Kabar Baru | 21 Agustus 2020

Ngobrol Bareng Nicholas Saputra Soal Semes7a dan Pemanasan Global

Siaran langsung di akun Instagram Forest Digest, 21 Agustus 2020 pukul 19.30 WIB. Nico akan bicara soal film Semes7a dan pemanasan global.

Redaksi

Redaksi

BERSAMAAN dengan peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2020, film Semes7a tayang di Netflix dengan judul Island of Faith. Film ini menceritakan tujuh tokoh dari tujuh provinsi yang memakai landasan spiritual dan kearifan lokal menjaga alam untuk mencegah pemanasan global.

Aktor Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin menjadi produser film berdurasi 1 jam 28 menit ini. Tujuh kisah itu dibuka dengan Tjokorda Raka Kerthysa dari Bali yang berbicara soal makna Nyepi, hari raya umat Hindu di Bali yang mampu mereduksi emisi harian pulau Dewata ini hingga sepertiga. Nyepi seperti memberi jeda kepada bumi dari aktivitas manusia yang mengotori dan mengeksploitasinya.

Dari Bali kamera bergerak ke Sungai Utik di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di sini ada Ignatius Pius Inam bersama penduduk Sungai Utik yang mempraktikkan kearifan nenek moyang dalam menjaga hutan.

Penduduk di sana terlarang menebang pohon. Meski diizinkan tiap orang mengambil tiga batang kayu per tahun, warga Sungai Utik tak melakukannya karena kayu di sekitar hutan mereka sudah habis oleh industri dan pembalakan liar. Penduduk mengalah oleh serbuan keserakahan dari luar wilayah mereka.

Bagi penduduk Sungai Utik, tanah adalah ibu dan air adalah darahnya. Maka agar bumi terus hidup dan mencukupi kebutuhan mereka hingga masa depan, penduduk di sini menjaga mata air agar tak kering. Sebagaimana darah, ia yang memberi nyawa kepada bumi agar terus ada bagi hidup mahluk di dalamnya.

Lalu ada Romo Marselus Hasan dari NTT yang mencukupi kebutuhan energi penduduk kampung Bea Muring di Manggarai dengan membangun pembangkit listrik tengara air mini. Juga Almina Kacili bersama penduduk Raja Ampat yang membangun sasi, tabungan biota laut selama enam bulan, yang mereka jaga sebelum dipanen untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Muhammad Yusuf di Aceh dan Iskandar Waworuntu di Yogyakarta juga punya cerita tak kalah menarik dalam menjaga alam. Cerita Semes7a ditutup oleh Soraya Cassandra, perempuan muda yang mengembangkan kebun organik di tengah Ibu Kota yang pengap.

Cerita-cerita itu diikat dan mengikatkan diri pada usaha-usaha mencegah pemanasan global—problem terbesar umat manusia hari ini. Dengan cerdik, film ini memotret sudut pandang kampanye global yang selama ini tak tersentuh: kearifan lokal dan semangat spiritual.

Dua sudut pandang yang penting dan krusial mengingat sudah menjadi bukti empiris keduanya terbukti mampu menjaga bumi lebih sehat. Selama ini kampanye mencegah pemanasan global terkesan elitis karena fakta dan data disajikan secara ilmiah melalui jurnal-jurnal. Istilah-istilah teknis yang rumit membuat penyadaran akan bahaya perubahan iklim agak sulit dicerna.

Maka kehadiran Semes7a menjadi oase dalam gerakan global mencegah perubahan iklim. Film ini dengan jeli dan sederhana membidik satu tema yang mudah dicerna: mencegah pemanasan global dimulai dari hal kecil oleh tiap individu. “Jika pemanasan global adalah ancaman eksternal,” kata Iskandar Waworuntu. “Cara mencegahnya adalah memulainya dari dalam internal diri kita sendiri.”

Untuk membahas film itu, Pemimpin Redaksi Forest Digest Bagja Hidayat akan berbincang dengan Nicholas Saputra, produsernya, seputar film itu. Mengapa Nico tertarik menggarap film bertema lingkungan? Mengapa ia mengangkat sudut pandang spiritual dan kearifan lokal?

Simak obrolan interaktif mereka di akun Instagram Forest Digest pada Jumat, 21 Agustus 2020, pukul 19.30 WIB.

PERBARUAN: Karena jaringan sinyal ngobrol langsung di Instagram terputus-putus. Rekamannya ada di sini:

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain