Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|02 Februari 2022

Kalau Laut Rusak, Manusia Akan Merana

Sampah tes antigen berserakan di Selat Bali. WHO mengingatkan bahaya limbah medis.

PANDEMI Covid-19 membawa banyak konsekuensi. Satu di antaranya makin menumpuknya limbah medis: masker, sarung tangan, jarum dan alat suntik. Sampah-sampah ini ada yang diolah dengan benar, namun tak jarang berceceran di jalanan, sungai hingga berakhir di laut.

Seperti tayangan video yang viral di media sosial, limbah bekas alat tes antigen terlihat berserakan di sepanjang Selat Bali. Dalam rekaman video tersebut terlihat sampah-sampah medis mengapung di laut dan berserakan mengotori tepian pantai.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono merespons keras tayangan video itu. Dia menegaskan bahwa laut bukan tempat sampah.

"Kalau laut kita rusak, kalau sampahnya sudah luar biasa, kemudian kualitas biota di dalamnya menurun, apa yang terjadi? Seluruh kehidupan juga ikut rusak," kata Menteri Trenggono dalam siaran pers, Rabu 2 Februari 2022.

Membuang sampah ke sungai atau ke laut melanggar Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang penanganan sampah laut. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen mengurangi sampah sebanyak 30% melalui 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dan penanganan sampah sebanyak 70% sampai 2025, serta pengurangan sampah plastik yang masuk ke laut sebanyak 70% tahun 2025.

Sehingga, menurut Menteri Trenggono, perlu tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang. "Kalau ini dibiarkan bisa terulang, makanya perlu tindakan tegas. Perlu ditekankan bahwa laut bukan keranjang sampah," ujarnya.

Laut memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan makhluk hidup di darat. Selain sebagai sumber pangan, laut juga penghasil oksigen dan penyerap emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.

Di samping itu, laut merupakan jalur transportasi penting dalam menjawab kebutuhan logistik setiap negara. Termasuk untuk jalur telekomunikasi melalui sistem kabel bawah laut.

"Sekali lagi saya tegaskan, laut itu erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Jadi harus kita jaga," kata Trenggono.

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sampah medis pandemi Covid-19 seperti jarum suntik bekas, alat tes, botol vaksin yang jumlahnya ribuan ton menjadi limbah medis.

Limbah medis mengancam kesehatan manusia dan lingkungan. Sampah tersebut berpotensi membuat petugas kesehatan mengalami luka bakar, tertusuk jarum suntik hingga terkena kuman yang menempel atau tumbuh di limbah medis.

“Kami menemukan bahwa COVID-19 telah meningkatkan beban limbah perawatan kesehatan di fasilitas hingga 10 kali lipat,” Maggie Montgomery, staf teknis WHO, mengatakan kepada wartawan di Jenewa seperti dikutip Reuters.

Dalam memperkirakan 87.000 alat pelindung diri (APD) dipesan via portal PBB hingga November 2021. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berakhir menjadi sampah.

"Sangat vital melindungi pekerja kesehatan dengan APD yang tepat," kata Michael Ryan, Direktur Eksekutif WHO. "Namun tak kalah vitalnya memperhatikan alat yag aman tanpa berdampak pada linkungan sekitar."

Selain APD, sebanyak 140 juta alat tes kira-kira menghasilkan 2.600 ton sampah plastik dan limbah kimia yang bisa mengisi sepertiga kolam renang dengan ukuran standar olimpiade.

Diperkirakan sekitar delapan miliar dosis vaksin yang diberikan secara global telah menghasilkan tambahan 144.000 ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.

Menurut WHO, saat ini hanya 30% (60% di negara berkembang) sampah medis yang terolah dengan tepat. Ini tentu membahayakan para pekerja juga bisa mempengaruhi kualitas air di sekitar dan hama yang membawa penyakit.

WHO merekomendasikan untuk menggunaan kemasan dan pengiriman yang ramah lingkungan, APD dan limbah medis lain yang dapat digunakan kembali dan bahan yang dapat didaur ulang atau terurai secara hayati. Meski kebijakan pemerintah mengizinkan membakarnya, LIPI punya metode baru mengurai limbah medis untuk digunakan kembali dalam bentuk lain secara aman.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar



Artikel Lain