Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|16 April 2022

10 Cara Mengurangi Ketergantungan pada Minyak Bumi

Invasi Rusia ke Ukraina akan mengganggu pasokan minyak. 10 cara menguranginya.

INVASI Rusia ke Ukraina sejak pertengahan Februari 2022 tak hanya mengguncang perdamaian dunia, juga mengganggu stabilitas. Pasokan minyak dunia akan terganggu akibat pelbagai embargo ke Rusia dan hambatan distribusi.

Bagi Indonesia, Ukraina juga memegang peranan penting. Kita mengimpor 3 juta ton gandum setahun. Ini artinya, 25% gandum Indonesia untuk bahan baku roti hingga mi datang dari Ukraina. Invasi Rusia akan mengganggu pasokan gandum itu, selain besi, baja, cor yang menjadi barang-barang pasokan Ukraina.

Rusia adalah pemasok 8% minyak dunia dari konsumsi 90-100 juta barel per hari. Dengan pelbagai sanksi yang menderanya, negara ini tak akan bisa mengeskpor minyak ke negara lain. Walhasil, minyak dunia pun akan berkurang. “Sebagai akibat dari agresi mengerikan Rusia terhadap Ukraina, dunia mungkin menghadapi kejutan pasokan minyak terbesar dalam beberapa dekade, dengan implikasi besar bagi ekonomi dan masyarakat kita,” kata Direktur Eksekutif International Eenergy Agency (IEA)—kumpulan negara produsen dan konsumen minyak besar—Fatih Birol. 

Meski tak akan terjadi krisis, setidaknya inflasi akan mendera pelbagai negara yang membuat tiap orang berpikir tentang prioritas kebutuhan. Di Indonesia, hari-hari ini pemerintah hendak menaikkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, menyusul Pertamax. 

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan ada pengurangan 3 juta barel akibat pelbagai sanksi kepada Rusia itu. Ketimbang meratapi kekurangan minyak, IEA menyarankan kita memakaim momentum ini untuk pelan-pelan mengurangi minyak.

Ada 10 cara mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dari IEA. Jika 7,8 miliar manusia bisa melakukannya secara konsisten, konsumsi minyak global bisa berkurang 2,7 juta barel sehari dalam waktu empat bulan—setara dengan kebutuhan semua mobil di Cina.

“Prancis dan semua negara Eropa harus segera keluar dari ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil, khususnya bahan bakar fosil Rusia,” kata Menteri Transisi Ekologis Prancis, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Uni Eropa, Barbara Pompili:

1. Kurangi batas kecepatan di jalan raya setidaknya 10 kilometer per jam
Dampak: Menghemat sekitar 290.000 barel per hari penggunaan minyak dari mobil, dan tambahan 140.000 barel per hari dari truk

2. Bekerja dari rumah hingga tiga hari sepekan 
Dampak: Satu hari dalam seminggu menghemat sekitar 170.000 barel per hari; tiga hari menghemat sekitar 500.000 barel per hari

3. Car free day di perkotaan 
Dampak: Jika dilakukan setiap hari Minggu akan menghemat sekitar 380.000 barel per hari; satu hari Minggu dalam sebulan menghemat 95.000 barel per hari

4. Memakai transportasi umum. Pemerintah diimbau memberikan insentif untuk mobilitas mikro, pejalan kaki, dan pesepeda
Dampak: Menghemat sekitar 330.000 barel per hari

5. Akses mobil pribadi alternatif ke jalan-jalan di kota-kota besar
Dampak: Menghemat sekitar 210.000 barel per hari

6. Kurangi penggunaan bahan bakar 
Dampak: Menghemat sekitar 470.000 barel per hari

7. Mengemudi yang efisien untuk truk barang dan pengiriman barang
Dampak: Menghemat sekitar 320.000 barel per hari

8. Menggunakan kereta berkecepatan tinggi dan kereta malam daripada pesawat 
Dampak: Menghemat sekitar 40.000 barel per hari

9. Hindari perjalanan udara bisnis jika ada pilihan alternatif 
Dampak: Menghemat sekitar 260.000 barel per hari

10. Mengadopsi kendaraan listrik yang lebih efisien dalam konsumsi energi
Dampak: Menghemat sekitar 100.000 barel per hari

Laporan IEA menekankan bahwa perubahan perilaku hemat bahan bakar ini tidak boleh sementara jika dunia hendak menuju net zero emission atau nol emisi bersih 2050. Pada tahun tersebut jumlah emisi yang dilepaskan lebih kecil dibanding emisi yang bisa diserap. Net zero emission salah satu cara mencegah krisis iklim, yakni kenaikan suhu bumi melebihi 1,50 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain