Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|08 Maret 2021

Jika Orang Rimba Masuk Dunia Maya

Orang Rimba di Jambi mengikuti pelatihan online perhutanan sosial. Pemahaman mereka akan fungsi hutan lebih inklusif.

SETELAH salat subuh, Salwa Edi menyeruput kopi dan sedikit camilan yang disediakan istrinya. Hari itu, 4 Maret 2021, pendamping Kelompok Temenggung Bepayung ini akan mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas bagi petani dan pendamping perhutanan sosial yang digelar secara online melalui Zoom.

Salwa harus tiba sebelum pukul 08.00 di kantor resor Balai Taman Nasional Bukit 12 di Air Hitam Pematang Kabau, Jambi. Sebelum matahari meninggi ia harus meninggalkan rumahnya karena harus mampir mengambil dokumen di kantor Kesatuan Pengelola Hutan Uni VIII Ilir Sorolangun. Jarak Sorolangun ke Balai sekitar dua jam. 

Di kantor itu sudah berkumpul komunitas Orang Rimba, komunitas asli di hutan Jambi, yang akan mengikuti pelatihan. Salwa menceritakan rutinitas tiga hari mengikuti pelatihan ini saat saya sebagai pengajar memintanya bicara. Ia antusias bercerita.

Salwa menjadi pendamping Orang Rimba dalam mengelola hutan melalui skema kemitraan kehutanan, salah satu skema dalam program perhutanan sosial. Ketika bercerita itu, Salwa meminta agar para tutor dan pengajar dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Pekanbaru menyampaikannya dengan bahasa sangat sederhana. “Agar Orang Rimba langsung paham,” katanya.

Sebab, jangankan mengerti istilah-istilah asing, berbicara dalam bahasa Indonesia dengan Orang Rimba saja harus pelan-pelan. Mereka berbicara dalam bahasa Melayu Jambi dan bahasa Indonesia Temenggung Bepayung. Orang Rimba adalah sebutan komunitas yang secara nasional disebut Suku Anak Dalam.

Tak ada bukti sahih soal asal-usul mereka. Jika bertanya kepada mereka, Orang Rimba akan mengaku sebagai keturunan prajurit Kerajaan Pagaruyung di Palembang yang gagal menjalankan misi ke Jambi. Sebagian lain merasa sebagai keturunan prajurit Kerajaan Sriwijaya yang lari masuk hutan ketika berperang melawan Belanda. 

Kajian antropologi Warsi menduga Orang Rimba berasal dari suku Melayu Proto atau suku Melayu Asli yang berpindah ke Asia Tenggara 4700 tahun lalu. Mereka tinggal di hutan dataran rendah dengan hidup semi nomaden dan hidup melalui meramu dan berburu. Persentuhan yang minim dengan dunia luar membuat Orang Rimba tak tersentuh peradaban Hindu, Buddha, dan Islam yang masuk ke daratan Sumatera. Hingga kini.

Orang Rimba paling banyak berada di Bukit Dua Belas. Sebagian lain ada di sepanjang perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri di jalan lintas Sumatera. Sisanya di Bukit Tiga Belas. Menurut survei tahun 2017, jumlah Orang Rimba 4.393 jiwa. Sebagian besar belum bisa baca tulis.

Karena itu penjelasan dalam pelatihan itu memakai contoh melalui gambar. Ini komunikasi yang menantang agar mereka paham apa itu perhutanan sosial dan mengembangkan usaha-usaha untuk menopang hidup komunitas ini lebih stabil.

Sementara peserta pelatihan ini juga ada para pendamping mereka, yang paham dan harus mengerti kerangka teorinya. Maka jalan keluarnya adalah membahasakan teori dengan sederhana dengan penjelasan lebih banyak contoh. Pelatihan ini digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai solusi pemberdayaan petani hutan sosial di masa pandemi.

Apa yang dicemaskan Salwa dan para pendamping lain, serta kekhawatiran pengajar, rupanya tak terlalu terbukti. Seorang anggota komunitas Orang Rimba fasih berbicara dalam Melayu dan bahasa lokal menjelaskan pentingnya hutan bagi mereka.

Ia mengutip falsafah Orang Rimba bahwa hutan harus dijaga. Kehilangan hutan merupakan kiamat bagi hidup Orang Rimba. Hutan merupakan surga bagi Orang Rimba sebagai tempat hidup serta berpenghidupan seperti berburu, meramu, melangun (pergi ketika ada kerabat meninggal), bebalai dan kegiatan adat lainnya.

Deru pembangunan membuat ruang hidup mereka berubah. Hutan menjadi daerah transmigrasi, perkebunan sawit dan HTI. Perubahan hutan amat berpengaruh bagi mereka, karena sering kali meletuskan konflik antara Orang Rimba dengan masyarakat luar.

Agar bisa bertahan hidup mereka mencari kawasan hutan lain untuk tinggal. Tapi ada juga beradaptasi dengan bertahan hidup ditengah-tengah perkebunan besar sawit dan beberapa lainnya mulai belajar bertani seperti masyarakat transmigrasi yang hidup di sekitar mereka.

Menurut Ketua Kelompok Temenggung Bepayung, untuk mengatasi perubahan tersebut Orang Rimba menanam karet, memperkaya hutan dengan jernang yang mempunyai nilai jual tinggi. Selain masih meneruskan menanam padi ladang, ubi-ubian, pisang, tebu sebagai pemenuh kebutuhan subsitemnya.

Penghambat pengembangan ekonomi Orang Rimba adalah akses transportasi. Dari harga karet Rp 7.000 per kilogram setengahnya habis untuk upah angkut. Sedangkan uang yang tersisa harus dibagi tiga dengan dua penyadap. Meski begitu, kemitraan kehutanan melalui skema perhutanan sosial membuat mereka kini lebih tenang mengusahakan karet dan jernah di hutan.

Temenggung Bepayung sedang berbagi cerita (Foto: Dok. Rakhmat Hidayat)

Jernang (Daemonorops draco) yang masuk dalam keluarga rotan merupakan tanaman berlimpah di dalam hutan. Dulu. Konversi hutan menjadi tanaman monokultur membuat jernang juga ikut menghilang.

Sejak zaman jalur sutra, jernang merupakan bahan perdagangan yang telah diusahakan oleh Orang Rimba. Untuk mengatasi kelangkaan, mereka membudidayakan tanaman yang di pasar internasional dikenal dengan “dragon’s blood”, darah naga, ini. Sebutan itu merujuk pada resin jernang yang menjadi bahan pewarna, campuran pernis, bahan obat tradisional serta bahan pembuatan dupa.

Harga jernang di pasar lokal cukup tinggi, sekitar Rp 2,5-3 juta per kilogram. Sehingga, dalam pelatihan itu Orang Rimba dan para pendampingnya meminta pemerintah menyediakan bibit jernang, ala tolah, serta membantu rantai pemasaran. Tanpa tiga soal ini, jernang yang mereka usahakan tertelikung oleh tengkulak.

Dengan perantara teknologi, meski melalui dunia maya, suara Orang Rimba menjadi lebih terdengar. Mereka sama seperti kita. Bahkan pemahaman akan hutan jauh lebih inklusif karena mereka menyatu dengan rimba. Hutan bagi mereka tak sekadar alat ekonomi, tapi juga ruang hidup.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial

Bagikan

Komentar

Artikel Lain