Kabar Baru

Rasionalisasi Hutan Keramat di Tengah Pandemi

Jumat, 16 Oktober 2020 09:54 WIB

Kepercayaan pada hutan keramat bisa dirasionalisasikan di masa pandemi virus corona covid-19 ini. Menebang pohon bisa membuat virus yang bersemayam di dalamnya berpindah inang.

Taufik Mubarak

Rimbawan tinggal di Papua. Penerima beasiswa LPDP 2016-2018

DI hampir seluruh wilayah di Indonesia ada hutan keramat atau yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Hubungan hutan dan manusia secara spiritual dalam alam pikiran sudah lama menjadi bahan kajian. Bahasa Indonesia mengasosiasikan berdoa dengan “memohon” atau “memanjat”.

Di kawasan hutan keramat ada adab-adab khusus, sebagai aturan tak tertulis, seperti larangan menebang pohon, buang air kecil sembarangan, atau mengucapkan kata-kata tertentu karena dianggap tak sopan. “Penunggu” hutan keramat atau hutan larangan akan “menghukum” para pelanggar adab itu.

Dalam pandangan sains modern, kepercayaan terhadap pohon keramat dianggap irasional. Kini setelah wabah pandemi virus corona covid-19 agaknya ada korelasi antara irasionalitas dengan rasionalitas virus ini. Mari kita bedah asal-usulnya.

Menurut  Zita Sebesvari dari United Nations University, satu di antara dua penjelasan perilaku manusia terhadap lingkungan adalah meningkatkan ancaman wabah. Pertumbuhan ekonomi, permukiman, dan pembukaan lahan untuk pertanian menambah jumlah wilayah transisi dari ekosistem yang berbeda. Hasilnya, spesies dari habitat berbeda bercampur dan berinteraksi satu sama lain dengan cara-cara baru. Kontak baru ini memberikan kesempatan baru bagi penyakit untuk berpindah antar spesies, seperti terjadi pada kasus virus corona.

Berdasarkan penjelasan tersebut, kita bisa sedikit merasionalisasikan bahwa penyebab seseorang sakit setelah menebang pohon bisa jadi karena “serangan” mahluk tak kasat mata yang kita sebut virus itu. Kita merasionalisasikan virus sebagai mahluk gaib karena batas penjelasan terhadap mahluk yang tak terlihat.

Merujuk paparan Zita, bis akita tafsirkan bahwa infeksi terjadi karena adanya kontak antara penebang pohon dengan virus atau gas-gas hasil metabolik makhluk hidup yang berada pada pohon tersebut.

Kenyataan ini bisa menuntun kita untuk merasionalisasikan kepercayaan masyarakat bahwa pohon yang tinggi merupakan tempat berdiamnya lelembut sehingga jika ditebang akan membuat penebangnya sakit. Rasionalisasinya bisa kita lacak secara ilmiah bahwa semakin besar ukuran pohon atau semakin rimbun daunnya. Semakin banyak pula organisme yang bisa ditampung untuk hidup/berhabitat di pohon tersebut. Ada yang berhabitat di akar, di batang, ranting, atau daun. 

Dengan semakin banyaknya organisme di pohon, peluang memapar penebang makin besar. Mengapa ada penebang yang sembuh setelah mendapat jampi-jampi? Kita bisa mengaitkannya dengan terapi psikologis yang saat ini diintegrasikan dalam pengobatan pasien covid-19. 

Dalam penanganan pasien covid-19, dokter di beberapa negara tak hanya memberikan obat kuratif dan vitamin penambah daya tahan tubuh, juga terapi mental untuk mempercepat pemulihan. Terapi mental ini sangat berperan dalam mempercepat penyembuhan pasien covid-19.

Menurut Koordinator Mayor Inf Yosua C. P. Pasaribu, Tim Psikologi Kesehatan Mental Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Jakarta, pasien yang cemas dan khawatirnya berlebihan cenderung susah tidur. Karena mereka kurang tidur, imunitasnya menurun. Imunitas menurun membuat pemulihannya lambat.

Bisa jadi ritual atau jampi-jampi dalam penyembuhan infeksi virus bagi penebang pohon semacam terapi mental yang meningkatkan sugesti dan imunitas tubuh. Sugesti pasien makin kuat jika ada pengalaman masa lalu yang menunjukkan bahwa dukun tersebut memang sakti dan bisa menyembuhkan orang yang sakit sehabis menebang pohon.

Jadi kesembuhan bukan karena air jampi-jampi yang sakti dalam membunuh, tapi keyakinan sembuh yang membuat daya tahan tubuh dari serangan virus menguat.

Bagaimana pun kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib dan irasional bisa menjadi objek penelitian. Sebuah kepercayaan lahir melalui proses pikiran komunal sehingga berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun. Kita menyebutnya kearifan lokal.

Dalam banyak hal, kearifan lokal telah terbukti bisa melestarikan hutan karena kepercayaan mendorong masyarakat melindungi wilayah, melindungi ruang hidup, dan memanfaatkannya secara hati-hati. Arundhati Roy, penulis India itu, pernah mengatakan bahwa penangkal perubahan iklim bukan mereka yang berembuk di ruang konferensi, tapi mereka yang setiap hari berjuang melindungi hutan dan gunung.

Salah satu cara melindungi itu adalah dengan mikrokosmos kepercayaan terhadap hutan keramat. Dari situ muncul budaya dan adat-istiadat, juga adab, bagaimana kita memperlakukan lingkungan sekitar.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain