Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|11 Oktober 2020

Mengawetkan Kenangan Melalui Pohon

Di Kanada ada kebiasaan menanam pohon untuk mengenang seseorang. Lebih memberikan aura positif ketimbang membangun monumen batu.

KETIKA sedang menyusuri warna-warni daun musim gugur di sebuah hutan kota di Ottawa, ibu kota Kanada, saya melihat batu mengkilap di bawah sebuah pohon mapel. Di atas batu itu berukir beberapa kalimat. Saya terkesiap karena menyangka tengah menginjak kuburan. 

Batu itu memang mirip batu nisan. Tulisannya "in memory of.." di bawahnya nama seseorang, keterangan ia lahir dan meninggal. Rupanya, “batu nisan” semacam itu ada banyak di taman kota ini. Penduduk Ottawa menanam pohon untuk mengenang orang yang mereka cintai. Tentu saja di bawah pohon itu tak terbaring jasad yang mereka kenang. Jasad mereka tetap dikubur di pemakaman, tapi keluarganya menjadikan kenangan-kenangan pada pohon mapel yang menaungi “nisannya”.

Terkesan dengan temuan kecil hari itu, saya meriset cepat untuk mendapatkan pengetahuan lebih soal adat dan budaya orang Ottawa ini. Rupanya, menanam pohon saat berduka sudah lama jadi kebiasaan orang di sini. Tak hanya mengenang, menanam pohon adalah cara orang Kanada menghilangkan duka.

Literatur ilmiah menyebutnya nature-based therapy, salah satu bentuknya melalui horticulture therapy. Beberapa studi dalam “Towards Healing Ambiguous Grief with Nature-Based Expressive Arts Therapy, Embodiment, and Mindfulness: A Literature Review” menunjukkan bahwa bercocok tanam secara kolektif membuat sekelompok perempuan bisa melalui masa duka dengan lebih positif, yang berpengaruh pada kesehatan mental dan emosional mereka.

Berada di alam terbuka dan berinteraksi melalui kegiatan berkebun membantu mereka melalui masa transisi dalam menyesuaikan dengan kehilangan. Siklus hidup tumbuhan rupanya memberikan suatu metafora untuk mengontekstualkan kematian sekaligus memaknai hidup.

Beberapa studi dalam buku “Identity and the Natural Environment: The Psychological Significance of Nature” menjabarkan bagaimana masyarakat perkotaan Amerika Serikat memiliki ikatan spiritual dan emosional yang kuat dengan pohon. Pohon menghubungkan mereka dengan masa lalu, baik dalam hal memori personal maupun sejarah keluarga. Ketika suatu pohon mati atau rusak karena badai, mereka pun merasa berduka seperti layaknya kehilangan seorang anak, karena mereka juga menjadi saksi pertumbuhan hidup pohon tersebut.

Alih-alih membangun monumen batu, Dargavel (2000) dalam “More to grief than granite: Arboreal Remembrance in Australia” dan Cloke dan Pawson (2013) dalam “Memorial Trees and Treescape Memories” menunjukkan betapa besarnya nilai tambah membangun ‘monumen pohon’ karena menghasilkan sebuah treescape memories, atau lanskap pepohonan yang sarat dengan memori dan penghormatan pada masa lalu.

Di Ottawa, sejak 1989 pemerintah kota mengelola Commemorative Tree Program, yang membantu keluarga atau mereka yang ingin menanam pohon di taman publik sebagai bentuk pengingat atas orang tercinta mereka yang telah tiada. Keluarga memilih taman kota yang ingin mereka tanami pohon. Jika tidak ada preferensi, Dinas Kehutanan akan memilihkannya.

Pemilihan jenis pohon melalui diskusi dengan koordinator program yang mempertimbangkan kesesuaian lokasi dan ketersediaan bibit. Keluarga yang berduka lalu menanamnya pada musim semi atau musim gugur. Pemerintah mengenakan biaya 400 dolar Kanada atau sekitar Rp 4,5 juta untuk biaya bibit, penanaman, dan perawatan pohon secara khusus selama tiga tahun.

Pohon akan dirawat secara rutin oleh otoritas hutan kota. Pemohon juga bisa menyiapkan plakat penanda yang akan dipasang oleh otoritas kota tanpa dikenai biaya tambahan. Commemorative Tree Program ini menjadi salah satu yang berkontribusi pada pengembangan hutan kota Ottawa, yang memang menjadi prioritas utama kota ini, dengan target penanaman sebanyak 125 ribu pohon setiap tahun.

Di Granby, Provinsi Quebec, ada satu-satunya Bios Park di dunia, semacam tempat pemakaman dalam bentuk hutan buatan. Isinya pohon-pohon yang ditanam memakai abu kremasi orang yang telah meninggal. Tempat pemakaman ini diberi nama Boisé de Vie atau Wood of Life, kayu kehidupan.

Pengelola akan menyiapkan ‘kapsul benih’, yang pada sisi bawah kapsul berisikan abu kremasi, dan pada sisi satu lagi diisi oleh benih pohon, sesuai permintaan keluarga yang berduka. Keluarga yang berduka bisa ikut merawat dan menyaksikan bagaimana paduan abu kremasi dan benih tumbuh menjadi pohon di tempat tersebut.

Alih-alih melihat gundukan tanah atau nisan besar, di taman pemakaman ini hanya akan terlihat pepohonan dengan jenis dan tingkat umur yang berbeda – tentu saja dengan penanda identitas masing-masing pohon tersebut.

Pohon nisan.

Jika keluarga yang berduka ingin menanamnya di lahan pribadi, Living Urn yang berbasis di Amerika, menyediakan teknologi dan jasa untuk menyiapkan dan mengirimkan benih pohon yang dikemas secara khusus. Akar pohon itu menyatu dengan abu kremasi dan menjadi bagian pertumbuhannya.

Di Indonesia, budaya seperti ini juga ada namun belum masif. Kita biasa menanam pohon ketika ada anggota keluarga meninggal. Cara Kanada mungkin bisa ditiru, yakni memindahkan pohon ke ruang publik. Kepentingan mengenang akan bertemu dengan kebutuhan pemerintah kota akan pohon. Budaya ini juga baik bagi lingkungan.

Dengan budaya seperti itu, kita telah memaknai bahwa pohon tak hanya bermanfaat bagi mahluk hidup, juga bagi orang yang meninggal. Mereka menjadi bagian dari pohon yang memberikan hidup kepada lebih banyak orang karena pohon memproduksi oksigen yang kita butuhkan, semua mahluk hidup perlukan.

Rimbawan tinggal di Kanada

Bagikan

Komentar

Artikel Lain