Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|13 Oktober 2021

Kerugian Ekonomi Akibat Bencana Iklim

Krisis iklim membuat kerugian ekonomi ratusan triliun. Ekonomi sirkular bisa menyelamatkannya.

KRISIS iklim menimbulkan biaya sosial dan ekonomi. Pelbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, topan, kekeringan, suhu ekstrem membuat hidup manusia dan semesta terancam. Selain itu, dampaknya yang panjang membuat perbaikannya membutuhkan ongkos tak sedikit.

Menurut perhitungan McKinsey, lembaga konsultan, kawasan Asia akan terdampak krisis iklim dengan kerugian ekonomi sebesar rata-rata US$ 2,8- 4,7 triliun setahun pada 2050. Sementara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memperkirakan kerugian ekonomi akibat krisis iklim sebesar Rp 115 triliun pada 2024. 

Nilai kerugian ekonomi akibat bencana iklim itu bisa diturunkan, menurut Bappenas, menjadi Rp 57 triliun jika Indonesia melakukan mitigasi krisis iklim. Salah satunya melalui pembangunan rendah karbon dan ekonomi sirkular.

Ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi restoratif yang berkebalikan dengan ekonomi tradisional yang prosesnya buat, pakai, buang. Sehingga ekonomi sirkular cocok dengan perlindungan lingkungan sekaligus kepentingan ekonomi yang acap menghabiskan sumber daya alam. Ekonomi sirkular menuntut pemakaian sumber daya selama mungkin.

Menurut Bappenas, Indonesia—dengan kekayaan sumber daya alam dan teknologi madya—memiliki potensi besar dalam menghidupkan ekonomi sirkular. John Sterman, profesor MIT Sloan Sustainability Initiative, juga punya pendapat sama bahwa Asia punya potensi besar dalam ekonomi hijau yang berkelanjutan, dalam pengantar konferensi Leadership for Enterprise Sustainability Asia (LESA) 2021 di Kuala Lumpur.

LESA 2021, pada November mendatang, mengundang para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, pengusaha, dan individu membicarakan tantangan dan solusi yang didukung ilmu pengetahuan dan layak secara ekonomi, serta teknologi, untuk beradaptasi dan menghadapi ekonomi perubahan iklim. “Daripada wait and see, tiap individu bisa memulainya sebelum dampak bencana iklim tak bisa diubah lagi,” kata Charles Fine, profesor Asia School of Business.

Menurut Sterman, masyarakat jauh lebih siap dalam beradaptasi dan mitigasi krisis iklim karena tiap individu lebih peduli lingkungan ketimbang institusi. “Masalah utamanya adalah orang-orang kewalahan dengan kerumitan dan penundaan yang lama,” katanya dalam rilis LESA pada 12 Oktober 2021.

Sterman memakai ilustrasi yang sama dengan Bill Gates dalam How to Avoid Climate Disaster untuk melukiskan krisis iklim, yakni analogi bak mandi. Ketika kita terus menerus mengisikan remisi ke bak mandi, suatu saat isinya akan luber dan tumpah dan manusia akan turut hanyut. “Kita mesti melatih pilot menghadapi air tumpah,” katanya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain