Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|14 Desember 2021

Dilema Mengatasi Krisis Iklim

Perubahan iklim masalah yang pelik. Di Indonesia ada dilema antara ekonomi dan lingkungan.

KRISIS iklim merupakan masalah yang pelik karena menyangkut siklus alam yang rusak akibat aktivitas manusia. Ketika memperbaiki satu kerusakan, akan berakibat pada bergesernya sektor yang lain.

Contohnya mengurangi metana. Sebagai gas rumah kaca, sesungguhnya ia diperlukan oleh bumi agar planet ini tak membeku. Tapi menguranginya dengan drastis akan menghentikan pembangunan mengingat metana merupakan gas yang keluar dari pelbagai polutan berat, seperti semen, beton, peternakan.

Dampak dan pengaruh krisis iklim menghantam berbagai aspek kehidupan manusia. Pada COP26 di Glasgow, Skotlandia, negara-negara berkomitmen untuk secara serius melakukan mitigasi krisis iklim.

"Tantangannya sekarang bagaimana mengubah komitmen tersebut menjadi aksi, ini tugas yang pelik," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Tempo Economic Briefing 2022, Selasa 14 Desember 2021.

Sri Mulyani mengatakan masalah yang pelik adalah transisi penggunaan energi berbahan fosil menjadi energi terbarukan. Sebab Indonesia memiliki banyak sekali sumber energi fosil, baik itu minyak bumi, gas maupun batu bara.

Di satu sisi transisi energi suatu keniscayaan, di sisi lain kebutuhan listrik terus meningkat. Faktor inilah yang membuat Sri Mulyani bersama menteri keuangan dunia mendesain Energy Transition Mechanism (ETM) bersama Asian Development Bank (ADB).

ETM dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan energi listrik yang besar, namun bagaimana kebutuhan yang besar ini tidak disertai dengan emisi CO2 yang makin tinggi dan buruk sehingga menyebabkan perubahan iklim.

Dalam penerapan ETM dilakukan dengan kerja sama global dan dalam negeri. Di dalam negeri, pemerintah akan bekerja dengan PLN dan dunia usaha untuk melakukan desain trasisi konsumi listrik yang terjangkau dari segi biaya.

Biaya tidak hanya dari perusahaan tapi juga biaya dari masyarakat. Bagaimana masyarakat mendapatkan listrik yang terjangkau, lalu bagaimana dengan implikasi APBN karena ada subsidi juga implikasi perpajakan. "Ini desain yang sedang kami pikirkan," kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani kunci mengatasi peliknya krisis iklim adalah teknologi dan pendanaan. Dalam hal pendanaan, Kementerian Keuangan membuat inovasi dengan menerapkan skema pendanaan campuran (blended finance).

Pendanaan campuran yakni menggabungkan keinginan dan sumber daya yang berasal dari APBN, APBD, maupun BUMN, swasta, dan dari para filantropis di Indonesia dan global hingga institusi bilateral dan multilateral. "Inovasi pendanaan ini untuk mengatasi krisis iklim secara bersama dan konsisten," kata Sri Mulyani.

Indonesia membutuhkan dana mitigasi krisis iklim sebesar Rp 3.779 triliun untuk menurunkan emisi 29% sampai 2030. Sektor energi membutuhkan biaya paling besar untuk menurunkan emisi yakni sebanyak Rp 3.500 triliun.

Masalahnya, jika publik dan industri beralih ke energi terbarukan, ada pasokan listrik PLN yang berasal dari batu bara akan terabaikan. Saat ini sistem listrik Jawa-Bali sudah berlebih ditambah menurunnya permintaan industri akibat pandemi Covid-19.

Maka regulasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap masih tarik ulur agar bisa menyediakan energi bersih tanpa merugikan PLN sebagai perusahaan negara. Desain energi bersih juga tak memiliki induk karena RUU Energi Baru dan Terbarukan tak kunjung disahkan DPR.

Sepanjang masih bergantung pada batu bara, Indonesia akan selalu bertemu dilema dalam mengatasi krisis iklim: antara lingkungan dan ekonomi.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain