Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|11 Mei 2022

Penyebab Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Pada Sapi

Wabah penyakit mulut kuku melanda ternak sapi di Jawa Timur. Apakah menular kepada manusia?

PENYAKIT mulut dan kuku (PMK) sedang menjangkiti sapi di beberapa tempat, terutama di Jawa Timur. Wabah penyakit mulut kuku ini meresahkan para peternak. Apa itu penyakit mulut dan kuku sapi?

Penyakit ini disinyalir dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar jika tidak ditangani secara serius. Lantas apa itu penyakit mulut kuku?

Sri Murtini, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University bidang mikrobiologi medik, menerangkan bahwa penyakit mulut dan kuku adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap/belah (cloven-hoofed).

Hewan berkuku genap meliputi sapi, kambing, domba, kerbau dan babi. Penyakit ini memiliki nama lain aphthae epizootica (AE), aphthous fever, foot and mouth disease (FMD).

Penyebab penyakit PMK adalah virus dari genus Apthovirus, keluarga (Famili) picornaviridae. Ada tujuh serotype PMK yang telah diidentifikasi, yaitu tipe Oise (O); Allemagne (A); German Strain (C); South African territories 1 (SAT1); SAT 2; SAT 3; dan Asia 1. Tipe O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3 dan Asia 1 tersebut yang secara imunologis berbeda satu sama lain.

Berdasarkan sejarah, Indonesia pertama kali diserang penyakit mulut kuku pada tahun 1887 di Malang. Penyakit itu lalu menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia dan sudah dilakukan pengendaliannya.

Pada 1983, penyakit mulut dan kuku meletup kembali di daerah Blora, Jawa Tengah. Upaya pengendaliannya dilakukan secara masif yang membutuhkan waktu tiga tahun berturut-turut sampai ternak dinyatakan bebas penyakit.

Penyebab wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia pada 1983 itu hanya disebabkan oleh satu serotipe, yaitu serotipe O. “Sedangkan tipe yang mewabah saat ini sedang dalam proses identifikasi” ujar Sri kepada Forest Digest, 11 Mei 2022.

Tanda penyakit mulut kuku ini berupa pembentukan vesikel/lepuh dan erosi di mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku. Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, maka penyakit ini mudah tersebar. “Virus ini mudah menyebar melalui udara dan penyebarannya sangat cepat sehingga begitu menyerang seekor hewan dengan cepat virus menyebar ke hewan lainnya” terang Sri.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian per 5 Mei 2022, kasus penyakit mulut kuku telah melanda sekitar 1.296 ekor sapi di Jawa Timur. Menurut Sri, hal ini bisa disebabkan oleh masuknya produk hewan atau jeroan yang mengandung virus.

Masuknya hewan yang telah terinfeksi dari daerah endemis seperti negara tetangga Indonesia juga bisa menjadi penyebabnya. “Bisa jadi karena seluruh produk itu dimasukkan secara ilegal karena tak melewati badan karantina terlebih dulu,” Tambah Sri.

Kementerian Pertanian berupaya untuk melakukan pencegahan penularan penyakit ini. Usaha tersebut antara lain seperti membatasi lalu lintas ternak, surveilance, tindakan biosecurity dan pemotongan atau pemusnahan hewan yang terjangkit. “Lalu lintas ternak sudah kita awasi baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, sementara untuk pemotongan hewan juga sudah kami berikan surat edaran untuk dilakukan secara ketat,” ujar Nasrullah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, di laman Kementerian Pertanian.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) tidak menular ke manusia. Pada hewan, penyakit ini bisa menyebar dengan cepat di wilayah dengan suhu yang sejuk dan sapi berdekatan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain