Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|22 April 2022

Praktik Pertanian Ramah Iklim

Pertanian menjadi kian pelik karena krisis iklim. Perlu praktik pertanian ramah iklim.

PERTANIAN menjadi sektor paling terdampak oleh krisis iklim. Anomali cuaca akan mengganggu siklus produksi seluruh komoditas pertanian. Tapi karena perubahan iklim tak bisa dilawan, kita perlu membuat pertanian ramah iklim. Apa itu pertanian ramah iklim?

Perubahan iklim amat kompleks. Karena ia siklus alam yang saling berhubungan satu sama lain. Tanpa pengetahuan dasar tentang perubahan iklim, para petani tidak bisa beradaptasi untuk menemukan inovasi pertanian.

Bayu Dwi Apri Nugroho, dosen pertanian dan teknik biosistem Universitas Gadjah Mada, menerangkan bagaimana pertanian Indonesia saat ini sangat rentan terhadap perubahan iklim. Pertanian, kata bayu, sangat bergantung pada cuaca karena cuaca merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap produktivitas tanaman.

Jika cuaca tidak stabil, maka produktivitas tanaman juga akan terganggu. Menurut Bayu, jika petani ditanya kenapa saat ini cuaca tidak stabil, jawabannya pasti “musim sedang tidak stabil nanti juga akan normal lagi”. 

Masalahnya tidak sesederhana itu. Musim bukan semata perubahan waktu. “BMKG menyatakan musim hujan akan memendek dan musim kemarau akan memanjang pada 2032 sampai 2040,” kata bayu dalam webinar “Peran Pertanian Cerdas Iklim dalam Mendukung Ketahanan Pangan”, 20 April 2022.

BMKG adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Konsep pertanian cerdas iklim, kata Batu, merupakan solusi untuk meminimalkan risiko sektor pertanian akibat dampak perubahan iklim itu. 

Pertanian cerdas iklim atau pertanian ramah iklim merupakan konsep kegiatan pertanian yang memadukan antara ketahanan pangan dengan mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pertanian cerdas iklim memiliki tiga pilar utama, yaitu meningkatkan produktivitas dan pendapatan pertanian secara berkelanjutan; mengadaptasi dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim; dan mengurangi dan/atau menghilangkan emisi gas rumah kaca, jika memungkinkan.

Upaya memadukan ketahanan pangan, mitigasi, dan adaptasi ini, pada praktiknya tidak mudah. Dalam satu kegiatan, pertanian hanya memungkinkan terjadinya irisan antara dua komponen dalam waktu yang bersamaan.

Bayu mencontohkan, usaha produksi pangan yang sejalan dengan mitigasi perubahan iklim, menggunakan varietas unggul agar dengan lahan yang terbatas bisa memproduksi pangan yang banyak. Artinya pertanian ramah iklim memakai intensifikasi agar tak membuka lahan yang bisa melepaskan lebih banyak emisi yang memicu pemanasan global.

Menurut Impron, dosen geofisika dan meteorologi IPB University, untuk mendukung pertanian ramah iklim para peneliti harus bekerja keras untuk melakukan pengembangan teknologi pertanian sehingga kegiatan pertanian menjadi lebih efektif dan efisien.

Pengembangan teknologi untuk implementasi pertanian ramah iklim, menurut Impron, harus mempertimbangkan aspek biaya dan keuntungan. Aspek itu akan berkaitan dengan akses masyarakat untuk menjangkau teknologi. “Sehingga pertanian cerdas iklim ini tidak hanya bicara masalah teknis saja tetapi harus melalui pendekatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat juga,” kata Impron.

Implementasi pertanian cerdas iklim ini sudah dipraktikkan secara demplot di beberapa daerah di Indonesia pada 2016. Dari pengalaman Bayu, di daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur, petani dibina untuk melakukan praktik pertanian cerdas iklim dan terjadi kenaikan produktivitas sampai 100%. “Namun ini tidak terjadi di musim tanam pertama, melainkan di musim tanam ketiga,” katanya.

Di Malang, Jawa Timur, petani bawang merah yang mendapat pembinaan bisa menaikkan produksi beras dari 8 ton per hektare menjadi 10 ton per hektare.

Selain kenaikan produksi, pemakaian pupuk juga menjadi berkurang dari 4 sak menjadi 2 sak. “Dengan bantuan teknologi itu semua itu bisa tercapai,” terang Bayu. Masalahnya, capaian-capaian pertanian ramah iklim tidak bisa dicomot-pasang untuk tiap daerah karena cuaca membuat kondisi dan adaptasi pertanian di tiap daerah menjadi berbeda-beda.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain