Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 Desember 2021

Tanaman Pertanian yang Tahan Iklim

Krisis iklim mengancaman ketahanan pangan. Guru besar IPB menyarankan menanam talas yang tahan iklim.

KRISIS iklim membuat cuaca menjadi tak menentu dan ekstrem. Salah satu dampaknya adalah mengancam pangan. Tanaman apa yang cocok di tengah krisis iklim?

Krisis iklim memicu cuaca ekstrem. Antara kekeringan dan curah hujan tinggi yang mengacaukan prediksi-prediksi ilmiah. Bila kekeringan, petani gagal panen, bila hujan terus menerus tanah menjadi basah yang membuat tanaman pertanian juga tak bisa hidup dengan subur.

Edi Santoso, guru besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, menganjurkan salah satu tanaman yang mampu tumbuh baik di berbagai kondisi adalah talas.

“Talas mudah ditanam dan cepat tumbuh,” katanya. “Talas ini juga adaptif terhadap perubahan iklim.” Talas tanaman amphibi bisa tumbuh baik di kondisi kering maupun basah.

Menurut Edi, seluruh bagian tanaman talas bisa dimanfaatkan sebagai produk turunan. Kulit talas bisa diolah menjadi etanol dan bioplastik. Olahan umbi talas berpotensi menjadi tepung, kentang, dan emulsifier.

Indeks glikemik talas, kata Edi, juga lebih tinggi dibanding beras, kentang, dan glukosa. Artinya, lebih mudah dicerna oleh tubuh dan membuat kadar gula darah naik lebih cepat.

Sampai saat ini, varietas talas yang populer adalah talas Pontianak, talas Papua dan talas pratama. Talas Pontianak sedang naik daun di pasar ekspor. Salah satu upaya untuk mengenalkan budidaya talas adalah petani belajar di Sekolah Talas di Ponorogo, Jawa Timur.

Edi mengatakan yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana memberi pengetahuan kepada petani untuk bercocok tanam dalam kondisi basah dan kering. Petani juga perlu dibantu untuk mengamati pertumbuhan talas. Soalnya, talas di lahan kering lebih rentan busuk daun dan terserang hama.

Dengan produktivitasnya yang masih rendah di tingkat petani, talas masih potensial dikembangkan dalam sisi produksi dan rantai pasok. Upaya lain yang dapat mendorong minat mengonsumsi talas dapat berbentuk agrowisata, seperti festival talas, wisata talas, atau kampung talas.

Masyarakat di Kubu Raya, Kalimantan Barat, sudah mengembangkan talas di rawa gambut dan berhasil panen. Mereka bahkan mengolahnya menjadi dodol dan pelbagai penganan komersial. Yang menggembirakan, penduduk menanam talas tanpa membakar lahannya, teknik yang biasanya dipakai untuk membuka kebun.

Dalam laporan PBB, cuaca ekstrem meningkat dari tahun ke tahun akibat pemanasan global. Bentuk turunannya yang kongkret adalah banjir, kekeringan, dan kebakaran yang naik tiga kali lipat dibanding tahun 1970-an dan 1980-an.

Pada rentang 2008 hingga 2018, dampak bencana iklim tersebut menghantam keras sektor pangan, baik itu pertanian dan perikanan, terutama di negara berkembang. Kerugian akibat kegagalan panen sekitar US$ 108 miliar atau Rp 1.500 triliun.

Ketahanan pangan salah satu yang menjadi rentan akibat krisis iklim. Pemerintah Indonesia meresponsnya dengan membangun food estate atau lumbung pangan di Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Food estate masuk ke dalam proyek strategis nasional hingga 2024. Masalahnya, food estate hendak memakai kawasan hutan yang mendorong pelepasan emisi karbon menjadi gas rumah kaca. Apalagi, total areal food estate dalam rencana pemerintah seluas 2,3 juta hektare.

Dengan daya tahannya di alam, dan produktivitasnya yang masih rendah, talas bisa dikembangkan melalui pola intensifikasi lahan pertanian, sehingga tidak memerlukan areal baru untuk mengembangkannya.

Krisis iklim tak hanya membuat bencana, ia menuntut kebijakan yang hati-hati dalam menimbang kebutuhan manusia dan perlindungan lingkungan. Talas menjadi tanaman yang cocok dikembangkan di masa krisis iklim.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain