Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|04 April 2022

Kisah Pelarian Flamingo 492

Flamingo 492 yang kabur 17 tahun lalu muncul di alam bebas. Lebih dari 1.000 kilometer jauhnya.

SEPERTI film-film Pixar, Flamingo 492 kabur dari kebun binatang Sedgwick County Kansas, Amerika Serikat, 17 tahun silam. Bulan lalu, si kaki ramping terekam kamera di lokasi yang jaraknya lebih dari 1.000 kilometer dari tempatnya melarikan diri.

Saat itu tahun 2005. Cuaca cerah berangin ketika Flamingo Afrika nomor 492 dan 347 melakukan pelarian besarnya. Pada saat pekerja dan pengunjung merayakan hari kemerdekaan Amerika Serikat—ya, ini bukan kebetulan, pelarian itu terjadi pada 4 Juli—keduanya terbang menjemput kebebasan melalui saluran drainase. Kaburnya dua flamingo itu mendapat perhatian dari media setempat.

Usut punya usut, sebulan sebelumnya, pekerja kebun binatang lupa memotong bulu-bulu sayap burung berwarna merah jambu itu. Memotong bulu sebenarnya perawatan rutin untuk menjaga burung agar tak kabur ke luar. Proses ini tidak menyakiti binatang.

Kedua flamingo itu lahir di Tanzania. Mereka dibawa bersama dengan 38 ekor kawanannya pada 2003. Usia mereka saat itu masih tiga tahun. Para ahli satwa menganggap mustahil Flamingo Afrika penangkaran mampu hidup di alam liar tanpa kawanan dan lingkungan yang tak sesuai dengan kebutuhannya 

Benar saja, Flamingo nomor 347 yang kabur ke arah utara tak terdengar kabarnya. Mungkin mati membeku saat angin musim dingin menghempas. Tapi si nomor 492 yang kabur ke arah selatan, terekam kamera ponsel David Foreman, seorang pemandu pemancing yang sedang berada di kapalnya.

“Kepala saya bilang ‘tak mungkin saya melihat Flamingo.’ Tapi mata saya bilang, ‘kamu tak salah. Itu benar (flamingo)’,” kata Foreman seperti dikutip New York Times, 30 Maret 2022. Foreman tengah memancing bersama kawan-kawannya di Port Lavaca, pantai Teluk Texas, saat peristiwa itu terjadi.

Foreman yang tumbuh besar di suaka burung, kerap menjelaskan pada pelanggannya bahwa burung berwarna pink yang mereka lihat di kawasan itu adalah Roseate spoonbill, burung yang juga berwarna merah jambu yang banyak ditemukan pada Maret di Port Lavaca.

Pemandangan pada 10 Maret 2022 meyakinkan Foreman bahwa salah satu burung yang tampak di hadapannya adalah spesies berbeda. “Terutama ketika saya melihat bentuk kepalanya dan paruhnya.”

Foreman kemudian mengunggah rekaman video flamingo itu di Facebook dan Instagram. “Saat itu orang-orang memberi tahu saya soal Flamingo yang kabur.” Dia lalu menandai akun Departemen Taman dan Satwa Liar Texas yang mengkonfirmasi kebenaran Flamingo 492 di Twitter.

Petugas satwa liar di Texas meyakini flamingo tersebut adalah 492. Menurut mereka, salah satu kaki jenjangnya mengenakan label dengan nomor tersebut. Foreman dan kawan-kawannya terlalu jauh untuk memastikan ada tidaknya label tersebut. 

Julie Hagen, spesialis media sosial Departemen Taman dan Satwa Liar Texas menyebutkan bahwa flamingo 492 terlihat di tempat yang sama pada waktu yang sama beberapa tahun terakhir. “Kami yakin itu flamingo yang sama.” Petugas satwa liar Texas bahkan menjuluki 492 dengan panggilan Pink Floyd. 

Belum diketahui apakah Texas yang jaraknya lebih dari 1.000 kilometer dari kebun binatang tempat 492 kabur merupakan rumah baru si flamingo. Tetapi Dr. Paul Rose, seorang ahli flamingo dari International Union for Conservation of Nature menyebutkan bahwa, “flamingo akan tinggal di lahan basah di mana kebutuhannya tersedia.”

Itu sebabnya, flamingo termasuk burung yang mudah dipelihara di kebun binatang. Rumah baru Pink Floyd pasti memiliki semua hal yang dia butuhkan: suhu hangat, makanan berlimpah dan lahan basah yang dangkal. Di Teluk Texas, kebutuhan ini terpenuhi kecuali satu hal; kawanan.

“Sosialisasi cukup penting bagi Flamingo,” kata Rose seperti dikutip The Guardian, 31 April 2022. Toh 492, sempat memiliki teman, setidaknya untuk sementara. Seekor Flamingo Karibia yang terbawa badai tropis pernah akrab dengan Pink Floyd pada 2006. Meskipun, menurut laporan The Times, keduanya belum terlihat bersama lagi sejak 2013.

Menurut Rose, 492 tidak kesepian. Burung yang kerap menjadi simbol dan ilustrasi pernikahan ini bukanlah burung yang monogami, bukan burung yang hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya. “Dia akan berpindah-pindah untuk menemukan kawanan burung lain. Karena ia masih memiliki dorongan berkembang biak yang kuat,” katanya.

Flamingo 492 diperkirakan berusia awal 20 tahunan, usia paruh baya untuk Flamingo—di alam bebas usia mereka bisa mencapai 40 tahun, tidak menghalangi dorongan berkembang biak. Rose mungkin ada benarnya. Foreman belum melihat lagi 492 sejak Maret. Mungkin dia sedang mencari kekasih.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain