Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|05 Juli 2021

Saham Terbesar Emmy Hafild dalam Isu Lingkungan

Obituari Emmy Hafild dalam membangun jejaring aktivis pembela lingkungan. Tegas, keras, tapi lembut sebagai teman.

PADA 2 Juli 2021 pukul 5.30, Kang Jamet menelepon mengabarkan kondisi Mbak Emmy Hafild yang sudah ditidurkan sejak pukul 00. Kabar bahwa kondisi Emmy Hafild naik-turun sudah kami dengar beberapa jam sebelumnya.

Tapi tetap saja kabar Kang Jamet itu menyesakkan. Saya telepon beberapa teman untuk berbagi kabar dan kesedihan ini. Kami mendoakan yang terbaik untuk kesehatan Mbak Emmy. Esoknya grup WhatsApp bersahut-sahutan mengabarkan kondisi terakhir Mbak Emmy. Sandra Moniaga berinisiatif menggelar doa bersama secara online.

Kami, teman-teman Mbak Emmy Hafild, kumpul di Zoom malam itu. Saya kirim pesan ke Mbak Sandra agar kita membacakan Al Fatihah untuk kesembuhan Mbak Emmy. Tiba-tiba kabar duka masuk: Mbak Emmy sudah tiada. 

Saya kenal Mbak Emmy—panggilan Nurul Almy Hafild—pada sekitar Juni 1998. Saya dan suami, waktu itu, baru pulang dari Nusa Tenggara Timur. Suami saya bekerja di Depot Logistik (Dolog) NTT lalu dipindahkan ke Jakarta. Saya yang tengah hamil tiga bulan tak tahan di rumah dan ingin punya kegiatan.

Saya buka satu per satu kontak yang pernah saya wawancarai semasa masih menjadi wartawan majalah Tiras. Saya menemukan kontak Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Emmy Hafild. Saya telepon ke kantornya di Tegal Parang. Resepsionis lalu menyambungkan ke Mbak Emmy.

Tanpa bertele-tele, setelah tahu saya wartawan, Mbak Emmy meminta saya datang Senin pekan berikutnya ke kantor Walhi. Saya diminta mengurus hubungan media dan komunikasi. Sejak itu saya di Walhi yang dipimpin Mbak Emmy dan Bang Longgena Ginting.

Kantor Walhi di Tegal Parang berlantai dua. Setiap hari Mbak Emmy mengecek pekerjaan kami memakai telepon. Sering kali ia lupa mematikan mikrofon telepon sehingga ketika kami dimarahi dan diomeli, orang sekantor tahu semua. Dan ia tak pernah lupa dengan evaluasi-evaluasi sebelumnya. Mbak Emmy punya ingatan yang kuat.

Jika teman-teman lain di Walhi menggeluti isu khusus—tambang, hutan, kelautan—saya lebih generalis karena menghadapi media. Di pertengahan 1990-an, Walhi terkenal garang dalam mengkritik kebijakan pemerintah. Isunya juga meluas tak hanya soal lingkungan, tapi ke isu gender, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Setiap kali selesai membuat rilis sebuah isu, Mbak Emmy selalu tidak puas. Ia minta urusan lingkungan dihubungkan dengan urusan politik dan ekonomi. Dari dia saya banyak belajar tentang keberpihakan, sikap politik, dan strategi komunikasi. 

Setelah Soeharto turun, media menyerang Mbak Emmy karena peristiwa jongkok di depan Gus Dur, Presiden Indonesia setelah Habibie. Media menyebut Mbak Emmy takluk kepada pemerintah. Untuk meredamnya, Mbak Emmy mengajak saya ketemu pagi-pagi hari Minggu. Ia ingin menjelaskan peristiwa itu.

Jumpa pers di Walhi tak memuaskan Mbak Emmy. Media tak menerima penjelasan bahwa jongkok itu bukan menyembah Gus Dur, melainkan menghormati Gus Dur sebagai orang tua. Mbak Emmy yang kecewa mengajak saya masuk strategi kedua: silaturahmi di lokasi netral. Kami undang media ke kantor LIPI.

Sebelum mulai, Mbak Emmy memberikan banyak kaca kecil kepada saya. Katanya itu harus dibagikan ke wartawan. “Supaya mereka ngaca, mereka tidak tahu diri,” katanya. Wah, gawat. Saya tak setuju. Tapi Mbak Emmy ngotot. “Kali ini Mbak Emmy harus nurut sama saya, kaca tak boleh dibagikan ke wartawan. Bisa tambah runyam.” Meski sewot, Mbak Emmy menurut. Kaca tak jadi keluar dari tas saya. Silaturahmi berjalan lancar.

Sewaktu komodo akan dijadikan salah satu keajaiban dunia, Mbak Emmy salah satu yang mengurusnya. Ia menelepon saya mengajak rapat. Ia bilang sedang mengurus kampanye komodo tapi voluntari. Saya bisa tetap di Walhi. Ia minta saya ke rumahnya.

Di tengah jalan, ia menelepon ganti lokasi pertemuan. Saya balik kanan ke lokasi yang ditunjukkan Mbak Emmy. Rupanya itu rumah Pak Jusuf Kalla. Ia mengenalkan saya sebagai orang yang membantu kampanye komodo. Selesai pertemuan saya protes keras karena merasa pekerjaan itu tak bisa disambi karena berat. “Sudah, kamu pasti bisa,” katanya.

Begitulah Mbak Emmy. Ia menjebloskan saya ke banyak hal yang tak saya pahami dan saya merasa tak mampu. Namun cara ia menjebloskan saya ke banyak hal adalah cara unik kaderisasi. Saya baru menyadarinya setelah semua pekerjaan selesai. Ia mengajari saya cara kampanye dan membawa isu ke publik, mengajari advokasi, menempatkan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Sewaktu membawa isu moratorium logging, saya belajar banyak bagaimana Mbak Emmy akhirnya bisa membawa isu itu ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia komunikator yang taktis.

Begitulah Mbak Emmy. Ia keras dan tegas. Kadang-kadang menjengkelkan. Tapi di balik semua itu ia tengah mendidik kita dengan kerja keras dan pantang menyerah. Ia cerdas, unik, dan kontroversial. Kami yang dekat punya julukan “Ableh” alias “anak buah langsung Emmy Hafild”. Kalau cerita masa lalu tentang sosoknya kami mengobrol tak habis-habis. Ia sosok yang tahu bagaimana melihat kelebihan dan kelemahan orang lain.

Ia juga orang yang penuh solidaritas dan lembut sebagai teman. Sewaktu suami saya meninggal, Mbak Emmy berkali-kali memastikan kondisiku aman, apakah penghasilanku cukup membiayai sekolah dua anak. Sewaktu saya terinfeksi covid-19 pada Januari 2021, ia juga sering menelepon menanyakan kabar dan kebutuhan saya selama isolasi.

Sewaktu Mbak Emmy opname karena kondisinya menurun akibat kanker, kami menengoknya. Kami sudah berjanji tak akan bicara dan hanya mendoakan. Tapi begitu sampai kamar, justru Mbak Emmy yang banyak bicara dan menasihati kami sampai pulang. Mbak Emmy memang tak berubah. Ia selalu bersemangat dalam keadaan apa pun.

Semangat itu pula yang membuat ia bisa membangun jejaring aktivis pembela lingkungan di seluruh Indonesia. Tanpa keteguhan, tak mungkin ia berhasil membuat Walhi begitu besar. Penghargaan “Heroes of the Planet” dari majalah Time hanya resultan yang wajar karena ia memang legenda lingkungan yang konsisten dan persisten.

Penghargaan itu bukan puncak kariernya dalam teguh membela lingkungan. Saham terbesar Emmy Hafild adalah menanamkan jiwa-jiwa aktivis dan menularkan keberanian serta kepedulian kepada begitu banyak orang dalam menempatkan isu lingkungan sebagai isu publik di Indonesia. 

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Ketua Divisi Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pengurus Pusat 'Aisyiyah

Bagikan

Komentar

Artikel Lain