio, kini nama Taylor Swift menjadi nama kaki seribu.

Penyanyi sekaligus penulis lagu popular seperti “Blank Space,” dan “Shake if off,” itu menjadi nama spesies baru kaki seribu, yaitu Nannaria swiftae. Para peneliti dari Virginia Polytechnic Institute and State University menemukan kaki seribu Nannaria swiftae, bersama dengan 16 spesies kaki seribu lainnya yang baru diketahui dan dideskripsikan.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Zookeys edisi 18 April 2022. Kaki seribu yang termasuk dalam genus Nannaria adalah kaki seribu bertubuh kecil yang tersebar di Amerika Utara bagian timur.

Kaki seribu ini memiliki kekhasan pada cakar bengkok dan pipih pada kaki depan mereka. Kaki seribu genus ini biasanya berwarna cokelat kastanye hingga hitam dengan pola sepasang bintik oranye atau merah. Ada juga yang memiliki bintik-bintik putih atau garis-garis, meski jarang sekali.

Sebelumnya, Nannaria banyak ditemukan dalam bentuk koleksi di museum, sehingga para peneliti menduga bahwa masih banyak spesies baru yang belum diberi nama dan dideskripsikan. Tiga peneliti, Derek Hennen, Jackson Means dan Paul Marek, lalu memulai proyek multi tahunan ekstensif untuk mengurutkan spesies DNA dalam genus Nannaria.

Dalam proyek ini mereka mengumpulkan spesimen dari wilayah Amerika Serikat bagian timur. Sebagian besar mereka ambil dari daun-daun yang membusuk dan di bawah pohon dan batu. 

Nannaria merupakan invertebrate yang memiliki peran berharga sebagai pengurai. Mereka hidup di lantai hutan dan melepaskan nutrisi ke dalam ekosistem. Saat mereka memakan daun gugur yang membusuk, kaki seribu memecah bahan organik untuk membantu dekomposisi. Menurut para peneliti, seringkali hewan artropoda penggali ini benar-benar terkubur di dalam tanah, membuat mereka sulit untuk ditemukan dan ditangkap.

Usai mengumpulkan sebanyak 1.835 spesimen kaki seribu, para peneliti mendeskripsikan 17 spesies baru, di antaranya Nannaria marianae (berasal dari nama istri Kepala Peneliti Derek Hennen) dan Nannaria swiftae (dari nama penyanyi Taylor Swift).

Nannaria swiftae berasal dari Negara Bagian Tennessee—yang juga negara bagian tempat kelahiran Taylor Swift. “Sampelnya diambil dari wilayah Cumberland, Monroe, dan Van Buren,” kata para penulis dalam jurnal tersebut.

Derek Hennen memberi nama Nanaria Swiftae sebagai bentuk penghargaannya kepada sang biduan. “Musiknya membantu saya melewati suka dan duka di sekolah pascasarjana. Jadi memberi nama spesies ini dengan namanya adalah cara saya mengucapkan terima kasih,” katanya.

Sejauh ini memang ada tren memberikan nama spesies baru berdasarkan nama pesohor. Seperti Aeiodes shakirae, tawon parasit yang ditemukan pada 2014 ini diberi nama berdasarkan nama penyanyi Shakira. Konon, sengatan dari tawon ini bisa menyebabkan ulat inang bergetar dan bergoyang mirip gerakan tarian Shakira.

Ada juga Kaikaia gaga, wereng dengan bentuk aneh yang punya warna menyala. Peneliti Brendan Morris dari University of Illinois at Urbana-Champaign memberi nama spesies ini pada 2020. Alasan penamaan ini karena serangga pohon ini memiliki tanduk aneh yang mengingatkan dia akan gaya fashion unik Lady Gaga.

@ForestDigest

 

Tapi jawaranya adalah Leonardo Dicaprio. Nama aktor yang bermain di film Don’t Look Up ini banyak dipakai sebagai nama spesies baru. Sejauh ini ada kumbang Grouvellinus leonardodicaprioi, kumbang Metallactus dicaprioi, laba-laba Misumessus dicaprio dan laba-laba Spintharus leonardodicaprioi. Semuanya dari nama sang aktor.

Paling baru, nama aktor yang juga aktivis lingkungan ini juga dipakai untuk nama spesies Uvariopsis dicaprio, pohon yang tumbuh di hutan Ebo, Kamerun. Tak seperti alasan pada Taylor Swift, DiCaprio merajai nama hewan dan tumbuhan karena perannya dalam mengkampanyekan perlindungan lingkungan dan krisis iklim sebagai isu populer.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain