Kabar Baru | 26 September 2019

Setelah Terkurung di Gedung Manggala

Pengalaman terjebak di gedung Manggala Wanabakti karena tak bisa keluar kantor akibat semua pintu dikunci di sela demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR, 25 September 2019.

Asep Sugih Suntana

Anggota redaksi, pengajar di Swiss German University

IBU ini memegang tangan saya erat-erat. Ia meminta tolong agar dicarikan jalan keluar dari Gedung Manggala Wanabakti, gedung yang menjadi kantor pusat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan beberapa kantor perusahaan di Jalan Gatot Subroto, persis menempel dengan gedung MPR/DPR.

“Saya bawa anak, Pak,” ibu itu mengiba, menunjuk ke arah tiga anak dan pengasuhnya di lobi itu.

Para pegawai Kementerian dan karyawan perusahaan hilir mudik di lobi itu. Pada Rabu malam itu, 25 September 2019, kami terjebak di gedung ini. Semua pintu keluar ditutup karena polisi bentrok dengan massa siswa-siswa SMK—melanjutkan demonstrasi mahasiswa yang menuntut DPR menghentikan pengesahan setidaknya sepuluh Rancangan Undang-Undang bermasalah karena membuka kran otoritarianisme dan tindakan represif negara.

Ini hari kedua demonstrasi besar di DPR. Malam kedua tak ada mahasiswa karena yang datang ke sekitar DPR adalah siswa SMK. Menurut The Jakarta Post demonstrasi mahasiswa hari pertama merupakan demonstrasi terbesar pertama sejak 1998, tahun ketika mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR dan memaksa Presiden Suharto yang telah berkuasa 32 tahun mundur karena ditinggalkan para menteri, diimpit ekonomi yang ambruk, serta dituntut mahasiswa di seantero Indonesia.

Malam kemarin gedung Manggala juga dikunci dan membuat banyak karyawan telat pulang. Bentrok sebelumnya lebih dini karena mahasiswa membubarkan diri pukul 8 tapi masih terdengar tembakan gas air mata di Stasiun Palmerah. Mahasiswa masuk ke stasiun hendak pulang tapi polisi merangseknya ke sana.

“Masya Allah,” saya bergumam, tapi tak bisa menjawab lebih jauh. Seperti ibu dan anak-anaknya ini, saya dan ratusan karyawan di gedung ini terjebak sejak pukul 19.

Di stasiun Palmerah, di seberang gedung Manggala, masih sesekali terdengar tembakan gas air mata. Asapnya yang putih terlihat dari sana. Kami semua hanya menonton, seraya tak bisa berbuat apa-apa. Banyak orang yang berseliweran. Ada yang duduk di trotoar, bangku taman, bahkan ada yang terlihat frustrasi menyelonjorkan kaki di mobil mereka yang terparkir.

Hembusan angin di taman gedung Manggala itu membuat tenggorokan kering dan membuat mata basah karena perih.

Semua petugas satpam gedung Manggala hanya menggelengkan kepala ketika saya tanya seluruh akses keluar dari Manggala. Ada empat pintu keluar dan semuanya masih dikunci karena di luar pagar bentrok masih terjadi. Parkir juga penuh karena sepada motor dan mobil sudah menginap sejak malam sebelumnya karena terjebak tak bisa keluar pagar.

“Semua jalan ditutup, baik diblokir demonstran maupun oleh polisi,” kata seseorang satpam.

“Jangan lewat jalan layang Slipi,” kata seorang yang. Ia membungkus mukanya dengan kaos. “Banyak yang terkena batu. Di sana sedang perang batu.” 

Seorang kawan, yang menyediakan diri sebagai penghubung di kantor, menelepon dan mengabarkan bahwa  pintu belakang—pintu yang memisahkan kawasan gedung Manggala Wanabakti dan DPR/MPR RI—dibuka oleh pihak keamanan. Keadaan sudah agak kondusif menjelang pukul 1 dini hari itu.

Menurut kawan ini, kami bisa menyelinap ke arena DPR/MPR lalu keluar di depan arena lapangan tembak PERBAKIN di belakang Hotel Mulia. Konsentrasi massa telah beralih ke Slipi dan sekitar jembatan layang. Mereka sedang “perang batu” dengan polisi. Sementara jalan di stasiun Palmerah terlihat mengepulkan asap putih.

Saya teruskan info melegakan itu kepada si ibu dengan tiga anak dan pengasuhnya itu. “Aman, kan, Pak?” wajahnya masih terlihat bingung.

“Semoga aman. Ayo kita ikuti.”

Kami keluar gedung Manggala dan disambut udara bau gas serta mata perih. Kami melangkah cepat-cepat menuju pintu penghubung Manggala dan gedung DPR. Banyak polisi berjaga di sana.

Saya terperangah melihat truk-truk besar tentara telah dan sedang memasuki kawasan DPR. Lalu lalang kendaraan itu membuat keadaan bertambah mencekam. Kami bersepuluh tiba di pintu keluar gedung DPR. Malam semakin kelam...

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain