Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 27 September 2022

Penanganan Khusus Wabah PMK di Bali

Penanganan khusus wabah PMK di Bali yang akan menjadi tuan rumah G20. Seberapa efektif?

WABAH PMK atau penyakit mulut dan kuku yang menjangkiti ternak berkuku genap di Indonesia menjadi sorotan internasional. Sorotan itu terutama karena menjelang akhir tahun ini Konferensi G20 bakal digelar di Bali. Pemerintah daerah Bali melaporkan kasus pertama PMK pada sapi di Kabupaten Gianyar terjadi pada akhir Juni lalu.

Pengumuman itu membuat sejumlah negara semakin ketat menggelar pemeriksaan kepada orang-orang yang baru singgah dari Bali. Australia, misalnya, melakukan pengetatan dengan memasang karpet sanitasi—karpet basah yang berisi disinfektan, yang digelar pada berbagai jalur penumpang di Bandara.

PMK adalah penyakit flu hewan yang sangat mudah menular. Penyakit yang berasal dari virus ini bisa menular melalui kontak langsung, udara (karena sifatnya airborne) juga kontak tidak langsung melalui benda-benda. Alas kaki, merupakan medium paling populer penularan penyakit ini.

Penyakit PMK mengakibatkan kematian pada ternak yang berusia muda dan sebagian ternak dewasa. Namun, penyakit ini bisa mengurangi penurunan produksi hingga 80% pada sapi perah. Pada hewan berkuku belah lainnya, kambing, babi, domba dan kerbau, penyakit ini bisa membuat hewan kurus dalam jangka panjang. Pada sebagian kasus, gejala berupa hipersaliva serta luka-luka pada mulut dan kaki tidak selalu ada.

Pada Agustus lalu, misalnya, seorang turis asal Darwin, Australia, didenda AUS$ 2.664 karena luput melaporkan dua potong sosis sapi McMuffins dan croissant ham yang dibawanya. Makanan ini terendus anjing pelacak.

Menteri Pertanian Australia Murray Watt sampai mengumumkan pelanggaran tersebut. “Ini akan menjadi McDonalds termahal yang pernah dibeli penumpang ini,” katanya seperti dikutip ABC, seraya menyebut denda itu sama dengan dua kali harga tiket ke Bali.

Selandia Baru, yang salah satu fondasi ekonominya bertumpu pada sektor pertanian, juga memperketatperbatasan dan menggelar kampanye kewaspadaan umum.

Dengan mewabahnya PMK di Bali, Indonesia juga memperketat pengawasan hewan khusus untuk Bali. Satuan Tugas Nasional PMK mengatur pengetatan khusus untuk Bali melalui surat edaran Nomor 62022. “Dilarang melalulintaskan hewan ternak dan daging segar keluar masuk Bali,” kata Wiku Adisasmito, juru bicara Satgas PMK pada 20 September lalu. “Kecuali untuk babi yang bisa keluar dari Bali,” katanya.

Wiku juga menyebutkan babi yang akan dilalulintaskan juga tidak perlu divaksin. Padahal Babi merupakan amplifier yang bisa mudah melipatgandakan virus. Dalam Spillover: Animal Infections and the Next Human Pandemic, David Quammen menyebut virus PMK menyebar 30 kali lebih cepat jika menginfeksi babi.

Wiku mengatakan pemerintah daerah mempercepat vaksinasi bagi hewan yang tidak terinfeksi PMK, mendorong pengujian dan pengamanan ketahanan hayati. “Kami menargetkan herd immunity bisa mencapai 80% pada akhir Oktober 2022,” katanya. “Pemantauan rutin terus dilakukan untuk mensukseskan G20,” Wiku melanjutkan.

Untuk Konferensi G20 pula, Bali hanya memperbolehkan daging premium segar masuk provinsi ini. Produk olahan hewan diperbolehkan setelah melalui evaluasi kemasan.

Berdasarkan data resmi dari situs Siaga PMK, Bali tidak melaporkan adanya hewan ternak yang terpapar PMK sejak 1 Agustus 2022 lalu. Bali bersama tujuh provinsi lainnya masuk dalam zona putih, atau provinsi dengan zero reported case atau kasus nol pelaporan. Istilah ini diberikan ketika sebuah provinsi tidak melaporkan adanya kasus PMK selama sebulan dengan dua kali pemantauan berkala.

Data dari situs yang sama menyebutkan Bali merupakan provinsi dengan kasus potong ternak bersyarat tertinggi yaitu 553 ekor. Pemotongan ternak bersyarat (stamped out) hingga saat ini dianggap cara yang paling efektif untuk memusnahkan PMK secara cepat.

Tetapi, ABC melaporkan bahwa sejumlah tanda-tanda ternak terinfeksi PMK terlihat di beberapa area di Bali pada September 2022. Menurut ABC para peternak kecil yang memiliki hewan tersebut tidak mampu memanggil dokter hewan untuk memeriksa karena biayanya terlalu tinggi. Tanda-tanda seperti mulut berbusa, malas makan dan kaki membengkak terlihat dengan jelas.

Media tersebut juga melaporkan pejabat berwenang di Denpasar mengkonfirmasi temuan ABC bahwa ada 60 ternak yang dipotong bersyarat akibat PMK. Ross Ainsworth, dokter hewan yang pernah bekerja di perdagangan ternak di Australia dan kini tinggal di Bali, menyebutkan PMK merupakan penyakit paling menular kedua saat ini. “Penyakit itu sangat mudah menular, sehingga akan berada di sini untuk waktu yang lama,” katanya.

Presidensi G20 akan digelar pada 15-16 November 2022. PMK yang mewabah di Bali kini menjadi sorotan dunia. Satgas PMK mendorong pemerintah setempat mencapai target vaksinasi 80% untuk memperoleh herd immunity. Vaksinasi dilakukan dengan vaksi Aftopor dari Prancis. Indonesia juga menerima bantuan dari pemerintah Australia berupa satu juta dosis monovalent Apthogen Oleo.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain