Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|24 Oktober 2020

Mangrove Bangka Belitung yang Eksotis

Melindungi pantai dan desa seraya menghasilkan secara ekonomi. Hutan lestari, saling berbagi dalam ruang ekonomi seperti dicontohkan para pemuda Kurau Barat di Bangka Belitung yang menjadi role model pengelolaan mangrove lestari.

SAAT turun dari mobil, aku terpana menyaksikan pemandangan unik di depanku. Beberapa pohon nipah dan pondok kayu sederhana dan terlihat nyaman ada di antara kehijauan pohon mangrove yang tumbuh berjela-jela di pantai ini. Aku sedang berada di ekowisata dan edukasi mangrove Munjang di Desau Kurau Barat, Bangka Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. 

Sore itu, 23 Oktober 2020, terlepas dari riuh rendah corona dan resesi ekonomi, aku menginjakkan kaki di hutan lindung mangrove ini. Ekowisata keren ini dikelola Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) Gempa 01 di bawah pendampingan KPH Sungai Sembulan dan Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Batu Rusa Cerucuk.

KTH Gempa 01 beranggotakan lebih dari 30 orang dan kader kelompok. Umumnya berusia 30 tahun. Gempa kependekan dari Generasi Muda Pencinta Alam yang dibentuk tahun 2004. Pada 2016 mereka mendapatkan izin HKm di Hutan Lindung Pantai Kurau seluas 213 hektare, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sampai kini, lokasi ekowisata dan edukasi mangrove ini sudah dikunjungi banyak wisatawan lokal dan mancanegara. Di masa sebelum pandemi, minimal 500 pengunjung datang pada akhir pekan dengan tiket masuk Rp 15.000 per orang. Pada hari biasa, jumlah pengunjung rata-rata 100 per hari.

Pandemi corona membuat aktivitas wisata terhenti. Namun aktivitas kelompok tetap berjalan seperti renovasi sarana-prasarana ramah lingkungan, konservasi kepiting dan penanaman mangrove.

Aku menjelajah hutan lindung ini dengan menaiki kapal motor tanpa atap berkapasitas delapan orang (termasuk pengemudi) melewati kawasan gambut yang teduh selama 15 menit. Setelah itu kami menyusuri jembatan kayu sepanjang 500-meter yang meliuk-liuk mengikuti kontur dan jalur mangrove.

Di beberapa titik tersedia pondok istirahat sederhana, wahana kemping, rumah pohon dan beberapa bangunan kayu unik lainnya. Betul-betul menyatu dengan alam dan membikin betah pengunjung. Lokasi ekowisata ini juga instagramable.

Menurut Suryani, pendamping HKm, ke depan KTH Gempa akan ada pembangunan tambahan sarana dan prasarana ramah lingkungan lainnya, seperti pondok kayu sederhana, trek jalur baru di hutan lindung mangrove, trek bersepeda dan museum hidup mangrove.

Dengan segala pencapaian ini, kelompok ini mendapatkan hadiah Kalpataru tahun lalu. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadikan mangrove HKm Gempa 01 sebagai model pelestarian mangrove yang mencapai 50 jenis seraya menghasilkan secara ekonomi melalui ekowisata.

Dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), HKm ini menyediakan 20 hektare untuk ditanami mangrove. Paling tidak 25 anggota HKm dan masyarakat terlibat dalam program ini. Kepala BPDASHL Batu Rusa Cerucuk, Tekstianto yakin penanaman mangrove di lokasi HKm ini akan berjalan baik mengingat kelembagaan HKm ini sudah kuat dan komitmen anggotanya yang besar dalam menjaga dan merawat alam.

Mangrove HKm Gempa 01 di Bangka Belitung yang asri (Foto: Swary Utami Dewi)

Tidak salah rasanya jika perjalanan kali ini bagiku bukan perjalanan sekadar menjalani tugas, juga memetik kebahagiaan dari rimbunan mangrove. Semangat pantang menyerah dan kreativitas HKm Gempa yang dipimpin oleh Yasir, laki-laki berusia 40-an yang ahli mangrove.

Keahlian dan pengetahuannya itu ia realisasikan dalam wisata edukasi mangrove ini. Maka para wisatawan yang datang ke sini, tak hanya akan mendapatkan pemandangan yang eksotis, juga pengetahuan mangrove sebagai sabuk pulau dan ekosistem penting dalam melindungi pantai.

Taman Mangrove Kurau Barat hanya 30 menit berkendara dari bandar udara Pangkal Pinang sejauh 28 kilometer. Dari area parkir, para wisatawan akan dijemput perahu kayu yang diisi 10-15 penumpang.

Yasir telah menjadikan HKm Gempa sebagai tempat belajar bersama para petani desa Kurau Barat. Ini memang cita-cita lama Yasir: memberdayakan petani dan masyarakat di Bangka Belitung melalui pelestarian kawasan hutan mangrove. Selain para pemuda yang terlibat, mangrove ini juga telah menahan abrasi pantai masuk desa yang berbatasan langsung dengan laut lepas.

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain