Kabar Baru | 29 Maret 2019

Earth Hour untuk Bumi yang Lestari

Earth Hour adalah salah satu cara mencegah suhu bumi naik dengan menghemat energi. Satu jam mematikan listrik setara menanam 6.000 pohon.

Redaksi

Redaksi

SETIAP Sabtu terakhir bulan Maret, dunia mematikan lampu selama satu jam sebagai simbol menghemat energi listrik yang masih memakai energi fosil. Gerakan ini digagas World Wide Fund for Nature (WWF) pada 31 Maret 2007 di Sydney, Australia. Gerakan ini mengglobal dan merembet ke 7.000 kota di 188 negara.

Tahun ini Earth Hour jatuh pada 30 Maret 2019 pukul 20.30-21.30 yang disesuaikan dengan waktu masing-masing kota. Banyak laporan tiap negara yang menyatakan jumlah penghematan listrik selama pemadaman lampu tersebut. WWF mencatat rata-rata energi listrik yang bisa dihemat tiap negara selama Earth Hour sebanayk 4-5%.

Di Jakarta pada 2018, energi listrik yang bisa dihemat selama lampu-lampu di ruang publik dimatikan satu jam sebesar 170 megawatt atau 4,73% daya listrik. Di Bali jumlahnya 5% atau 41 megawatt.

Pada 2014, Energi Research melansir hasil penelitian bahwa selama enam tahun Earth Hour di sepuluh negara telah mereduksi 4 persen kebutuhan energi listrik. Angka ini setara dengan 1.380 penerbangan pesawat antara Hong Kong-Taipei. Jika dikonversi ke dalam penyerapan emisi, jumlah itu setara 138 ton karbon atau kemampuan 5.991 pohon menyerap CO2 selama setahun.

Emisi karbon menjadi isu utama planet bumi hari ini. Setelah Revolusi Industri yang memakai bahan bakar tak terbarukan selama 200 tahun, suhu bumi naik 0,8 derajat Celsius—seperti pemantauan satelit NASA akhir tahun lalu. Polusi dari energi fosil naik ke atmosfer dan memerangkap karbon di sana sehingga bumi memanas.

20190330060750.png

Angka pemanasan suhu permukaan bumi itu akan terus naik jika tak ada upaya kita yang sungguh-sungguh dalam mengurangi pemakaian energi yang tak ramah lingkungan, tak mengubah gaya hidup, dan memakai teknologi canggih yang mengeluarkan polusi.

Para ahli lingkungan yang bersidang di Konferensi Perubahan Iklim tahun lalu di Katowice, Polandia, bahkan memprediksi suhu bumi naik 1,5 derajat Celsius dalam 100 tahun mendatang jika tak ada upaya serius penghuni planet ini mencegah pemanasannya. Suhu setinggi itu akan sanggup mencairkan es di kutub utara yang berakibat naiknya permukaan laut dan membunuh koral di laut dalam.

Pemerintah Indonesia punya target menurunkan emisi 29 persen dengan upaya sendiri dan 12 persen dengan bantuan dunia internasional pada 2030. Target sebesar itu setara dengan hampir 900 metrik ton emisi karbon. Meski bukan penyumbang emisi karbon terbesar, sebagai negara tropis, Indonesia diharapkan serius menurunkan emisi karbon sekaligus membuat penangkalnya.

Maka negara-negara maju menyiapkan skema pembelian karbon Indonesia karena mengubah teknologi menjadi ramah lingkungan memerlukan waktu lama dan mahal. Mereka akan membeli pengurangan setiap ton karbon dari Indonesia yang bisa diserap dengan pelbagai penanganan, seperti penanaman pohon, penggantian energi fosil, hingga pengurangan sampah yang bisa memicu perubahan iklim.

Earth Hour adalah salah satu cara menguranginya. Tapi ini hanya gerakan simbol karena aktivitas yang lebih penting adalah setelahnya. Ketika membuat inisiatif Earth Hour pada 2007, WWF menargetkan kampanye ini meluas diikuti oleh penghematan energi fosil besar-besaran sehingga pemakaiannya tidak berlebihan dan menyesuaikan dengan laju kepunahannya.

WWF Indonesia menghimbau agar masyarakat beralih memakai transportasi publik karena polusi kendaraan bermotor menyumbang 11 persen emisi karbon nasional. Earth Hour adalah upaya kecil yang bisa dilakukan tiap individu untuk menyelamatkan planet bumi yang sedang sekarat ini.

Foto: Sydney Opera House (Wikipedia)

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain