Kabar Baru | 17 April 2019

Rekayasa Genetika Memutus Malaria

Para ilmuwan telah berhasil memutus kromosom nyamuk malaria untuk mencegah persebarannya. Soal keimbangan alam masih jadi pertanyaan.

Redaksi

Redaksi

RATUSAN tahun para ahli coba menemukan cara mencegah virus malaria. Virus yang ditularkan nyamuk Anopheles gambiae ini telah menjangkiti 200 juta orang dan membunuh 600 ribu orang tahun lalu, terbanyak anak-anak di bawah lima tahun.

Cara yang dipakai manusia mencegah malaria adalah dengan menyemprotkan insektisida atau obat nyamuk bakar. Namun, cara ini tak bagus bagi lingkungan. Insektisida akan membuat lingkungan nyamuk rusak bahkan mendorong adanya mutasi gen. Manusia dan planet bumi akan terdampak dengan cara membasmi malaria melalui jalan ini.

Para ilmuwan di Imperial College London, yang bekerja sama dengan The Fred Hutchinson menemukan cara lebih efektif. Penelitian sejak 2014, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communication itu, menyimpulkan bahwa malaria bisa dicegah dengan lebih efektif melalui rekayasa genetika.

Caranya, memutus kromosom X—gen yang menurunkan jenis kelamin perempuan—di sperma nyamuk laki-laki. Dengan cara ini keturunan Anopheles akan musnah karena tidak bisa menggigit manusia dan berkembang biak.

Telur malaria masuk ke dalam darah manusia melalui gigitan nyamuk perempuan. Mereka membutuhkan darah manusia sebagai tambahan protein untuk reproduksi. Dengan mendorong nyamuk menjadi jantan, nyamuk yang menggigit manusia tidak menularkan malaria dan jumlahnya akan semakin berkurang.

Para ahli di The Fred memastikan cara ini tidak merusak lingkungan, baik mempengaruhi spesies nyamuk maupun terhadap keseimbangan alam. Ada 3.000 jenis nyamuk yang ada di dunia, hanya 5-6 jenis yang menyebabkan demam berdarah, demam kuning, dan zika (Aedes aegypti), chikungunya (Aedes aegypti atau Aedes albopictus), kaki gajah (Culex, Anopheles, Mansonia, dan Aedes), radang otak Culex tritaeniorhynchus).

Menurut Dr. Barry Stoddard, membunuh satu spesies nyamuk tak akan membuat komunitas nyamuk bermasalah dan mengganggu keseimbangan lingkungan. “Saya percaya ini cara yang lebih unggul ketimbang tak melakukan apa-apa lalu melihat orang mati,” katanya. Dengan jumlah angka yang besar itu, malaria memang jadi hewan pembunuh paling ganas.

 

Yayasan Bill dan Melinda Gates sangat antusias dengan temuan ini. Mereka mendanai penelitian Imperial College dan The Fred Hutch sejak 1990 untuk menemukan cara paling ampuh mencegah malaria. Dalam blognya, Bill sangat cemas dengan angka kematian manusia akibat malaria, terutama di benua Afrika. Menurut Bill, rekayasa genetika itu bisa menjadi titik balik penyelamatan manusia dan planet ini.

Masalahnya adalah nyamuk jenis serangga yang paling kuat dalam beradaptasi dengan lingkungan. Seleksi alam melalui rekayasa genetika belum tentu akan membunuh semua nyamuk malaria. Bisa jadi para nyamuk jantan beradaptasi, dengan cara yang misterius dan belum diketahui, dengan lingkungannya untuk mencegah bangsa mereka dari kepunahan.

Menurut Carl Sagan, ahli dan peneliti alam semesta, evolusi adalah cara mahluk hidup mempertahankan diri. Sama halnya dengan binatang-binatang purba yang punah bentuknya tapi mempertahankan diri dalam bentuk lain karena menyesuaikan diri dengan alam. Atau banyaknya temuan hewan-hewan baru di muka bumi karena pengetahuan yang terbatas dan luasnya misteri semesta.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.