Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 Agustus 2021

Transformasi Usaha Kecil di Masa Pandemi

Usaha kecil perlu transfromasi ke digital dan ramah lingkungan. Perlu insentif khusus?

PANDEMI covid-19 menghantam siapa saja ke arah mana saja. Usaha besar dan usaha kecil terpuruk. Meski ekonomi tumbuh 7,07%, jumlah pengangguran naik 26,26% menjadi 8,75 juta dibanding sebelum virus corona mewabah.

Dunia usaha yang terpuruk terutama sektor retail yang mengandalkan transaksi ekonomi secara konvensional. Sebab, perdagangan digital justru naik. Menurut Bank Indonesia, perdagangan digital tumbuh 48,4% hingga akhir tahun lalu dengan volume mencapai Rp 395 triliun. Masalahnya, sumbangan usaha kecil dan mikro sangat kecil, hanya 6-7%.

Karena itu usaha kecil perlu transformasi di masa pandemi. Tak hanya karena tuntutan zaman serba digital, pandemi membuat interaksi sosial menjadi terputus. Menurut Gita Syahrani dalam rilis Lingkar Temu Kabupaten Lestari pada 12 Agustus 2021, setidaknya ada empat tantangan usaha kecil dan mikro serta menengah untuk berbenah. 

Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) itu menjelaskan bahwa usaha kecil mesti transformasi ke dunia digital dengan cara (1) meningkatkan literasi digital, (2) mendapatkan dukungan infrastruktur termasuk akses Internet dan jalur logistik yang belum merata, (3) edukasi kepada konsumen, dan (4) pengembangan pasar dalam negeri.

Gita mencontohkan Koperasi Jasa Menenun Mandiri di Sintang, Kalimantan Barat, yang beralih ke digital dan bisa bertahan di masa pandemi. Awalnya, koperasi hanya menjual anyaman bambu di toko. Karena tekanan pandemi, toko menjadi sepi pengunjung dan omset menurun drastis. “Setelah beralih ke digital, omzet bertambah,” kata Gita.

Pendapatan bulanan koperasi Rp 15 juta dengan menjual 80 anyaman saat Lebaran melalui penjualan online. Pesanan juga datang lebih mudah. “Kami mengerjakannya secara berkelompok,” kata Emiliana, perajin koperasi.

Direktur koperasi Koperasi Jasa Menenenun Sugiman menambahkan bahwa koperasinya berhasil menggunakan ragam platform untuk melakukan penjualan produk mereka. Dengan beragam platform, kata dia, perajin bisa mempromosikan produk buatannya sendiri ke masyarakat yang lebih luas.

Tantangan ke depan bagi Koperasi Menenun dalam meningkatkan produk usaha mereka adalah membuat produk yang lestari dan ramah lingkungan. Produk lestari sendiri merupakan produk yang tidak berdampak negatif bagi lingkungan, mampu memastikan kesejahteraan masyarakat dan mengelola energi serta limbah dengan bertanggung jawab.

Transisi penggunaan produk tidak lestari menuju produk lestari membutuhkan tenaga gotong royong dari masyarakat bawah hingga pemerintah nasional. Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kata Gita, mengalokasikan 20% pengadaan barang dan jasanya untuk produk lokal yang lestari. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) juga mematok serapan produk lokal sebesar 40%. 

Karena itu kampanye produk buatan Indonesia, kata Gita, tak berhenti di slogan “Bangga Buatan Indonesia” tapi “bangga buatan dalam negeri yang lestari”.

Benedikta Atika, Impact Investment Lead Angle Investment Network Indonesia, lembaga investor, mengatakan potensi komoditas lestari makin menarik seiring kian tumbuhnya kesadaran penduduk Indonesia akan lingkungan.

Sebagai penghela lembaga investasi, Atika meminta pemerintah memberikan kemudahan berusaha bagi investasi ramah lingkungan. UU Cipta Kerja membuka kemudahan bisnis, termasuk bagi jenis-jenis usaha yang tak ramah lingkungan. “Perlu ada insentif khusus bagi pelaku usaha ramah lingkungan,” kata dia.

Transformasi usaha kecil juga perlu di era digital dan pandemi. Memadukan usaha ramah lingkungan dan digitalisasi adalah jalan keluar menghidupkan ekonomi Indonesia.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain