Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 27 Agustus 2023

Kenali Polusi Udara Jakarta. Apa Saja Kandungan dan Bahayanya

Ada banyak gas dalam polusi udara Jakarta. Semuanya berbahaya bagi kesehatan.

Jakarta didapuk sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia (foto: IQAir)

ADA saling-silang pendapat soal penyebab polusi udara Jakarta yang sedang menggulung ibu kota hari-hari ini. Langit Jakarta dipenuhi oleh polutan hingga berwarna kelabu. Sampai-sampai, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Presiden Joko Widodo batuk sudah empat pekan. 

Dokter kepresidenan, kata Sandiaga yang menjabat Menteri Ad Interm Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan batuk Presiden Jokowi yang tak kunjung sembuh akibat polutan yang masuk ke sistem pernapasan dari polusi udara. Padahal, meski beraktivitas di Jakarta, Presiden tinggal di Istana Bogor. Artinya, polusi tak hanya terjadi di wilayah ibu kota tapi merambah ke kota-kota aglomerasi.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sigit Reliantoro mengatakan sumber terbesar polusi udara Jakarta adalah sektor transportasi yang menyumbang 44%. Lalu sektor industri sebanyak 31%, manufaktur 10%, perumahan 14%, dan komersial 1%.

Industri manufaktur, kata Sigit, menyemburkan sulfur dioksida (SO2) sebanyak 2.673 ton per tahun. Sulfur dioksida adalah gas hasil pembakaran energi seperti batu bara yang merusak sistem pernapasan manusia jika terhirup. SO2 umumnya hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara. Gas buang kendaraan bermotor juga menghasilkan SO2 namun dalam jumlah sangat sedikit.

Menurut Sigit, meski terjadi penurunan penggunaan batu bara 4% akibat pandemi Covid-19 pada 2020-2022, emisi SO2 sebanyak 64% dari keseluruhan polutan dalam polusi Jakarta. Industri energi, seperti PLTU, menghasilkan SO2 sebanyak 1.071 ton per tahun.

Presiden Jokowi mengatakan aktivitas industri di sekitar Jabodetabek yang memakai bahan bakar batu bara menjadi penyebab polusi udara Jakarta. Ditambah musim kemarau, kualitas udara di Jakarta makin memburuk.

Selain SO2, berikut ini kandungan polusi udara Jakarta yang diambil dari dokumen Laporan Inventarisasi Emisi Polusi Udara Jakarta 2020 yang datanya diambil pada 2012-2018. Laporan ini disusun oleh Vital Strategies dari Amerika Serikat yang didukung Blomberg Philantrophies. Laporan ini menjadi acuan pemerintah dalam menangani polusi udara 2023.

Sumber polusi udara Jakarta

Karbon monoksida

CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau maupun berasa yang timbul akibat pembakaran tidak sempurna bahan bakar yang mengandung karbon. Gas ini tergolong kategori mudah terbakar dan beracun. Sumber CO dari sumber alami dan antropogenik (aktivitas manusia).

Secara alami CO dihasilkan gunung berapi dan kebakaran hutan. Sementara CO juga sebagai produk sampingan aktivitas manusia, di antaranya kendaraan bermotor yang mengemisikan lebih  dari 75%. Karbon monoksida umumnya naik ketika terjadi kemacetan atau pembakaran, sampah, dan aktivitas industri.

Monoksida tidak menyebabkan iritasi. Ia masuk ke tubuh manusia melalui napas lalu beredar dalam darah. Gas ini mampu mengikat hemoglobin yang mengikat oksigen. Daya ikatnya 240 kali lebih besar dibandingkan kemampuan Hb mengikat oksigen. Akibatnya, kapasitas darah mengangkut oksigen berkurang.

Pada konsentrasi di bawah 100 ppm, CO membuat pusing dan sakit kepala. Sementara jika konsentrasinya 667 ppm membuat separuh hemoglobin dalam terikat membentuk HBCO.

Nitrogen oksida (NOx)

NOx terdiri dari nitrogen oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Pembentukan NO2 di atmosfer terjadi melalui NO. NOx merupakan pemicu terbentuknya ozon (O3) dan hujan asam. NOX dapat bereaksi dengan komponen lain di udara membentuk partikel (particulate matter, PM). NOx terbentuk ketika bahan bakar suhu tinggi. NO2 adalah salah satu pencemar udara yang timbul akibat proses pembakaran.

NOx gas tak berwarna dan tidak berbau. Di perkotaan ia bisa terlihat kabut coklat. Jika terhirup ia membuat radang paru-paru, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bahkan kematian.

Sulfur dioksida (SO2)

Sulfur dioksida adalah spesies gas oksida sulfur (SOx). Gas ini sangat mudah larut dalam air, memiliki bau tapi tidak berwarna. Seperti Ozon, pencemar sekunder ini terbentuk dari Sox seperti partikel sulfat yang membentuk hujan asam. SO2 juga bereaksi dengan unsur lain membentuk PM.

Sulfur dioksida terbentuk oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan proses industri yang mengandung bijih metal seperti aluminium, tembaga, seng, besi, dan timbel. Sumber SO2 adalah pembangkit listrik batu bara, minyak, dan gas. SO2 bisa menyebabkan iritasi ISPA.

SO2 sangat berbahaya karena ketika bereaksi dengan zat lain ia akan masuk ke dalam sistem pernapasan yang bersifat korosif dan karsinogenik (penyebab kanker). Jika SO2 menghasilkan aerosol sulfat dan berada dalam tubuh manusia, penderitanya bisa mengalami gagal napas alias kematian.

Partikel halus dan Karbon hitam

Sumber partikulat dari sumber alami dan antropogenik. Sumber alami dari aktivitas gunung api dan debu. Sementara antropogenik bisa dari pembakaran bahan bakar fosil kegiatan industri dan asap kendaraan bermotor. Juga interaksi amoniak (NH3), SO2, dan hidrokarbon menghasilkan PM.

Dalam polusi, ada PM2.5 dan PM10. Arti angka dalam PM adalah ukuran partikulat dalam mikrogram. PM2.5 setara rambut dibelah 20. Saking halusnya, jika ia terhirup masuk ke dalam sistem pernapasan manusia membuat iritasi, bronkhitis, serangan jantung, hingga kematian.

Hidrokarbon

Hidrokarbon adalah gas dalam polusi yang beracun karena menyebabkan kanker. Hidrokarbon mudah menguap (volatile organic carbons, VOC) seperti benzena, formadehida, dan pelarut seperti toluene, xilen, perkloroetilen dan metilen khlorida, dioksi, abses, dan logam seperti cadmium, merkuri, chromium, dan timbel. Hidrokarbon juga pembentuk ozon traposfer. VOC diemisikan kendaraan bermotor, distribusi bahan bakar, industri manufaktur kimia, dan pelarut.

Ikuti percakapan tentang polusi udara Jakarta di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Redaksi

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain