Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 27 Juli 2023

Kemampuan Ekosistem Tropis Menyerap Karbon Semakin Melemah

Ekosistem tropis kian rentan akibat perubahan iklim. Kemampuannya melemah dalam menyerap emisi karbon.

Daya serap karbon ekosistem tropis menurun (foto: unsplash.com/Eutah Mizushima)

EKOSISTEM tropis, seperti hutan tropis, adalah ekosistem yang tangguh dalam menahan laju krisis iklim. Namun, baru-baru ini peneliti menemukan bahwa kelangkaan air menghambat kemampuan ekosistem tropis untuk menyerap karbon.

Dalam publikasi di jurnal Nature pada Mei 2023, peneliti menganalisis korelasi antara ketersediaan air di daerah tropis dan rekam jejak siklus karbon dalam rentang waktu 60 tahun. Hasilnya, mereka menemukan bahwa penyerapan karbon di ekosistem tropis sangat rentan terhadap kelangkaan air selama tahun 1960-2018. Dampak paling signifikan terlihat di antara 1989-2018.

Temuan ini tidak mengejutkan. Air memainkan peran penting dalam nutrisi tanaman dan fotosintesis. Air yang terbatas akan melimitasi kemampuan fotosintesis dan pertumbuhan tanaman membuatnya menjadi kurang efektif dalam menyerap karbon.

Selama 60 tahun terkahir, ekosistem tropis diperkirakan menyerap 32% emisi karbon yang dihasilkan oleh manusia, mencegahnya terangkat ke atmosfer dan memperparah pemanasan global. Namun, meningkatnya emisi karbon manusia membuat pemanasan global dan perubahan iklim memburuk.

Efeknya, peningkatan suhu, kelangkaan air, dan kekeringan membuat kemampuan ekosistem tropis dalam menyerap karbon berkurang dan membuat ekosistem tropis lebih rentan terhadap bencana iklim.

Tak hanya kemampuannya menyerap karbon, ekosistem tropis, khususnya hutan tropis, juga akan kehilangan simpanan biomassa dan karbonnya. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada Januari 2023, peningkatan suhu dan curah hujan berdampak terhadap ketersediaan biomassa di hutan tropis.

Hasilnya, suhu yang panas secara signifikan dapat mengurangi kemampuan hutan tropis untuk menyerap karbon dari atmosfer. Hal tersebut membuat cadangan karbon atau biomassa di hutan tropis terlepas ke atmosfer.

Hutan tropis menyimpan cadangan karbon yang banyak dalam bentuk biomassa, seperti bahan organik, pohon, tumbuhan, dan segala makhluk hidup yang hidup di ekosistem tersebut. Karbon yang tersimpan di hutan tropis sebanyak 50% dari total simpanan karbon yang ada di atas permukaan tanah, setara emisi karbon yang dihasilkan manusia selama 20 tahun.

Dengan eskalasi krisis iklim, cadangan karbon di hutan tropis berpotensi untuk terlepas. Berdasarkan studi tersebut, jika manusia menghasilkan emisi karbon yang rendah sekalipun, hutan tropis akan kehilangan 6,8% hingga 12% cadangan karbon di akhir abad 21. Apabila emisi karbon yang dihasilkan manusia tinggi, hutan tropis akan kehilangan lebih dari 20% cadangan karbonnya di akhir abad 21.

Peneliti juga menemukan hutan Amazon menjadi wilayah yang paling terdampak. Beberapa bagiannya akan menyusut dan menyumbang 40% dari total cadangan karbon yang hilang hingga akhir abad 21. Di satu sisi, meningkatkan emisi karbon menjadi "makanan" bagi hutan karena karbon dioksida adalah komponen utama dalam fotosintesis. Namun, karbon dioksida juga mengeskalasi perubahan iklim dan meningkatkan suhu bumi.

Suhu yang panas akan membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk tumbuhan berfotosintesis. Pada akhirnya, kenaikan suhu membuat daya serap karbon di hutan tropis berkurang.

Temuan itu memberikan pemahaman baru bahwa ekosistem tropis tidak setangguh seperti yang kita kira. Para peneliti dalam studi tersebut juga mengatakan bahwa tindakan reforestasi dan rehabilitasi di ekosistem tropis harus dipikirkan secara serius jika ingin mengurangi dampak dari perubahan iklim yang semakin memburuk. 

Ikuti percakapan tentang ekosistem tropis di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain