Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Mei 2022

Apa Saja Penyebab Banjir Rob Semarang

Banjir rob Semarang paling parah terjadi sejak 23 Mei 2022. Perigee bukan satu-satunya sebab.

TINGGI muka air laut di pesisir Semarang, Jawa Tengah, naik 39 sentimeter sejak 1950 atau rata-rata naik 7,36 milimeter per tahun. Itu kenapa penduduk yang tinggal di sekitarnya jamak mengalami rob, banjir akibat naiknya muka air laut, tiap jam 4 sore terutama di musim gerhana. Namun, rob pada 23 Mei 2022 lain dari biasanya.

Dika, penduduk Banyumanik, yang berjarak 20 kilometer dari pesisir pantai merasakan dampak yang sama dengan penduduk pesisir. "Air pasang melebihi tanggul," kata pemuda 21 tahun ini yang lahir di Jakarta tapi besar di Semarang ini. "Tanggul jebol, jadinya banjir besar."

Pelaksana Tugas Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan banjir rob Semarang terjadi di Pelabuhan Tanjung Emas setelah tanggul penahan air laut tidak mampu menahan kenaikan muka air laut yang tinggi. “Kedalaman banjir rob mencapai 1,5 meter di kawasan Lamacitra,” kata Abdul Muhari. Hingga 25 Mei 2022, ketinggian air masih 80 sentimeter di Pelabuhan Tanjung Emas. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan fenomena perigee dan fase bulan Purnama pada 13 Mei 2022. Perigee adalah sebuah kondisi ketika bulan berada pada titik terdekatnya dengan bumi. Ketika perigee terjadi bersamaan dengan bulan purnama, kejadian ini “berpotensi menyebabkan banjir rob di sebagian utara Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo.

Menurut pakar iklim dan meteorologi, Edvin Aldrian, perigee adalah fenomena yang rutin terjadi setiap 28 hari. “Ada banyak faktor yang menyebabkan banjir rob," kata ahli iklim di IPPC, badan ilmuwan di bawah PBB ini. "Perigee dan fenomena bulan purnama memang menyebabkan air laut naik lebih tinggi dari biasanya. Tapi dalam setahun kedua fenomena ini juga terjadi beberapa kali."

Direktur Observatorium Bosscha Premana W. Premadi membenarkan analisis Edvin. Dia juga ragu jika perigee satu-satunya penyebab banjir rob Semarang. “Perigee itu cuma sesaat. Karena bumi dan bulan terus bergerak. Sementara banjir bersifat menetap,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa perigean spring tide, fenomena naiknya air laut akibat perigee yang terjadi bersamaan dengan bulan purnama atau saat bulan baru, paling tinggi 8-10 sentimeter. “Kalau sampai 1,5 meter pasti ada pengaruh lain. Mungkin persoalan gelombang yang memang tinggi atau penurunan tanah,” katanya.

Penurunan tanah merupakan persoalan pelik yang terjadi di Semarang. Contoh paling nyata adalah Masjid Layur Semarang yang pada 1910 masih berdiri dua lantai, kini tinggal satu lantai akibat penurunan tanah. Mercusuar di pesisir Semarang juga mengalami nasib yang serupa.

Nila Ardhianie, Direktur Amrta Institute for Water Literacy, tengah menggelar penelitian terkait penurunan tanah ini bersama IHE Delft Institute for Water Education sejak 2021. “Penelitian ini baru akan selesai tahun depan, tapi sejauh ini ada beberapa temuan,” kata Nila ketika dihubungi.

Menurut Nila, salah satu penyebab banjir rob yang kerap melanda Semarang berhubungan dengan pengambilan air tanah dalam secara berlebihan dari akuifer. “Pengambilan besar-besaran dari akuifer ini menyebabkan terjadinya penurunan tanah (land subsidence) yang berdampak pada peningkatan risiko banjir,” katanya.

Berdasarkan penelitiannya, sebanyak 79,7% penduduk Semarang memakai air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari jumlah itu, sebanyak 48,6 % memakai air tanah dalam (ATDm), dan 31,1% menggunakan air tanah dangkal (ATDl).

Pemakaian air tanah dalam itu, kata Nila, dilakukan secara komunal melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang diinisiasi oleh pemerintah. Namun, yang membuat air tanah di bawah Semarang berkurang drastis, adalah karena PDAM masih menggunakan ATDm sebagai salah satu sumber air bakunya, kata Nila.

Selain itu, kata dia, amblesan tanah juga terjadi karena kompaksi atau pemadatan tanah alluvial. “Usia tanah di pantai utara Jawa itu terbilang masih muda, jadi beban bangunan bisa menyebabkan sedimen di bawah kota Semarang bergerak ke arah laut,” kata Nila.

Penurunan tanah bukan hanya dialami Semarang. Sebagian besar kota-kota pesisir di bumi juga menghadapi masalah serupa. Penelitian yang dilakukan Pei-Chin Wu, Meng Wei, dan Steven D'Hondt ini dilakukan dengan mengamati 99 kota pesisir menggunakan Radar Apertur Sintetis Interferometrik (InSAR). Hasilnya, sebanyak 33 kota-kota pesisir mengalami persoalan penurunan tanah yang lebih cepat dari pada naiknya permukaan laut.

Penelitian yang dipublikasikan pada 16 April 2022 dalam Geophysical Research Letter Volume 49 Issue 7 itu menunjukkan bahwa penurunan tanah tertinggi dialami kota Tianjin (Cina) sebesar 5,22 sentimeter per tahun, disusul Semarang sebesar 3,96 sentimeter per tahun dan Jakarta 3,44 sentimeter per tahun.

Khusus untuk Semarang, peta geologi menunjukkan daerah yang mengalami penurunan adalah alluvial yang merupakan tanah lepas, tidak terkonsolidasi mudah mudah terkikis air. Sedangkan daerah yang tidak mengalami penurunan adalah tanah dengan formasi damar yang tersusun oleh batu pasir, konglomerat dan breksi vulkanik.

Daerah yang mengalami penurunan terutama di kawasan permukiman dan industri. “Berdasarkan perbedaan litologi ini, penurunan muka tanah di Semarang kemungkinan besar disebabkan pengambilan air tanah,” tulis penelitian tersebut.

Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manusia—terutama ekstraksi air tanah—menjadi penyebab utama penurunan muka tanah yang pada akhirnya berdampak pada banjir rob di kota-kota pesisir, seperti Semarang.

Untuk mencegahnya, perlu ada intervensi kebijakan, bukan hanya membuat tanggul. Paling pokok adalah mencair persedian air untuk kehidupan sehari-hari tanpa menggunakan air tanah dalam.

Perhitungan lewat data Radar InSAR menunjukkan bahwa laju penurunan tanah di Jakarta dan Shanghai melambat secara signifikan berdasarkan data 2015-2020. Kebijakan pelarangan penggunaan air tanah dan penerapan pajak air tanah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta cukup signifikan mencegah penurunan tanah ibu kota. Kota-kota lain perlu menirunya sehingga kejadian banjir rob Semarang bisa segera teratasi.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain