Penelitian | Juli-September 2019

Pohon Terlangka di Indonesia

Pelahlar tergolong pohon terlangka di Indonesia. Ia endemik pulau Nusakambangan ini terancam punah karena penebangan dan pertumbuhannya yang lambat..

Razi Aulia Rahman

Anggota redaksi, bekerja di perusahaan konsultan kehutanan.

INDONESIA adalah salah satu negara yang memiliki hutan terluas nomor tiga di dunia dan dilintasi garis khatulistiwa. Sebagai kepulauan tropis, Indonesia memiliki kekayaan jenis flora dan fauna yang tersebar di seluruh Nusantara.

Meski begitu, menurut Haryanto, dosen Fakultas Kehutanan Insitut Pertanian Bogor dalam unjuk-bincang “Selamatkan Pohon Langka Menuju Indonesia Hijau", kekayaan jenis spesies yang dimiliki Indonesia tidak diiringi dengan kekayaan jumlah per jenisnya. Data International Union for Conservation of Nature and Natural Resources menunjukkan setidaknya terdapat 397 jenis pohon Indonesia terancam punah dan masuk dalam daftar merah.

Kekayaan dan jumlah jenis flora dan fauna Indonesia terus berkurang dari waktu ke waktu, terutama di sektor flora khususnya jenis-jenis pohon endemik Indonesia. Masalah klasik di Indonesia sendiri terus bergulir tanpa ada perhatian khusus dan penanganan serius. Pembalakan liar dan eksploitasi pohon telah mengurangi luas hutan yang berujung pada punahnya pohon-pohon endemik Indonesia.

Para pakar dan pemerhati pohon langka Indonesia yang tergabung dalam Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) telah menetapkan 12 jenis pohon langka didasarkan pada keterbatasan sebaran dan populasinya, nilai manfaat, tingkat keterancaman, dan potensi budidayanya. Keduabelas jenis pohon tersebut adalah: Pelahlar (Dipterocarpus littoralis), Lagan Bras (Dipterocarpus cinereus), Resak Banten (Vatica bantamensis), resak brebes (Vatica javanica var javanica), kapur (Dryobalanops aromatica), damar mata kucing (Shorea javanica), tengkawang pinang (Shorea pinanga), durian burung (Durio graveolens), durian daun (Durio oxleyanus), ulin (Eusideroxylon zwageri), Mersawa (Anisoptera costata), dan saninten (Castanopsis argentea).

Pelahlar adalah satu jenis yang hampir punah. Nama Latinnya Dipterocarpus littoralis Blume, keluarga keruing dengan nama lokal pelahlar, dan nama perdagangan meranti Jawa. Pohon besar asli Indonesia yang hanya tumbuh secara alami di pulau Nusakambangan ini termasuk dalam daftar merah IUCN dengan status critically endangered atau kritis.

Tidak banyak yang tahu bahwa pelahlar merupakan pohon terlangka nomor satu di Indonesia, bahkan mungkin sudah banyak orang yang tidak mengetahui rupa dan bentuknya. Selain di Nusakambang, pohon ini ada di Kebun Raya Bogor.

Ciri umum pohon anggota famili Dipterocarpaceae antara lain memiliki ukuran yang besar, berdamar, dan selalu hijau. Pada umumnya batangnya berbanir dan kulit luarnya bersisik atau beralur dan mengelupas, berdaun tunggal dengan kedudukan berselang-seling, bertepi rata atau beringgit, bertulang sirip, sering kali berdaging, dan mudah rontok. Pohon pelahlar berbatang lurus dengan diameter mencapai 150 sentimeter dan tinggi 50 meter. Batangnya berwarna coklat muda terang sampai coklat muda, berdaun oval dengan beludru merah, dan memiliki buah dengan dua sayap.

Nusakambangan yang lebih dikenal sebagai pulau penjara sering juga disebut sebagai the last rain forest in Java. Terdapat dua cagar alam di pulau seluas 121 kilometer persegi tersebut, yaitu Cagar Alam Nusakambangan Timur dan Cagar Alam Nusakambangan Barat, yang merupakan habitat bagi flora dan fauna khas hutan pegunungan dataran rendah Indonesia.

Dipterocarpus littoralis hidup di hutan campuran dataran rendah, pugunungan bukit, lereng dan pinggiran aliran air, serta pada substrat tanah bukit kapur di Nusakambangan bagian barat. Famili Dipterocarpaceae dikenal memiliki potensi ekonomi yang tinggi dan menempati urutan kedua setelah meranti dalam mendominasi hutan hujan tropis Indonesia. Dahulu, jenis Dipterocarpus littoralis jumlahnya melimpah di Nusakambangan dan sering dimanfaatkan nelayan sekitar Cilacap sebagai bahan baku bangunan dan pembuatan perahu karena kayunya yang lurus silindris dan kuat.

Pemanfaatan yang berlebihan menyebabkan keberadaannya kini diambang kepunahan. Penelitian tim Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) setempat dan Fauna Flora Internasional-Program Indonesia (FFI-IP) pada 2014 hanya menemukan 34 individu dewasa pelahlar di habitat alaminya. Jumlah yang sangat sedikit itu akan terus berkurang jika tidak ada penanganan khusus untuk memperbanyak jumlah individunya.

Terhitung sejak 2015, hanya ada 676 pohon pelahlar yang ditemukan di habitat aslinya. Sebanyak 63% individu didominasi oleh pohon muda yang memiliki kerentanan terhadap gangguan dari luar lingkungannya. Pemegang otoritas dan akademisi tidak pernah mengeluarkan data yang menyebutkan jenis pohon pelahlar terlibat dalam perdagangan secara ilegal. Eksploitasi lokal besar-besaran terhadap pohon ini plus ketiadaan upaya konservasi menjadi penyebab utama kelangkaan Dipterocarpus littoralis.

Usaha konservasi pohon pelahlar masih terhambat karena kurangnya informasi ekologi dan biologi tumbuhan ini. Pohon pelahlar bersifat endemik, berukuran populasi kecil, memiliki habitat pilihan tertentu, serta terdapat ancaman yang serius dari aktivitas manusia dan jenis invasif di habitat alaminya.

Pelahlar di Kebun Raya Bogor. Terancam punah karena pertumbuhannya yang lambat.

Selain gangguan yang tinggi, penyebab semakin terancamnya pelahlar adalah kemampuan regenerasi alaminya yang rendah. Pohon-pohon dari famili Dipterocarpaceae pada umumnya hanya berbenih sekali dalam kurun waktu 4 tahun sampai 13 tahun. Pelahlar juga memiliki benih dengan tipe rekalsitran yang berarti cepat rusak (daya hidupnya menurun) apabila diturunkan kadar airnya, sehingga hanya menyimpannya untuk beberapa minggu saja sebelum daya hidup benihnya turun menjadi 0%.

Hal ini yang menjadi kendala budidaya Dipterocarpus littoralis karena benihnya hanya bisa disimpan beberapa minggu sebelum rusak. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui teknik-teknik penyimpanan benih pelahlar yang tepat sehingga benih bisa disimpan dalam waktu lebih lama dengan laju penurunan kadar air lebih lambat.

Di habitat alami pelahlar di Pulau Nusakambangan perlu pemantauan secara rutin untuk melihat perkembangan pohon serta mengetahui kondisi dan perubahan lingkungan sekitarnya.

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada telah menciptakan alat pemantau nutrisi pohon langka yang diberi nama Litto-Sens (Littoralis Essential Soil Nutrient Sensor) yang bisa memantau hara tanah pelahlar, mengukur faktor-faktor lingkungan, seperti tingkat intensitas cahaya dan pH tanah dengan dasar pengukuran jarak jauh.

BACA: Sensor Hara Pohon Langka

Adanya alat tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan pemantauan dan pengelolaan dalam rangka konservasi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mendukung pelestarian jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dengan mengeluarkan peraturan P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2018. Salah satu jenis tumbuhan yang dilindungi adalah Dipterocarpus littoralis atau pelahlar Nusakambangan.

Pelahlar yang dikenal sebagai Meranti Jawa. Terancam punah dan langka.

Kebijakan dan perlindungan hukum saja tidak cukup jika tidak sejalan dengan peran serta masyarakat seluruh Indonesia dan pihak-pihak multi sektoral. Masyarakat harus dilibatkan dengan memberikan pemahaman dan informasi manfaat pohon ini.

Penelitian Abdul Azis (2015) pada keruing gunung (Dipterocarpus retusus) menemukan manfaat hasil hutan bukan kayu pada daun pohon ini. Bagian daun dan kulit batang keruing gunung memiliki potensi bioprospeksi sebagai antibakteri S. Aureus yang merupakan bakteri penyebab infeksi kulit atau luka. Perlu ada penelitian sejenis pada Dipterocarpus littoralis dan jenis-jenis tumbuhan yang dilindungi lainnya serta penyebaran informasi hasil penelitian kepada masyarakat agar mereka bersedia melindunginya.

Elyna Widiani menyumbang bahan untuk tulisan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain