Kabar Baru | 02 April 2020

Pendorong Ekonomi Desa di Tengah Pandemi Corona

Ekonomi melambat karena berkurangnya aktivitas ekonomi akibat pandemi virus corona Covid-19. KLHK menyumbang alat produksi agar produktivitas petani dan menurun lalu membeli produknya untuk paramedis.

Redaksi

Redaksi

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meningkatkan peran perhutanan sosial untuk menahan pelambatan ekonomi di desa akibat pandemi virus corona Covid-19. Selain mengampanyekan minum produk herbal dengan cara membelinya dari petani hutan, KLHK juga memberikan bantuan alat ekonomi produktif kepada masyarakat, dan bantuan pengembangan usaha hutan sosial.

“Alat ekonomi produktif ini sudah diterima kelompok masyarakat. KLHK akan mengintensifkan lagi program perhutanan sosial karena terbukti mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan bahan baku industri. Selain itu juga dapat meningkatkan ekonomi di perdesaan, seraya meningkatkan nilai tutupan hutan,” kata Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar dalam rilis pada 31 Maret 2020.

Bantuan ekonomi produktif tahap awal diberikan kepada Kelompok  Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Sinar Mandalawangi di Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut dan KUPS Mandalagiri 1 di Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Usaha petani hutan di desa ini adalah budidaya kopi di lahan hutan lindung Perhutani.

Karena itu bantuan KLHK berupa alat roasting kopi yang berguna untuk memanggang kopi sehingga memunculkan rasa asli biji kopi agar rasanya lebih nikmat. Juga bantuan grinder kopi yang berfungsi menggiling atau menghaluskan biji kopi, serta berbagai alat pendukung lainnya yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas petani.

Menurut Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Bambang Supriyanto pengiriman alat bantuan ekonomi kreatif melalui jasa pengiriman untuk mengurangi kontak langsung dengan petani di masa pandemi corona oleh Kepala Balai PSKL Jawa-Bali-Nusa Tenggara Ojom Somantri. “Bantuan ini untuk menumbuhkan optimisme bahwa wabah Covid-19 tidak menghalangi produktivitas,” kata Bambang.

Menteri Siti menambahkan bahwa pendekatan perhutanan sosial bersifat holistik dan integratif, artinya pendekatan hulu melalui pengembang komoditas agroforestri, wanamina (silvofisheri), dan silvopastura (hutan dan peternakan), dan mengembangkan produk untuk tujuan pemenuhan kebutuhan papan dan input untuk kebutuhan industri di beberapa komoditas. Ini dikenal dengan pendekatan ekonomi subsisten.

Hingga 22 Maret 2020 telah ada 6.940 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Terdiri dari komoditas agroforestri (32%), buah-buahan (15%), wisata alam (12%), kayu-kayuan (11%), Kopi (8%), tanaman pangan (8%), madu (4%), aren (3%), hasil hutan bukan kayu lainnya (3%), rotan dan bambu (3%), dan kayu putih (1%).

Untuk menjaga program ini tetap memberi kontribusi di tengah ancaman perlambatan ekonomi, KLHK memberikan bantuan ekonomi produktif dan bantuan pengembangan usaha perhutanan sosial (Bang PeSoNa), serta terus mensosialisasikan ajakan mengonsumsi produk herbal dari masyarakat petani hutan.

''Bantuan ini mendorong agar masyarakat bisa menjalankan kegiatan usaha perhutanan sosial yang memberi nilai tambah produk mereka. Ini penting untuk menumbuhkan optimisme bersama di masa pandemi Covid-19, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat di Desa,'' kata Menteri Siti.

Berdasarkan hasil evaluasi KLHK, pemberian bantuan alat ekonomi produktif mampu meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan. Misalnya kopi dari cherry menjadi bubuk kopi ada penambahan nilai tambah sebesar 30-40%.

Bantuan alat ekonomi produktif nantinya akan disebarkan kepada kelompok-kelompok tani hutan di lima wilayah Balai Perhutanan Sosial. Di antaranya di Sumatera, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua-Maluku.

Petani kopi Sinar Mandalawangi Garut, Jawa Barat, mencoba mesin giling kiriman KLHK.

Adapun besaran anggaran yang disiapkan mencapai Rp 47 miliar, berupa pengadaan 470 alat ekonomi produktif dan Rp 50 miliar melalui peningkatan kapasitas pembangunan Perhutanan Sosial Nasional atau “Bang Pesona” untuk modal usaha.

''Dalam pelaksanaan kegiatannya nanti tetap sesuai dengan kaidah pencegahan penyebaran Covid-19. Saya mengajak masyarakat mengikuti imbauan pemerintah agar virus corona tidak menyebar, serta meningkatkan imunitas tubuh dengan minum jahe, wedang uwuh, dan rimpang-rimpangan lainnya yang bermanfaat bagi peningkatan daya tahan tubuh,'' kata Menteri Siti.

Sebelumnya KLHK telah membeli produk hasil usaha petani hutan, untuk disalurkan kepada tenaga medis yang bertugas di garda terdepan penanganan virus corona.

Khusus untuk wilayah DKI Jakarta, disiapkan 2.000 paket produk herbal yang disalurkan ke berbagai rumah sakit rujukan pasien corona. Selain itu 5.000 paket lainnya juga disediakan lima Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan pada masing-masing wilayahnya, dengan total anggaran mencapai Rp780 juta.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain