Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 10 September 2022

Akankah Charles III Jadi Raja Inggris Pro Lingkungan?

Pangeran Charles menjadi Raja Inggris. Akankah ia terus mengampanyekan isu perlindungan lingkungan?

INI pertanyaan yang mengemuka di Inggris sejak Charles Philip Arthur George menjadi Raja Inggris pada 8 September 2022. Sebagai anak tertua Ratu Elizabeth II, Charles otomatis menjadi raja menggantikan ibunya yang wafat pada hari yang sama di Kastil Balmoral, Inggris. Akankah Charles III menjadi Raja Inggris yang terus mengampanyekan perlindungan lingkungan?

Selama menjadi pangeran, Charles aktif menyerukan perlindungan lingkungan. Ketertarikannya pada isu lingkungan sudah terlihat sejak ia muda. Pada usia 21 pada 1970, dalam sebuah pidato di depan Steering Committee for Wales, Charles mengingatkan bahwa tantangan dunia kini adalah mencegah bahaya polusi di darat maupun laut akibat pembakaran energi fosil.

Sejak itu ia aktif dalam kampanye perlindungan lingkungan. Ia punya yayasan amal yang menyalurkan dana mencegah deforestasi. Salah satu sumbangan Pangeran Charles adalah untuk merestorasi Hutan Harapan di Jambi yang rusak akibat perambahan dan praktik pengelolaan hutan oleh industri yang tak lestari. 

Setelah izin HPH di Hutan Harapan—meliputi Jambi dan Sumatera Selatan—pemerintah memberikan izin restorasi ekosistem kepada PT Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia. Sebagai perusahaan restorasi, mandat perusahaan ini adalah melindungi Hutan Harapan dari perambahan dan kebakaran hutan. Sehingga hutan primer yang berubah jadi sekunder ini kembali tumbuh secara alami.

Hutan Harapan menjadi salah satu koridor hutan yang menjadi tempat perlintasan satwa-satwa langka seperti harimau Sumatera, gajah, beruang, dan pelbagai jenis burung yang hampir punah akibat kehilangan habitat. Dengan melindungi hutan ini dari penjarahan melalui program restorasi, satwa-satwa itu akan kembali memiliki habitat.

Sayangnya, gangguan terhadap Hutan Harapan terus berlangsung. Tak hanya konflik dengan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, kebijakan pemerintah juga acap menjadi ancaman pemulihan Hutan Harapan. Pada 2020, majalah Tempo mengungkap pemberian izin jalan tambang perusahaan batu bara di hutan ini.

Dengan pelbagai ancaman itu Pangeran Charles menaruh perhatian pada perlindungan Hutan Harapan. Pada 2008 ia mengunjungi hutan ini. Kedutaan Inggris menyatakan bahwa kunjungan dan niat Pangeran Charles melindungi Hutan Harapan sebagai inisiatif pribadinya.

Sejak muda, Charles suka dengan pertanian organik. Ia bahkan mendirikan perusahaan pertanian organik dan menginisiasi perjanjian hijau lewat pertanian nonkimia. “Dia mungkin figur paling terkenal dalam perlindungan lingkungan,” kata Tony Juniper, Kepala Natural England, yang menjadi penasihat Charles dan menulis dua buku bersama tentang lingkungan, kepada The Guardian.

Dengan menjadi Raja, Charles punya kans lebih besar terus mengampanyekan perlindungan lingkungan dari atas takhtanya. Akankah? “Jelas tidak,” kata Jonathon Porrit, mantan Ketua Partai Hijau, yang juga pernah menjadi penasihat Charles.

Menjadi Raja Inggris, kata Porrit, punya keterbatasan-keterbatasan. Kebebasan Charles mengampanyekan isu lingkungan saat menjadi pangeran akan berakhir ketika ia meneruskan mahkota ibunya.

Konstitusi Inggris mengharuskan Raja menarik diri dari campur tangan kebijakan politik pemerintahan yang dipimpin perdana menteri atau menyatakan sikap secara terbuka.

Secara tradisional Raja akan bertemu dengan perdana menteri setiap pekan. Percakapan empat mata itu biasanya rahasia, meski para perdana menteri suka membocorkannya secara halus kepada anggota kabinet atau tecermin dalam kebijakan-kebijakannya.

Lewat forum ini Raja Charles III bisa saja menyusupkan agenda politik perlindungan lingkungan untuk dimasukkan dalam kebijakan pemerintah Inggris.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain