Kabar Baru | 02 November 2019

Perhutanan Sosial Menuju Industri 4.0

Aplikasi Sistem Navigasi dan Integrasi (Sinav) Perhutanan Sosial tak hanya untuk mendaftarkan izin, tapi sekaligus sebagai alat pemasaran.

Redaksi

Redaksi

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan tengah membangun aplikasi yang terintegrasi untuk menghubungkan hutan sosial dengan pasar. Selama ini aplikasi Sinav PS (Sistem Navigasi dan Integrasi Perhutanan Sosial) baru terpakai untuk menjembatani proses izin legalisasi sebuah hutan sosial dan sistem pelaporan sebagai basis honor para pendamping petani. 

Para pendamping yang membantu petani hutan memasukkan syarat-syarat legalisasi melalui aplikasi yang kini masih berbasis Android. “Nanti aplikasi Sinav juga menjadi alat pemasaran produk hutan sosial,” kata Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Bambang Supriyanto di Lombok, 2 November 2019, dalam seminar “Pengelolaan Hutan Lestari Menuju Industrialisasi Kehutanan 4.0”.

Menurut Bambang, dalam ekonomi dan industri yang menghasilkan produk alat ukurnya adalah produktivitas, nilai tambah, dan daya saing. Penopang untuk mencapai tiga hal itu adalah melimpahnya sumber daya alam, manajemen terhadapnya, dan teknologi yang mengolahnya.

Sektor kehutanan, kata Bambang, belum mengintegrasikan tiga penopang itu sehingga sumber daya alam melimpah tak menghasilkan produktivitas yang tinggi, nilai tambah bagi petani, dan naiknya daya saing produk. Penyebabnya, kelemahan manajemen dan rendahnya pemakaian teknologi.

Perhutanan sosial berniat mencapai itu. Sejauh ini pemanfaatan teknologi baru menyentuh soal legalisasi. Berkat digitalisasi, kata Bambang, jumlah hutan sosial yang sudah mendapatkan izin mencapai 3,5 juta hektare dari target 12,7 juta hektare. “Sampai Desember 2019 kami targetkan 4 juta hektare,” kata Bambang.

Jumlah itu, kata Bambang, melonjak dalam dua tahun terakhir setelah ia memakai aplikasi untuk menampung syarat administrasi. Problemnya, perhutanan sosial tak sekadar legalisasi, karena tahap terpenting dari hutan sosial yang bertujuan menanggulangi kemiskinan, mengurangi konflik sosial, dan meningkatkan tutupan hutan, adalah tahap setelah izin: bagaimana petani mengolah produk hutan mereka menjangkau pasar yang luas.

Keduanya membutuhkan manajemen yang rapi dengan memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar di luar wilayah hutan sosial sehingga produk itu punya daya saing tinggi. Menurut Bambang, dari 6.000 izin hutan sosial yang sudah diberikan baru tak sampai 1% yang produk hutan sosialnya sudah mandiri (kategori Platinum) dan mencapai pasar besar. Sisanya masih membangun manajemen, dan 59% kelompok terbanyak baru tahap persiapan setelah legalisasi.

Ada 4 kategori keberhasilan sebuah hutan sosial: selain Platinium yang mandiri pembicayaan dan mencapai pasar, ada Gold yang sudah memiliki sumber pembicayaan, punya pasar lokal yang loyal, dan mengolah bahan baku. Kategori Silver sudah punya perencanaan jangka panjang dan memiliki bisnis unit.

@ForestDigest

Cara mendorong mencapai pasar melalui on-farm dan off-farm. On-farm berupa dorongan dari pemerintah dengan menyediakan modal, mengajak off-taker, bibit, benih, dan alat usaha ekonomi agar produk hutan sosial punya keunggulan. Secara off-farm adalah mengolah produk tersebut agar punya nilai tambah.

Bambang mencontohkan kopi. Jika petani hanya menjualnya dalam bentuk cherry, harga jualnya hanya Rp 9.000 per kilogram. Jika petani mengolahnya terlebih dahulu sebelum dijual, harganya bisa naik 4-5 kali lipat. Ia mencontohkan Kelompok Tani Hutan Wono Lestari di Lumajang. Pisang yang dihasilkan dan diolah petani ditampung oleh SunPride yang memasarkan Pisang Kirana di pasar modern.

Profesor Hariadi Kartodihardjo, Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, mengingatkan bahwa industri 4.0 perlu diperhatikan agar manfaat teknologi ini lebih banyak dinikmati petani. “Jangan salah petani tak kenal industri 4.0,” katanya. “Pengakses teknologi maju adalah industri besar.”

Ia membandingkannya dengan perguruan tinggi. Para dosen dan guru besar akan bangga jika mereka bisa menulis jurnal yang terindeks Scopus dengan menulis dalam bahasa Inggris. Hasil penelitian yang dipublikasikan, berserta analisis dan rekomendasi, berasal dari penelitian-penelitian petani. Kebanggaan itu menjadi hampa karena ilmu dalam jurnal tak merembes ke petani. “Apakah bupati dan kepala dinas membaca jurnal-jurnal dalam bahasa Inggris?” kata Hariadi.

Menurut Hariadi, tujuan ilmu pengetahuan adalah bermanfaat dan berguna bagi petani sebagai penghasil produk dan pelaku kelestarian hutan di tingkat tapak. Ia menghimbau para akademikus turun ke lapangan dan menerjemahkan hasil-hasil penelitian dengan bahasa yang lebih membumi. “Buat saya menulis di jurnal itu sebagai administrasi saja, saya lebih senang bertemu langsung dengan petani, pejabat di daerah, sehingga ilmu pengetahuan bisa bermanfaat secara langsung,” kata dia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.