Kabar Baru | 29 Juli 2020

IPB Ubah Nama Fakultas Kehutanan

IPB University mengubah nama Fakultas Kehutanan dengan menambahkan lingkungan untuk merespons isu global perubahan iklim. Anak muda kurang meminati belajar tentang hutan karena bidang pekerjaannya spesifik.

Siti Sadida Hafsyah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

DI tengah isu pemanasan global dan perubahan iklim yang menjadi topik panas di dunia global, anak-anak muda Indonesia kurang meminati mempelajarinya. Fakultas Kehutanan merupakan salah satu fakultas di universitas yang mempelajari pengelolaan hutan dan alam secara lestari sebagai cara mencegah bumi memanas.

Minat anak muda mempelajari hutan di Fakultas Kehutanan, termasuk di IPB University, kian sedikit dari tahun ke tahun. Bidang pekerjaan di sektor kehutanan yang dianggap jauh menjadi alasan penurunan minat para lulusan SMA.

“Bidang kerja sektor kehutanan yang langsung berkaitan dengan bisnis kehutanan semakin sempit dan sulit,” kata Dekan Fakultas Kehutanan IPB 2015-2020 Rinekso Soekmadi. “Lokasi kerja lulusan Fakultas Kehutanan yang jauh dengan gaji yang tak kompetitif membuat lulusannya kurang bisa bersaing di dunia kerja.”

BACA: Kumpulan Tulisan Sejarah Fakultas Kehutanan IPB

Dengan alasan itu, IPB mengubah nama fakultas ini menjadi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sejak 1 Juli 2020. Menurut Rinekso, ide perubahan nama ini muncul sejak 2016. Nama baru Fakultas Kehutanan dan Lingkungan diterakan dalam Surat Keputusan Rektor IPB Nomor 128/IT3/OT/2020.

Di IPB, Fakultas Kehutanan merupakan fakultas ke-5 dan menjadi fakultas pertama yang pindah ke Darmaga pada 1968—lima tahun setelah IPB menjadi universitas sendiri terpisah dari Universitas Indonesia di Baranangsiang. Kini IPB memiliki sembilan fakultas: pertanian, kedokteran hewan, peternakan, perikanan dan kelautan, teknologi pertanian, matematika dan ilmu pengetahuan alam, ekonomi manajemen, dan ekologi manusia.

Fakultas Kehutanan memiliki empat departemen: manajemen hutan, hasil hutan, konservasi sumber daya hutan dan ekowisata, serta silvikultur. Tak ada departemen baru di bawah nama baru. “Tapi kurikulum akan berubah,” kata Rinekso.

Dengan nama baru, kata Rinekso, setiap departemen harus mengartikulasikan aspek lingkungan ke dalam kurikulum tiap pelajaran secara lebih eksplisit. “Hal ini bisa diwujudkan dalam nama divisi, nama mata kuliah, maupun muatan atau konten mata kuliah,” katanya.

Ada lima alasan di balik perubahan nama Fakultas Kehutanan IPB, menurut Rinekso Soekmadi:

Pertama, untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan memperluas lapangan pekerjaan bagi para lulusannya. Karena itu, perubahan nama ini diharapkan mendapat respons positif dari pengguna lulusan, alumni, dan pasar kerja secara umum.

Rinekso menyangkal perubahan nama itu menyesuaikan dengan perubahan nomenklatur Kementerian Kehutanan yang digabungkan dengan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2014. Menurut dia, penambahan kata “lingkungan” di fakultas tak bermakna umum seperti di Kementerian.

Di Kementerian, kata lingkungan mencakup arti yang luas, karena mengurus soal limbah, laut, sampah, dan isu lain yang tidak berkaitan dengan urusan kehutanan. Sementara lingkungan di Fakultas Kehutanan hanya akan mengkaji aspek lingkungan yang berkaitan secara langsung dengan keberadaan dan fungsi hutan dan kegiatan kehutanan. Ini menjadi alasan kedua dalam perubahan nama.

Alasan ketiga berkaitan dengan lapangan kerja. Menurut Rinekso, perubahan nama ini untuk menegaskan bahwa ilmu kehutanan makin dibutuhkan di masa depan karena menyangkut isu yang tengah hangat diperbincangkan dan dibutuhkan di dunia. Sehingga generasi muda bisa menengok kembali ilmu kehutanan yang menjadi bagian dari manajemen lingkungan yang lestari.

Indikasi penurunan minat lulusan SMA pada fakultas kehutanan tak hanya dialami IPB. Rinekso adalah Ketua Forum Dekan Fakultas Kehutanan yang menaungi 45 universitas yang memiliki fakultas kehutanan. Dalam lima tahun terakhir, kata dia, peminat lulusan SMA masuk fakultas ini terus turun. Padahal, isu lingkungan malah naik di level nasional maupun internasional. Menarik kembali minat calon mahasiswa adalah alasan keempat perubahan nama fakultas ini.

Kurangnya peminat utama yang memilih Fakultas Kehutanan secara umum, membuat kualitas calon mahasiswanya bukan yang terbaik dari tiap SMA. Padahal, untuk mempertahankan kualitas unggul lulusan universitas, kampus perlu menjaring lulusan terbaik dari tiap sekolah menengah.

Dengan perubahan nama ini, kata Rinekso, IPB menjadi kampus pertama yang menyesuaikan kurikulum dengan isu lingkungan yang makin dibutuhkan pemahamannya. “Dalam konteks lingkungan, peran hutan sangat signifikan dalam menyerap gas rumah kaca,” katanya. “Ini alasan kelima kami ingin menjadi pionir dalam merespons isu global melalui struktur kurikulum.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain