Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|31 Desember 2021

Sel T Efektif Menghajar Omicron

Studi terbaru menunjukkan sel T mampu menghajar Omicron. Bisa dari vaksin atau kekebalan yang cukup.

HARAPAN pandemi segera berakhir dan berganti endemi kian terbuka. Sebuah studi terbaru peneliti Universitas Cape Town Afrika Selatan menunjukkan imunitas tubuh dari infeksi sebelumnya dan vaksinasi sanggup melawan Omicron, varian terbaru Covid-19. Kekuatan itu berasal dari sel T atau sel tymus.

Temuan ini mengkonfirmasi mengapa pasien yang terinfeksi varian Omicron tidak mengalami gejala parah seperti Delta, meski mutasi Omicron 3-4 kali lebih banyak dibanding varian Beta atau Delta. Rupanya, karena sel T mampu mengenali varian Omicron lalu membunuhnya. 

Dari studi peneliti Cape Town itu juga terungkap bahwa sel T terbentuk dari infeksi virus sejenis sebelumnya. Para peneliti menemukan bahwa respons sel T masih bekerja bahkan setelah infeksi virus corona pertama pada 2003. 

Juga dari vaksinasi. Respons sel T dari vaksin yang masih mengenali varian Omicron lalu menumpasnya juga menunjukkan bahwa vaksinasi adalah cara terbaik melawan virus. Dengan kekebalan yang cukup, Omicron tetap bisa menginfeksi tapi sel T akan mengurangi dampaknya. 

“Jadi, mereka yang mendapatkan vaksin 1-6 bulan lalu masih memiliki sel T yang bisa mengenali Omicron,” kata Profesor Wendy Burgers melalui Twitter.

Sel T adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh manusia. Huruf T dalam penamaannya berasal dari tymus, organ yang berada di belakang tulang dada, tempat produksi sel darah putih ini.

Dalam dunia medis, sel T acap disebut pasukan khusus dalam sel darah putih karena bekerja secara efektif mencegah mutasi virus dan mencegah infeksi.

Sel T terbentuk dari pelbagai aktivitas yang menyehatkan, seperti tidur cukup, olah raga, tidak mengonsumsi alkohol dan merokok, berpikir positif. Orang yang memiliki sel T yang melimpah cenderung lebih sehat, awet muda, karena sel tersebut secara aktif membunuh pelbagai virus yang masuk ke dalam tubuh.

Temuan para peneliti Cape Town juga mengukuhkan dugaan epidemiolog Indonesia bahwa varian Omicron sudah lama masuk ke sini namun tak terdeteksi karena gejala yang ditimbulkannya ringan. Banyak orang tak sadar mereka terinfeksi karena tak merasa sakit.

Epidemiolog UI Pandu Riono, misalnya, bahkan menduga masyarakat Indonesia sudah mengalami kekebalan kelompok karena terinfeksi virus corona dan sembuh sendiri berkat kekebalannya yang tinggi.

Maka meski vaksinasi belum menjangkau 100% penduduk, terjadi penurunan jumlah infeksi yang drastis dalam dua bulan terakhir.

Namun, mengingat vaksin menjadi cara ampuh meredakan dampak infeksi, vaksinasi tetap menjadi satu-satunya cara membebaskan segera dunia dari pandemi Covid-19. Temuan peneliti Universitas Cape Town atas kerja sel T membunuh Omicron memperbesar harapan ini.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain