Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|11 Desember 2021

Standar Ukuran Sumur Resapan

Pemerintah Jakarta membangun sumur resapan. Konstruksinya tak menjadi solusi banjir.

PEMERINTAH DKI Jakarta tengah membangun sumur resapan. Targetnya bisa membangun 1 juta sumur resapan untuk memenuhi janji kampanye Gubernur Anies Baswedan yang hendak menyelesaikan banjir dengan menyerap genangan air dalam waktu enam jam.

Konsepnya sederhana: sumur resapan menjadi duplikasi daerah tangkapan air. Sehingga air yang melimpas dari sungai yang mendangkal atau tak tertampung karena permukaan Jakarta sudah beton dan aspal akan terserap ke sumur ini.

Masalahnya, apakah tanah Jakarta cukup menyerap air sebanyak banjir Jakarta yang mencapai 1,5 meter? Ini pertanyaan krusial mengingat permukaan tanah Jakarta kian rendah dari permukaan laut di utara Jawa.

Menurut Suria Darma Tarigan, dosen Fakultas Pertanian IPB University, di mana pun sumur resapan berkontribusi kecil dalam pengendalian banjir. Apalagi jika curah hujan mencapai 90-100 sentimeter sehari. “Jadi sumur resapan bukan solusi banjir Jakarta,” kata Suria seperti termuat daalm web IPB.

Satu sumur resapan Jakarta kira-kira akan menampung 2-3 m3 air. Maka jika ada 1 juta sumur, daya tampung sumur resapan sebanyak 3 juta m3 atau 3 miliar liter air. Tiap 1 milimeter curah hujan di Jakarta menumpahkan 661,52 juta liter air.

Maka total kapasitas sumur resapan di Jakarta hanya mampu menampung curah hujan maksimal 4,5 milimeter sehari. Sementara hujan paling kecil di Jakarta terjadi pada Agustus sebesar 48 milimeter. Artinya, sumur resapan bukan solusi utama mengendalikan banjir. Solusi permanen adalah memperbaiki sungai, situ, waduk di hulu sehingga volume air yang sampai di Ibu Kota tak melebihi daya tampungnya.

Problem lain sumur resapan terkait dengan tinggi muka air tanah. Menurut Suria, tinggi muka air tanah yang efektif untuk membuat sumur resapan adalah lebih dari 2,5 meter dengan permeabilitas tanah 2 sentimeter per jam.

Artinya sumur resapan yang tidak memenuhi kriteria itu, tidak akan bisa menyerap air limpasan menjadi air tanah. “Makin dalam muka air tanah, sumur resapan semakin efektif,” ujar Suria.

Muka air tanah yang dalam juga menunjukkan daya serap tanah masih bagus. Karena itu jika pemerintah Jakarta hendak mengebor sumur resapan hingga 20 meter, bukan menjadi bagian dari konsep muka air tanah.

Karena itu, pemilihan lokasi untuk pembangunan sumur resapan perlu diperhatikan. Trotoar atau aspal yang tanah intinya sudah tertutup, lama kemudian dibuka kembali untuk sumur resapan biasanya memiliki tinggi muka air tanah yang dangkal karena air lebih banyak mengalir melalui limpasan. 

Air muka tanah yang dangkal ini juga bisa menjadi bagian dari penyebab banjir. Menurut Surya di Jakarta masih banyak lokasi yang memiliki muka air tanah yang dangkal dengan tinggi 1-2 meter.

Dangkalnya muka air tanah itu bisa meluapkan air limpasan yang masuk karena tidak sebanding dengan kapasitasnya menampung dan lama penyerapan airnya.

Kontur Jakarta juga perlu menjadi perhatian. Struktur tanah Jakarta makin meninggi ke selatan. Artinya, sumur resapan mestinya dibangun lebih banyak di Jakarta selatan agar air mengalir ke utara yang lebih rendah. Masalahnya, jika tanah di utara Jakarta lebih rendah dari permukaan laut, solusi ini juga akan terbentur.

Solusi mengatasi banjir Jakarta yang permanen adalah pengelolaan daerah aliran sungai terpadu (PDAST). Masifnya pembangunan di wilayah tengah dan hulu yang mengubah tutupan lahan adalah bukti bahwa pengelolaan DAS masih mengedepankan kepentingan wilayah. 

Kenyataan itu menunjukkan pengelolaan DAS belum terintegrasi. Pengelolaan DAS tak mengenal teritorial. Artinya membuat solusi banjir hanya di Jakarta dengan sumur resapan tak akan menyelesaikan masalah karena problemnya ada di Depok, Bogor, Tangerang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain