Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|29 Desember 2021

Gambut Indonesia yang Kaya Karbon

Hutan gambut Indonesia menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Restorasi dan moratorium permanen membukanya menjadi sangat penting.

HUTAN gambut Kalimantan dan Papua salah dua lokasi yang memiliki konsentrasi karbon tertinggi di bumi. Ini informasi yang dirilis peneliti Conservation International di jurnal Nature Sustainability edisi 18 November 2021.

Para peneliti Conservation International merilis peta terbaru lokasi-lokasi penyerapan karbon tinggi di bumi. Studi ini menyebutkan bahwa bagian bumi yang menyimpan karbon tinggi dalam jangka lama adalah permafrost atau tanah beku di Siberia, rawa-rawa di pantai barat laut Amerika, lembah Amazon, cekungan Kongo, dan Kalimantan.

Area-area penyerap karbon itu merupakan kawasan gambut dan mangrove. Di Indonesia, selain Kalimantan juga Papua bagian selatan. Kawasan itu merupakan penyerap karbon alami dan dapat dianggap jadi sumber penyimpan sumber daya yang tidak bisa dipulihkan. Karena itu jika karbon tersimpan di sini terlepas akibat deforestasi, kebakaran, atau degradasi butuh berabad abad kembali pulih.

Penyerapan karbon yang rusak akan membuat bencana iklim karena mengganggu siklus alamiah perputaran gas rumah kaca di atmosfer. Sejak 2010, pertanian, penebangan, dan kebakaran hutan melepaskan emisi 4 miliar ton karbon yang tidak dapat dipulihkan. Dalam pemetaan itu, 23% karbon yang tidak bisa pulih berada dalam kawasan lindung dan 33,6% dikelola masyarakat adat serta komunitas lokal.

Menurut Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, luas ekosistem gambut Indonesia yang 13,34 juta hektare. Menurut para peneliti, gambut dan mangrove Indonesia menjadi contoh sempurna hutan tropika yang lengkap dalam kondisi klimaks. Dengan vegetasi yang heterogen, tanah gambut berlapis-lapis dan air rawa yang menyatu dengan ekosistem hutan hingga menjadi ekosistem hutan rawa gambut.

Dengan ekosistem seperti itu, gambut menjadi penyerap dan penyimpan emisi karbon sangat besar. Secara alami, hidrologi gambut memiliki mekanisme perlindungan diri untuk mencegah kebakaran besar.

Dalam kebakaran gambut di Indonesia 1997-1998, setelah dikeringkan untuk Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG) di Kalimantan Tengah, jumlah karbon yang terlepas sebanyak 2,5 miliar ton setara CO2. Sedangkan kebakaran 2002-2003 melepaskan 200 juta hingga 1 miliar ton karbon ke atmosfer. 

Menurut laporan Palangkaraya Ecological & Human Right Studies ada 17.676 titik api di areal konsesi perusahaan di Kalimantan Tengah pada puncak kebakaran lahan September 2015. Adapun indeks standar polusi udara pada 19-22 September 2015 di provinsi ini mencapai 3.169 miligram per meter persegi, jauh di atas ambang batas aman. 

Dari 13,34 juta hektare, gambut rusak seluas 2,67 juta hektare, yang terbagi dalam beberapa bagian. Kawasan budidaya berizin kehutanan maupun perkebunan seluas 1.784.353 hektare, kawasan budidaya tidak berizin 400.458 hektare, dan kawasan lindung 491.791 hektare, lahan non konsesi 892.248 hektare.

Alih fungsi hutan gambut untuk membangun PLG sejuta hektare di Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, merupakan contoh kerusakan ekosistem gambut. Pembukaan hutan gambut untuk PLG dengan sistem tebang habis membuat ekosistemnya rusak parah. Fungsi “spon” ekosistem gambut yang mampu menyimpan air pada musim hujan yang membuat gambut tetap basah tak berfungsi lagi.

Tak heran jika musim kemarau, hutan Kalimantan terbakar, di musim hujan terjadi banjir. Beberapa daerah yang selama ini aman banjir, seperti Kapuas Hulu Kalimantan Barat bekangan ini kebanjiran. Kabupaten Sintang terendam sebulan lebih.

Daya dukung lingkungan yang merosot karena eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan merupakan faktor utama bencana hidrometeorologi. Apalagi, hujan dan kekeringan yang semakin ekstrem disumbang oleh pelepasan emisi karbon dari pembukaan hutan gambut di Kalimantan. Kalimantan cermin model pembangunan di Indonesia yang melanggar hak masyarakat akan lingkungan sehat, aman, dan berkelanjutan yang menjadi bagian dari hak asasi manusia sesuai pengakuan PBB sejak Oktober 2021.

Cara memulihkan gambut yang rusak melalui rehabilitasi, suksesi alami, dan restorasi. Cara yang paling mudah adalah suksesi alami karena pemulihannya diserahkan kepada alam. Suksesi alami dilakukan terhadap ekosistem gambut berkanal yang telah bersekat dan tidak terdapat gangguan aktivitas manusia. Masalahnya, suksesi alami membutuhkan waktu cukup lama.

Cara cepat memulihkan gambut rusak melalui restorasi, dengan menjadikan ekosistemnya atau bagian-bagiannya berfungsi kembali seperti semula, melalui pembangunan infrastruktur pembasahan kembali gambut yang meliputi bangunan air, penampungan air, penimbunan kanal dan atau pemompaan air.

Salah satu tugas BRGM adalah mengatur dan memfasilitasi restorasi gambut seluas 2 juta hektare hingga 2020 di tujuh provinsi: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua. Masalahnya, restorasi gambut dengan mengatur tinggi air hanya mampu menekan titik api untuk mencegah kebakaran di musim kemarau.

Restorasi gambut belum mampu mengembalikan vegetasi aslinya. Maka ia perlu ditopang revegetasi atau penanaman kembali jenis kayu-kayuan yang mampu bertahan hidup dalam habitat ekosistem hutan gambut berupa kegiatan rehabilitasi. Restorasi bisa mempertahankan kandungan air tanah dengan menjaga tingkat kebasahannya agar tak terbakar.

Rehabilitasi hutan gambut dengan cara revegetasi adalah cara yang paling sulit. Tingkat keberhasilannya rendah. Pemulihan lahan gambut yang paling efektif adalah cara gabungan antara restorasi dan suksesi alami. 

Penelitian Universitas Leeds di jurnal Nature Communications edisi 2 Desember 2021 menyebutkan bahwa merehabilitasi gambut akan menghindarkan Indonesia dari 12.000 kematian dini setahun. Angka ini datang dari pengurangan area yang rusak akibat kebakaran 2015 seluas 6%, mengurangi emisi CO2 18%, dan mengurangi partikel halus PM2,5 24%.

Dengan memetakan emisi kebakaran melalui satelit, peneliti menemukan bahwa restorasi lahan gambut bisa menghemat ekonomi sebesar US$ 8,4 miliar pada 2004-2015.

Pemerintah Indonesia berkomitmen merestorasi 2,5 juta hektare lahan gambut yang rusak dengan proyeksi biaya US$ 3,2-7 miliar. Biaya ini jauh lebih kecil dibandingkan dampak kerugian kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 di Indonesia yang mencapai US$ 28 miliar.

Laura Kiely, peneliti di University of Leeds, mengatakan bahwa ada banyak manfaat restorasi gambut dari manfaat lokal berupa berkurangnya kerugian properti, manfaat regional untuk kualitas udara, kesehatan masyarakat. Sebaliknya, kerusakan gambut memicu kebakaran, merusak lahan pertanian serta mengganggu transportasi, pariwisata, dan perdagangan. 

Lahan gambut di Indonesia, menurut studi ini, menyimpan sekitar 57 miliar ton karbon atau 55% karbon lahan gambut tropis dunia. Alasan-alasan ilmiah semakin memperkuat pentingnya memulihkan dan merestorasi gambut serta meneguhkan moratorium permanen hutan primer rawa gambut Indonesia. 

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain