Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|25 Oktober 2020

Rehabilitasi Lahan Berpasir

Masyarakat di Bangka Belitung merehabilitasi hutan negara secara swakelola. Membangunkan lahan tidur.

NAMANYA unik. Gabungan Kelompok Tani Gong Bersama. Gong adalah nama desa mereka, Simpang Gong. Sementara Bersama adalah semangat para petani mengelola hutan negara. 

Ini kelompok tani di Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung, yang merehabilitasi lahan negara karena telantar. Sudah dua tahun mereka mengelola lahan 35 hektare dengan menanami kawasan hutan bersemak itu dengan jambu mete.

Pekerjaan para petani ini umumnya berkebun di lahan milik mereka. Para petani merasa prihatin melihat hamparan lahan yang ditumbuhi semak dan telantar. Sumadi, Ketua Gapoktan, berinisiatif menemui KPH pengelola lahan itu dan Dinas Kehutanan Kepulauan Bangka Belitung. Ia mengajukan ide merehabilitasi lahan tersebut.

Dari KPH dan Dinas, Sumadi diarahkan ke Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Batu Rusa Cerucuk. BPDSHL setuju dengan ide petani menanam mete secara swakelola selama tiga tahun.  Swakelola ini berarti dukungan dana diberikan langsung untuk kelompok masyarakat.

Sumadi, Ketua Gabungan Kelompok Tani Gong Bersama di Bangka Belitung.

Pilihan pada tanaman mete didasarkan pada pertimbangan lokasi lahan yang berpasir. Sumadi, 60 tahun, bercerita ia terinspirasi petani dusun sebelah yang berhasil menanam jambu mete di lahan berpasir. “Tidak mudah mencari tumbuhan yang cocok tumbuh di pasir,” kata dia pada 23 Oktober 2020. “Mete salah satu yang cocok.”

Lahan itu dikelola secara bersama-sama. Laki-perempuan, tua-muda. Ada yang membersihkan rumput dan belukar di sela-sela pepohonan mete. Tampak juga beberapa anak muda berusia belasan tahun. Mereka siswa SMA. Dua pemuda bercerita mereka ikut membantu membersihkan lahan sesudah pulang sekolah. "Ini tanaman bersama,” kata mereka.

Sumadi menambahkan penjelasan bahwa semua yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi ini memang anggota keluarga dari para anggota kelompok tani. "Kami mengutamakan pendekatan kekeluargaan. Hubungan kami dengan KPH, Dinas, BPDASHL dan semua yang mendukung sudah akrab seperti saudara,” kata dia.

Jambu mete cocok untuk rehabilitasi lahan berpasir (Foto: Swary Utami

Setelah dua tahun, lahan tidur ini kini sudah hijau. Sejauh mata memandang yang ada pohon mete setinggi 1,5 meter. Tahun depan mereka bersiap panen. Di pasar Bangka Belitung, 1 kilogram mete mentah sekitar Rp 100.000. “Kami belajar mengelola mete dari produksi sampai pengemasan ke Wonogiri di Jawa Tengah,” kata Sumadi.

Masyarakat Simpang Gong membuktikan inisiatif penduduk kadang lebih tulen dibanding jika diminta atau disuruh. Mereka telah membangunkan lahan tidur yang luas untuk penghidupan mereka sendiri.

Dalam ilmu ekonomi apa yang dilakukan masyarakat Simpang Gong adalah manajemen ekonomi yang inklusif. Masyarakat mendapat akses ke dalam kawasan hutan negara dan memanfaatkannya untuk hidup mereka dengan semangat kebersamaan. Hutan pun menjadi terjaga dan produktif.

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain