Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|28 Oktober 2020

Ekowisata Berbasis Kearifan Lokal

Nelayan Desa Mapur di Bangka Belitung hendak mengembangkan ekowisata berbasis kearifan lokal. Meningkatkan ekonomi seraya tetap menjaga tradisi.

NAMANYA Willy Kristianto tapi lebih akrab dipanggil Jay. Lelaki tinggi-kurus berusia 48 tahun ini Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Pulau Punggur di Bangka Belitung. Jay berdarah campuran, antara suku asli Mapur atau Lum atau Lom, suku tertua di Bangka beretnis Tionghoa. Ayahnya asli Lum, ibunya Tionghoa. 

KTH Pulau Punggur beranggotakan 15 orang nelayan-pekebun yang turun temurun menempati kawasan hutan di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bubus Panca di Kabupaten Bangka. Sama seperti Jay, anggota KTH adalah penduduk Dusun Tuing, Desa Mapur, di Kecamatan Riau Silip.

Dusun Tuing merupakan satu dari tiga dusun yang menjadi kampung halaman suku Lom. Dua dusun lainnya adalah Air Abik dan Pejem. Semuanya berada di Desa Mapur. Karena itu terkadang komunitas asli Lom disebut juga suku Mapur, karena bertempat tinggal di Desa Mapur.

Suku Mapur yang sudah berinteraksi dan kawin-mawin dengan orang di luar suku umumnya adalah suku Mapur yang tinggal di pesisir pantai, seperti Jay dan para nelayan di KTH Pulau Punggur. Ada lagi suku Mapur yang tinggal di perbukitan, yang masih jarang berinteraksi dengan orang luar.

Agama yang dianut suku Mapur pedalaman ini adalah agama lokal dengan serangkaian mitologi dan tradisi yang menyertainya. Misalnya cara pemakaman atau mitos-mitos yang menjadi pandangan tentang rimba.

Suku Mapur pedalaman umumnya memiliki mata pencarian berladang (ladang berpindah), berkebun, dan berburu. Jauhari, anggota Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Provinsi (Pokja PPS) Kepulauan Bangka Belitung menceritakan, rumah suku Mapur di hutan terbuat dari kayu, berbentuk panggung, dengan atap rumbia. Berbeda dengan suku Mapur pesisir yang rumahnya tembok dan bermata pencarian nelayan, juga berkebun.

Sebagai suku Mapur yang tinggal di pesisir, menurut Jay, kakek-buyutnya menjadi nelayan dan berkebun kelapa, durian, dan mangga. Dari ayah dan kakeknya itu Jay terampil mengarungi laut ketika menangkap ikan. “Saya juga berkebun di tanah yang sudah lebih dulu diolah kakek buyut saya. Itu kelapa sudah ada sejak masa kakek saya dulu,” ia menunjuk deretan pohon kelapa yang tumbuh tidak jauh dari pantai, berjarak sekitar 300 meter dari tempat kami duduk, pada 25 Oktober 2020.

Meski suku Mapur pantai memeluk agama di luar agama Mapur asli, penduduk suku Mapur, baik di pedalaman maupun pesisir, umumnya menghormati alam dan tradisi leluhur. Jay seorang muslim. Bagi mereka gunung, hutan, sungai, bumi, langit, dan hewan memiliki roh yang menyatu dengan roh nenek moyangnya.

Dalam kepercayaan tradisional mereka, roh-roh ini yang menjaga dan mengawasi hidup manusia, terutama suku Mapur. Jay fasih bercerita tentang arti hutan dan alam bagi suku Mapur. “Kita tidak bisa asal masuk hutan menebang pohon atau mengambil hasil hutan,” katanya. “Mengambil jamur pelawan misalnya tidak boleh asal ambil. Ada roh yang bermukim di hutan itu. Ada tata caranya tersendiri.”

“Juga di pesisir pantai ini,” ia buru-buru menambahkan. “Di sini banyak batu-batu bagus, sejenis akik. Berkilau dan berwarna-warni. Tapi di sini semua orang tahu bahwa satu batu pun tidak boleh diambil. Jika ada yang membawa pulang batu, akan mendapat mimpi dalam waktu 3 hari meminta agar batu tersebut dikembalikan. Jika tidak dikembalikan, akan ada malapetaka menimpa orang tersebut."

Menurut Jay, pulau Punggur yang berjarak 1 kilometer di depan kami. Konon, pulau itu dulu adalah kapal yang karam. Saking banyaknya korban jiwa membuat pulau itu bersatu dengan daratan ini. Dengan mitos dan cerita serta eksotisme pulau ini, Jay berencana membuat usaha ekowisata.

Apakah tak akan mengganggu mitologi, Jay? Ia menggeleng.

Menurut dia, turis yang datang ke sini lumayan banyak. Penduduk lokal selalu mengingatkan agar turis menghormati tradisi dan keadaan alam di sini. “Jika kami yang menjaga dan mengelola, tradisi akan tetap ada karena kami memahami dan menghargai tradisi. Jika tidak terkelola, malah justru bisa merusak,” kata Jay.

Keinginan Jay dan kelompok nelayannya sudah diketahui banyak masyarakat Mapur pesisir lainnya. Mereka mempercayakan semua ini kepada Jay yang selama ini sudah diakui ketokohannya oleh orang-orang Mapur sendiri. "Masyarakat ingin hidup lebih baik, anak-anaknya bersekolah, sekaligus tetap menghormati alam dan tradisi,” kata Jay.

KPHP Bubus Panca menyambut baik rencana Jay dan para nelayan Pulau Punggur. Kepala KPHP Ruswanda mengatakan telah ada penandatanganan naskah kesepakatan kerja sama Kemitraan Kehutanan untuk mengembangkan ekowisata berbasis kearifan lokal.

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain