Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|24 Juli 2021

Masih Efektifkah Teknik Silvikultur Intensif?

Teknik silvikultur berkembang pesat di hutan tanaman. Masih efektifkah silvikultur intensif di hutan alam?

SILVIKULTUR adalah praktik pengendalian proses penanaman, pertumbuhan, komposisi, kesehatan, dan kualitas suatu hutan demi mencapai aspek-aspek ekologi dan ekonomi yang diharapkan. Silvikultur berfokus pada perawatan tegakan hutan untuk menjamin produktivitasnya.

Dengan kata lain, silvikultur memadukan ilmu dan seni menumbuhkan hutan, dengan berdasarkan ilmu silvika, yaitu pemahaman mengenai sifat-sifat hidup jenis-jenis pohon serta interaksinya dalam tegakan, dan penerapannya dengan memperhatikan karakteristik lingkungan setempat.

Dalam praktiknya ,di Indonesia ada dua jenis silvikultur, yakni silvikultur hutan tanaman dan silvikultur hutan alam.

Pada hutan tanaman, silvikultur menentukan keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan. Porsinya mungkin 70%. Di Jawa, Perum Perhutani mewarisi sistem silvikultur jenis tanaman jati (Tectona grandis) dan pinus (Pinus merkusii) dari Belanda. Kedua jenis tanaman tersebut menjadi bisnis utama perusahaan.

Berkat kemajuan teknologi (kultur jaringan), kini ada jenis jati unggul yang mampu tumbuh cepat dengan daur tebang lebih pendek, yakni 15 tahun. Jati Perhutani rata-rata 70-80 tahun. Sayangnya kualitas kayu jati hasil rekayasa teknologi tidak punya sifat-sifat kayu jati seperti pada umumnya, yaitu awet, kuat, liat, tekstur yang bagus. Sehingga Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK belum merekomendasikannya sebagai jenis kayu yang disarankan ditanam massal.

Kemudian berkembang sistem silvikultur ikutan jati yakni, tanaman sela, tanaman sekat bakar, dan tanaman pagar seperti kemlandingan (Leucaena galuca), mahoni (Swietenia mahagoni atau Swietenia macrophyla) dan Caesalpinia sapan. Perhutani juga mengembangkan jenis sonokeling (Dalbergia latifolia) dan kayu putih (Melaleuca leucadendra). 

Khusus pinus, Perhutani tidak bisa menjadi tanaman tumpang sari. Serasah pinus mengandung zat alelopaty (zat racun) yang tidak memberi kesempatan tumbuh tanaman lain, sehingga tanaman pinus hanya dapat ditanam dengan sistem monokultur.

Sementara di hutan alam, yang 90%  berupa hutan alam tropika basah yang didominasi oleh jenis Dipterocarpaceae ( kelompok meranti), sistem silvikulturnya belum berkembang. Pemegang hak pengusahaan hutan gagal menerapkan silvikultur hutan alam produksi kayu per hektare dan rotasi penebangan tidak tercapai. 

Beberapa akademisi ternama, seperti UGM, mencoba mencari cara mencari terobosan baru dengan membuat dan menerapkan sistem silvikultur baru sebagai pengganti ketiga sistem silvikultur lama yang telah terbukti gagal. Salah satunya adalah Prof. Muhammad  Na’iem, pakar silvikultur dan pemuliaan pohon dari Fakultas Kehutanan UGM, yang mencoba menggunakan pendekatan silvikultur intensif (silin) di hutan alam tropika basah.

Kelebihan  utama teknik silin dengan ketiga teknik silvikultur sebelumnya adalah intensitas monitoring, kontrol dan evaluasi tanaman silin berupa kewajiban pengayaan tanaman (enrichment planting) bagi perusahaan pemegang HPH. Teknik silin memiliki metode melacak jenis yang ditanam, luas , lokasi dan pelaporannya. Keunggulan lain dari teknik silin adalah pengelolaan tanaman tidak lagi dalam pengelolaan unit jumlah tegakan tetapi individu pohon.

Pendekatan silin memperkirakan stok tegakan 400 m3/hektare selama 30 tahun. Estimasi peningkatan produksi dengan teknik ini bisa dicapai 10 kali lipat dibandingkan rata-rata produksi hutan alam kebanyakan HPH hutan alam yang produksi kayunya 20-30 m3/hektare selama 35 tahun (sistem TPTI, THPB dan THPA).

Teknik silin ini telah diujicobakan di PT Sari Bumi Kusuma (SBK) dan PT Sarpatim di Kalimantan Tengah. Langkah penting inovasi teknik ini adalah pengembangan perbanyakan secara vegetatif melalui stek pucuk untuk meranti cepat tumbuh.

Beberapa jenis meranti menghasilkan perbanyakan yang signifikan dengan stek pucuk. Kecuali untuk jenis Shorea parvifolia, hasil uji keturunan meranti cepat tumbuh  Shorea untuk jenis Shorea jaborensis, Shorea macropphylla dan Shorea platyclados dengan materi genetik Gunung Bunga (Kalimantan Barat) dan komplek Taman Nasional Bukit Baka (Kalimantan Tengah) ternyata mempunyai riap lebih dari 3 sentimeter. Tingkat keberhasilan perbanyakan lebih dari 60% melalui stek pucuk. 

Sayangnya, sistem silvikultur intensif di hutan alam ini juga punya beberapa kelemahan. Antara lain biaya penerapan per hektare mahal. Pengawasan KLHK yang lemah membuat monitoring dan evaluasi tak efektif.

Akibatnya keberhasilan teknik silvikultur intensif (Silin) hanya keberhasilan di atas kertas dan diuji coba di lapangan saja, namun tidak menjadi kebijakan secara nasional pada silvikultur hutan alam. Misteri hutan alam Indonesia belum terpecahkan dengan pelbagai teknik silvikultur.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain