Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 16 September 2022

Krisis Iklim Memperparah Bencana Kelaparan  

Laporan terbaru Oxfam menunjukkan 10 negara mengalami bencana kelaparan ekstrem. Naik dua kali lipat.

KRISIS iklim menambah parah bencana kelaparan. Laporan Oxfam, sebuah LSM, yang meneliti 10 titik pusat krisis iklim terparah menemukan bahwa bencana kelaparan ekstrem di kawasan tersebut naik lebih dari dua kali lipat selama enam tahun terakhir.

Sepuluh titik pusat krisis iklim terparah adalah Afganistan, Burkina Faso, Djibouti, Guatemala, Haiti, Kenya, Madagaskar, Nigeria, Somalia dan Zimbabwe. "Saat ini 48 juta orang di 10 negara tersebut menderita kelaparan akut, naik dari 21 juta pada tahun 2016,” tulis laporan yang dipublikasikan pekan pertama September itu.

Penyebab krisis iklim adalah pemanasan global. Pemanasan global dipicu oleh produksi emisi karbon yang menjadi gas rumah kaca di atmosfer akibat bumi tak sanggup menyerapnya. Emisi karbon adalah hasil aktivitas ekonomi manusia untuk bertahan hidup dan mencapai kemajuan.

Para ilmuwan di PBB sepakat bahwa bencana iklim yang mengancam umat manusia akan terjadi jika kenaikan suhu bumi melebihi 1,5C dibandingkan sebelum masa praindustri 1800-1850.

Saat ini kenaikan suhu bumi sudah berada di 1,2C dan dampaknya kian terasa. Gelombang panas tanpa akhir di negara-negara belahan bumi utara hingga hujan ekstrem yang menyebabkan 1/3 dari daratan Pakistan terendam banjir.

Ironisnya, negara-negara di pusat krisis iklim terparah, yang paling terpukul dengan bencana iklim merupakan negara yang menyumbang 0,1% emisi karbon global. Sementara negara-negara maju yang mengendalikan 80% ekonomi dunia dan memproduksi 76% emisi global tak merasakannya. Teknologi dan kemajuan membuat mereka lebih siap menghadapi dampak bencana iklim. Ketimpangan ini mendorong para aktivis menyuarakan keadilan iklim.

Sebagian besar negara-negara yang disorot dalam laporan Oxfam mengalami kekeringan parah, banyak di antaranya berada di Afrika. Somalia mengalami kekeringan terburuk dalam sejarah dengan 1 juta orang mengungsi, sementara di Kenya 2,5 juta ternak mati dan 2,4 juta orang kelaparan.

Produksi sereal di Nigeria turun 40% karena cuaca ekstrem, menyebabkan 2,6 juta orang dalam keadaan kelaparan akut, sementara penggurunan tanaman pangan dan padang rumput di Burkina Faso mengakibatkan lebih dari 3,4 juta orang menderita kelaparan ekstrem.

Asia menjadi satu wilayah yang paling rawan bencana iklim di dunia. Ini terkait meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.

Oxfam menulis bahwa banyak orang di Asia dan Pasifik yang tidak mampu membeli makanan sehat pada 2020. Goncangan ekonomi akibat pandcei Covid-19 yang terjadi pada tahun tersebut mendorong ketidakpastian sistem pangan dan pasar. Harga-harga melonjak dan memperburuk ketimpangan serta kelaparan.

Di Asia selatan, seperti India, Pakistan, Bangladesh, pemulihan ekonomi sangat berat. Hampir 70% populasi di kawasan ini bekerja di pertanian dan tinggal di perdesaan yang membuat mereka lebih rentan terpapar cuaca ekstrem. Krisis iklim akan memicu kelangkaan pangan.

Bencana angin topan, siklon, dan banjir memperdalam ketidaksetaraan di Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan India dan sebagian besar Asia Tenggara. Topan Haiyan pada 2013 merenggut 6.300 nyawa dan membuat lebih dari 4 juta orang di Filipina dan 880.000 lainnya di Vietnam mengungsi,

Topan Amphan pada Mei 2020, salah satu topan terkuat yang pernah tercatat, di wilayah antara India dan Bangladesh memaksa 2,4 juta orang di India dan 2,5 juta orang keluar dari rumah mereka.

Dipengaruhi oleh pemanasan lautan, siklon tropis di Asia timur dan tenggara telah menunjukkan kekuatan destruktif yang meningkat sejak 1970-an. Oxfam memprediksi kekuatannya akan berlipat ganda pada akhir abad ke 21.

ASEAN memperkirakan sekitar US$ 4,4 miliar nilai kerusakan rata-rata setiap tahun akibat bencana iklim. Laporan itu menulis bahwa pada 2030, lebih dari 38 juta pependuduk Asia dan Pasifik kemungkinan terkena bencana kelaparan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain