Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|13 Januari 2021

Sampah Medis Berakhir di Teluk Jakarta

Penelitian LIPI menemukan volume sampah di dua sungai yang mengalir ke Teluk Jakarta naik 5%, yang didominasi sampah plastik dan medis. Rumah sakit mana yang buang sampah ke sungai?

PANDEMI virus corona covid-19 sejak awal Maret 2020 menimbulkan kabar baik dan kabar buruk. Kabar baik: berat sampah yang masuk ke laut berkurang hingga 28%. Kabar buruk: volume sampah naik 5%. Kabar lebih buruk lagi: sampah plastik tetap dominan + jenis baru selama pandemi: sampah medis. 

Penelitian Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan IPB University yang terbit di jurnal Chemosphere untuk edisi April 2021 menyebutkan bahwa berkurangnya berat sampah sementara volumenya bertambah karena jenis sampahnya bergeser lebih ringan. Para peneliti menemukan bahwa jenis sampah paling banyak yang ditemukan di Teluk Jakarta adalah sampah medis.

Penelitian itu berlangsung pada Maret-April 2020 di muara dua sungai yang menuju Teluk Jakarta: Cilincing dan Marunda. Memakai jarring di muara sungai sepanjang 75 meter dan lebar 1,5 meter untuk menjaring sampah yang terbawa arus sungai ini. Volume dan berat sampah harian yang tertangkap jarring lalu dibandingkan dengan volume dan berat sampah pada Maret-April 2016.

Dari 7 tipe sampah dalam 47 kategori, sampah medis merupakan temuan jenis sampah baru di dua sungai ini, sebanyak 16% dari 780 item. Jika ditimbang sampah medis di dua sungai tersebut sebanyak 20-130 kilogram sehari. Jenis-jenis sampah medis yang terjaring di dua sungai tersebut adalah masker medis, sarung tangan, baju pelindung, pelindung wajah, dan jas hujan.

Secara keseluruhan, jumlah jenis sampah di dua sungai tersebut naik dari 9.312 pada Maret 2016 menjadi 9.768 item pada Maret 2020. Pada April, seiring pandemi yang bertahan, jenis sampah naik dari 9.312 pada 2016 menjadi 10.176 item pada April 2020.

Di dua sungai tersebut, berat sampah harian turun 23% pada Maret dari 2,3 ton menjadi 1,78 ton setiap hari. Sementara pada April turun 28% 2,19 ton pada 2016 menjadi 1,58 ton pada 2020. Jika dibandingkan Cilincing dan Marunda, jumlah sampah sungai Marunda lebih banyak yakni 9% dibanding 2% di Cilincing.

Sungai Cilincing memiliki panjang 44,97 kilometer di dalam DAS Cakung dengan luas wilayah 142,85 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 2,75 juta jiwa. Sementara panjang sungai Marunda 28,88 kilometer di dalam DAS Blencong dengan luas wilayah 80,81 kilometer persegi dan jumlah penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa. Sungai Cilincing dan Marunda memiliki debit sungai masing-masing 6,84–13,91 meter kubik per detik dan 32,94–42,83 meter kubik per detik.

Dari jenis-jenis sampah medis yang ditemukan di Teluk Jakarta itu menunjukkan tak ada kesadaran penduduk terdidik dan kelas menengah Jabodetabek dalam membuang sampah. Pada 2019, dari 64 juta ton sampah penduduk Indonesia, sebanyak 3% dibuang ke sungai dan 1,27 juta ton ditemukan di laut tiap tahun.

Selama pandemi, setidaknya di Jakarta, jumlah sampah memang berkurang. Di TPA Bantargebang pada 1-15 Maret 2020 jumlah sampah sebanyak 9.346 ton, lalu menjadi 6.324 ton sehari pada April-Juni 2020. Periode tersebut merupakan masa karantina wilayah dan pembatasan interaksi sosial.

Masyarakat Jabodetabek lebih banyak tinggal di rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui belanja online. Karena itu, kendati jumlah sampah secara keseluruhan berkurang, sampah plastik pembungkus makanan bertambah. Sampah plastik menjadi jenis sampah terbanyak ditemukan di laut selama pandemi.

Menurut para peneliti LIPI dan IPB, sampah plastik sebanyak 43-47% atau 50-62% dari total berat sampah yang mereka kumpulkan selama penelitian. Setelah itu kayu sebanyak 16-19%, lalu limbah kaca, styrofoam, tali dan pancing. Larangan pemakaian kantong plastik di supermarket sebelum pandemi tak berpengaruh banyak karena usaha kecil dan pasar tradisional masih diizinkan memakainya untuk pembungkus makanan.

Pandemi agaknya membuat pengolahan limbah medis kewalahan. Sebelum pandemi, tingkat kebocoran limbah medis berkurang dari 3,9% menjadi 1,5% per tahun, menurut laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2019.

Meski limbah medis plastik bukan kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27/2017 mewajibkan rumah sakit mendaurulangnya. Sementara limbah B3 wajib diolah kembali di tempat pengolahan khusus. Di Indonesia, pengolah limbah B3 hanya ada di Cileungsi, Jawa Barat, yang dioperasikan perusahaan Jepang memakai teknik membran.

Di Indonesia bahaya pandemi bercabang-cabang: menggerogoti imunitas tubuh manusia sekaligus mencemari lingkungan dengan barang-barang untuk mencegah penularannya. “Sampah APD meningkatkan beban pencemaran. Tidak menutup kemungkinan sampah tersebut menjadi tempat penempelan mikroorganisme patogen dan bahan berbahaya bagi ekosistem perairan, serta melepas bahan aditif lainnya,” kata Reza Cordova, peneliti LIPI penulis artikel ilmiah itu.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain