Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|19 Juni 2022

Kisah Peternak Sapi Perah yang Bebas PMK di Daerah Wabah

Tidak semua hewan ruminansia terpapar PMK di daerah wabah. Kuncinya: disiplin protokol kesehatan.

DEDI Fachrudin punya peternakan sapi perah di Malang, Jawa Timur. Ketika wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) dilaporkan pertama kali menjangkiti ternak di Kabupaten Gresik, pada akhir April, Dedi langsung menerapkan protokol kesehatan di peternakannya. “Saya ikut anjuran para ahli,” katanya.

Yang pertama, Dedi membangun one-gate-system menuju kandang yang diisi 150 sapi perah. “Manusia dan apa pun yang masuk ke tempat saya harus terpisah dari kandang,” katanya. Dedi membangun area parkir khusus dan beberapa gerbang.

Ada gerbang khusus karyawan yang mengambil pakan, ada gerbang untuk karyawan yang memerah di kandang, dan gerbang lain untuk karyawan yang bekerja di pabrik pengolahan susu. “Gerbang untuk kandang sapi hanya bisa diakses karyawan yang mengurus kandang. Selama 24 jam gerbang digembok. Hanya yang memiliki akses khusus yang bisa masuk,” kata Dedi.

Gerbang-gerbang yang terpisah itu hanya bisa diakses oleh karyawan yang memang harus bekerja di sana. Setiap mereka masuk gerbang, para karyawan akan disemprot oleh cairan disinfektan. “Kalau masuk spray, lalu ganti baju sebelum kerja, spray lagi,” kata Dedi. Disinfektan yang ia gunakan berupa campuran hydrogen peroxide dengan beberapa bahan lainnya.

Ada 25 karyawan yang bekerja di peternakan Dedi di Malang. Semua karyawan yang berinteraksi dengan masyarakat sekitar ia wajibkan isolasi mandiri selama 2 x 24 jam. Sebab, hewan ternak milik tetangganya berjarak 500 meter dari peternakan Dedi sudah terjangkit PMK.

Dedi jelas khawatir. Dia peternak yang memiliki izin praktik sebagai dokter hewan. Sehingga dia paham seberapa besar dampak virus yang menyerang hewan ruminansia itu.

Penyebaran virus PMK sangat mudah. Virus ini bisa menyebar lewat kontak langsung, kontak tidak langsung, dan lewat udara. Menurut ahli kesehatan masyarakat veteriner Denny Widaya Lukman, virus bisa menyebar melalui benda-benda yang terpapar.

Misalnya, ada peternak yang sedang merawat sapi yang terinfeksi PMK, lalu setelah mandi dan berganti pakaian dia ke warung minum kopi, peternak ini bisa menularkan virus jika memakai peralatan yang sama di kandang. “Misalnya, dia pakai sandal yang sama dengan yang dipakai ke kandang," kata Denny.

PMK pada sapi perah bisa menyebabkan penurunan produksi. Apalagi kalau sudah ada lesi berat, kerusakan bisa permanen. "Produksi susu bisa berkurang 80 persen,” kata Dedi Fachrudin. Kalau sudah kena, kesembuhan hewan hanya ditentukan oleh imunitas hewan tersebut dan perawatan mandiri yang dilakukan peternak.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Muhammad Munawaroh, belum ada obat untuk menyembuhkan PMK. “Virus ini tidak ada obatnya,” kata Munawaroh. Pengobatan yang diberikan ketika ternak terpapar virus ini adalah terapi suportif yang membantu meningkatkan stamina. Jika terjadi infeksi baru bisa diberikan antibiotik.

Munawaroh menjelaskan bahwa virus penyebab PMK jarang menyebabkan kematian pada ternak. Ternak yang mati kemungkinan besar ternak anakan. Pada ternak dewasa, kematian biasanya disebabkan infeksi di bagian-bagian yang sulit dicermati peternak, seperti dalam mulut dan menyebabkan luka. “Karena infeksi, ternak tidak bisa berdiri dan makan, inilah yang bisa menyebabkan kematian,” katanya.

Dedi Fachrudin mengatakan penanganan dini terhadap sapi perah yang terpapar PMK bisa mengembalikan produksi susu hingga 70-80%, walaupun tidak pernah seperti semula. Syarat lain, hewan ternak dijaga agar tak terjadi lepuhan. Untuk mencegah lepuhan harus telaten merawat ternak dengan obat oles atau rehidrasi.

Dedi yang aktif sebagai dokter hewan juga melakukan kampanye dan supervisi pada 250.000 sapi perah milik peternak yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) di wilayah Jawa Timur.

Dalam sepekan, dia bisa 2-3 kali menggelar penyuluhan deteksi dini terhadap PMK, pentingnya protokol kesehatan dalam mengelola ternak, dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika hewan terpapar PMK. “Langsung pisahkan hewan yang terpapar PMK. Isolasi,” kata Dedi.

Setelah itu penting untuk menjaga sanitasi dan menjalankan protokol kesehatan. Walaupun, kata Dedi, sulit bagi peternak rakyat menjalankan protokol kesehatan. “Ini membutuhkan kedisiplinan. One-gate-system juga membutuhkan area yang luas,” kata Dedi. Berdasarkan perhitungan kasar, saat ini sekitar 30-40% ternak yang tercatat di GKSI sudah terpapar PMK.

Selain menerapkan protokol kesehatan, vaksinasi merupakan hal penting lain untuk mencegah virus meluas ke hewan ruminansia yang masih sehat. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah menyebutkan pada vaksinasi massal pencegahan PMK mulai digelar di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur pada 14 Juni 2022. Sebanyak 1.000 buah eartag secured QR code akan dipasang pada sapi yang telah divaksinasi.

Di laman Kementerian Pertanian, Nasrullah menyebutkan bahwa vaksin PMK yang digunakan berasal dari Prancis.

Menurut Denny, vaksinasi idealnya menggunakan sampel dari kawasan yang terkena wabah. Meski sama-sama terpapar virus serotype O, karakteristik virus berbeda-beda di tiap wilayah.

Karena pembuatan vaksin dari sampel kawasan membutuhkan waktu, tindakan preventif bisa dilakukan dengan menggunakan vaksin yang ada terlebih dahulu. “Lebih ampuh saja jika dari sampel yang diambil dari kawasan wabah,” kata Denny.

Dedi Fachrudin belum mendengar adanya rencana vaksinasi massal di wilayah Malang. Yang jelas, kata dia, vaksinasi harus dilakukan secepatnya. Soalnya, infeksi virus PMK berdampak pada kerugian ekonomi yang besar bagi peternak.

Sembari menunggu realisasi vaksinasi massal, protokol kesehatan cara mencegah penularan virus PMK paling murah. Dedi Fachrudin juga menerapkan protokol kesehatan di peternakan sapi potong miliknya di Padang, Sumtera Barat. Ketika peternakan tetangganya terjangkit, sapi-sapi milik Dedi tetap sehat. “Alhamdulillah, tidak ada ternak yang terpapar,” katanya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain