Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|30 April 2021

Penjualan Mobil Listrik Naik 39%

Penjualan mobil listrik naik pesat selama masa pandemi virus corona tahun lalu. Perlu segera didukung transisi energi bersih.

PANDEMI virus corona memukul pelbagai industri, termasuk industri otomotif. Pasar mobil global mengalami kontraksi 16% atau turun 6% pada 2020. Tapi seolah melawan tren global, pasar mobil listrik justru melonjak.

Tren penjualan mobil listrik selama 2020 tumbuh 41%, meneruskan tren global selama satu dekade terakhir. Menurut Global Electric Vehicle Outlook 2021 dari International Eenergy Agency dalam rilis mereka pada 29 April 2021, sebanyak 3,2 juta mobil listrik baru terjual pada 2020, naik 39,5% dibanding 2019. Pada 2019, jumlah mobil listrik di Eropa, Amerika Serikat, Cina, dan sejumlah negara sebanyak 8,1 juta unit.

Tren itu terus berjalan hingga awal tahun ini. Pada kuartal pertama 2021, penjualan mobil listrik hampir dua-setengah kali lipat periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan mobil listrik tahun lalu membuat jumlah mobil listrik yang sudah mengaspal di seluruh dunia mencapai 11,2 juta unit, sekitar 1 juta unit berupa van, truk, dan bus.

Untuk pertama kalinya pada tahun lalu, Eropa menyalip Cina sebagai pusat pasar mobil listrik global. Pendaftaran mobil listrik di Eropa meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 1,4 juta, sementara di Cina hanya naik 9% menjadi 1,2 juta.

“Kendaraan listrik memiliki peran yang sangat penting untuk dimainkan dalam mencapai emisi nol-bersih di seluruh dunia, '' kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA. “Tren penjualan saat ini sangat menggembirakan, tetapi tujuan iklim dan energi kita bersama membutuhkan penyerapan pasar yang lebih cepat.”

Pemerintah, kata Birol, harus melakukan pekerjaan dasar penting untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik dengan memakai paket pemulihan ekonomi untuk berinvestasi dalam pembuatan baterai dan pengembangan infrastruktur pengisian daya yang tersebar luas dan andal.

Menurut prediksi IEA, kendaraan listrik akan tumbuh signifikan selama dekade mendatang. Berdasarkan tren dan kebijakan saat ini, IEA memproyeksikan jumlah mobil listrik, van, truk berat, dan bus di jalan raya di seluruh dunia akan mencapai 145 juta pada tahun 2030. Tetapi armada global dapat mencapai 230 juta jika pemerintah mempercepat upaya mencapai mitigasi iklim dan energi internasional.

IEA memperkirakan tren kendaraan listrik akan naik lebih cepat jika pemerintah di seluruh menepatkan target lebih ambisius mencapai emisi nol-bersih pada 2050. 

Belanja konsumen untuk mobil listrik meningkat 50% tahun lalu menjadi US$ 120 miliar. Meski subsidi pemerintah tetap penting tuk memacu penggunaan kendaraan listrik, kata IEA, hal ini menunjukkan bahwa penjualan lebih banyak didorong oleh pilihan konsumen.

Pada 2020, produsen menawarkan 370 model mobil listrik, meningkat 40% dari tahun ke tahun. Delapan belas dari 20 produsen mobil terbesar dunia telah mengumumkan niat untuk lebih meningkatkan jumlah model yang tersedia dan menaikkan produksi kendaraan listrik ringan. Produsen mobil ini menyumbang 90% dari semua penjualan mobil global.

Global Electric Vehicle Outlook 2021 mencatat bahwa kebijakan pemerintah menahan penurunan penjualan mobil pada 2020 melalui dukungan fiskal dan stimulus covid-19. Negara-negara maju juga mempromosikan posisi kompetitif kendaraan listrik dengan memperkuat ekonomi bahan bakar dan standar emisi, serta menggandakan dukungan mengembangkan teknologi baterai dan infrastruktur stasiun pengisian daya. 

Moda transportasi jalan raya yang paling banyak menggunakan listrik saat ini adalah kendaraan roda dua dan tiga dengan lebih dari 25 juta unit terjual, sebagian besar di Asia. Truk berat adalah segmen mobil listrik mulai tumbuh dengan kuat, karena kinerja baterai meningkat dan jarak tempuh yang lebih panjang. 

Kendaraan listrik memiliki peran penting dalam mengatasi emisi. Memakai “roda berpenggerak”, mendorong kontribusi mobil listrik mengurangi emisi. IEA memperkirakan akan tumbuh seiring dengan laju penurunan karbon pembangkit listrik. Sekarang total emisi dari sektor transportasi sebanyak 8 miliar ton CO2, 21% dari total emisi karbon dioksida atau 15% dari total emisi gas rumah kaca.

Perkembangan menarik ini menunjukkan satu hal bahwa pemerintah perlu segera memikirkan kebijakan transisi energi bersih secara holistik lintas sektor. Tujuannya cuma satu: agar kemajuan di bidang otomotif selaras dengan kemajuan di bidang lain.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain